Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Idul Adha, Pisau, dan Ilmu

Idul Adha, Pisau, dan Ilmu
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh Muhyiddin

Idul Adha bukan sekedar perkara hewan qurban, daging, sate. Ada yang luput dari perghibahan tentang idul qurban, yaitu pisau sembelih atau pisau daging. Macam-macam pisau digunakan dari yang paling murah sampai paling mahal dengan peruntukan khusus sesuai penggunaannya, apakah untuk menyembelih, untuk nyisit, untuk memotong daging dan memotong tulang.

Apakah pisau mahal semacam Krischef atau Victorinox yang paling mumpuni? Banyak orang akan bilang iya, bahwa makin mahal pisau, makin tajam dan mudah digunakan, makin mempercepat waktu pemotongan dan pemrosesan hewan qurban.

Tapi percayalah, bukan merk dan harga yang menentukan bagus atau tajam tidaknya pisau potong. Ketajaman dan efektifitas sebuah pisau lebih ditentukan oleh bagaimana sebuah pisau diperlakukan: bagaimana ia dirawat dan diasah.

Judul alat asah juga macam-macam dari yang paling murah sampai yang mahal seperti Tanica, Edelmann, Ikea, atau Victorinox. Tapi sekali lagi bukan harga alat asah yang menentukan kualitas asahan, tetapi kecakapan mengasahnya yang menentukan kualitas hasil asahan.

Itulah mengapa para jagal, para tukang nyisit, selalu membawa pisaunya sendiri yang memang khusus untuk digunakan memotong hewan, nyisit, memotong daging dan tulang. Seringkali pisau yang dibawa sendiri berjudul biasa saja. Tetapi karena mereka mampu merawat dan mengasahnya dengan tepat, kualitas pisaunya terjaga.

Demikian juga dengan ilmu. Ilmu bisa didapat dengan cara apa saja dari sekolah yang paling murah sampai sekolah paling mahal, dari buku dan kitab paling tipis sampai buku dan kitab tebal berjilid-jilid, bahkan dari internet. Tetapi  kualitas keilmuan seseorang tidak selalu berhubungan dengan jenis sekolah atau ketebalan buku yang dibaca.

Kualitas keilmuan ditentukan oleh sejauh mana ilmu yang didapat dikuasai, diasah, dan dirawat. Ilmu bisa hilang begitu saja tak berbekas meski sudah sekolah bertahun-tahun atau mesantren lama hanya karena tidak diasah dan diendapkan.

Seperti pisau yang harus diasah, ilmu juga harus diasah. Pisau butuh pengasah yang ahli, pun demikian dengan ilmu membutuhkan guru. Pisau harus diuji, demikian juga ilmu harus diuji melalui perdebatan. 

Untuk mendapatkan ilmu yang berkualitas, la budda, harus bisa memilah sumber yang bagus, memilih guru yang tepat, dan memilih ruang serta rekan-rekan berdebat yang sehat. Perdebatan yang sehat akan memunculkan pengetahuan baru dan sebaliknya perdebatan yang buruk hanya akan berakhir pada debat kusir, pada sakit hati karena serangan pribadi, argumentatio ad hominem, kata ilmu logika.

Jika bingung akan buku atau kitab yang bagus, ragu dengan siapa berdebat, kembalilah pada guru. Guru yang tepat akan membimbing pada bacaan yang tepat, pada ruang perdebatan yang menyehatkan. Seorang guru juga yang pada akhirnya akan menentukan kesiapan ilmu apakah masih harus ditempa atau sudah bisa dipakai. Itulah yang dilakukan para guru, kiai, ajengan yang memerintahkan murid, santri untuk pergi ke satu tujuan ketika ilmunya sudah dirasa kuat.

Seperti pisau yang harus disimpan dan disarungkan dengan baik dan benar, ilmu juga butuh diendapkan. Proses pengendapan adalah bentuk kerendah-hatian sekaligus proses memastikan apa yang sudah kita baca, kita pelajari, kita perdebatkan benar-benar napeul. Pengendapan, epoche kata fenomenolog Edmund Husserl, adalah sebentuk swa-kritik bahwa banyak hal belum kita kuasai meski banyak hal sudah kita kuasai, bahwa orang lain punya kebenaran, kita juga punya kebenaran dan sebaliknya kesalahan.

Itulah seninya pisau dan ilmu. Keduanya tidak bisa sembarang diperlakukan. Tak peduli seberapa mahal pisau, kalau tak diasah, dirawat, dan diuji akan tumpul dan bahkan berkarat. Tak peduli seberapa mahal sekolahmu, seberapa tebal lembar-lembar bacaanmu, hanya kebekuan, ketumpulan dan akhirnya bisa jadi karat peradaban jika tidak mendapatkan guru yang tepat, tidak mendapatkan teman berdebat yang mencerdaskan, tidak punya kemauan melakukan pengendapan dan swa kritik. Apalagi cuma mengandalkan Google dan media sosial…

Penulis adalah Dewan Redaksi NU Online Jabar

Terkait

Risalah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×