Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ki Sanusi, Sesepuh NU Desa Sendang, Berdakwah dengan Metode Silaturahim

Ki Sanusi, Sesepuh NU Desa Sendang, Berdakwah dengan Metode Silaturahim
Ki Sanusi, Sesepuh NU Desa Sendang yang Berdakwah dengan Metode Silaturahim. (Foto: NUJO Indramayu).
Ki Sanusi, Sesepuh NU Desa Sendang yang Berdakwah dengan Metode Silaturahim. (Foto: NUJO Indramayu).

Indramayu, NU Online Jabar
Ki Sanusi adalah salah satu sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Desa Sendang, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu yang masih hidup hingga saat ini. Ia lahir pada 12 Januari 1939 Masehi atau 21 Dzulqa'dah 1357 Hijriah dari pasangan Ki Ahmad dan Nyi Fatimah. Secara garis keturunan, Ki Sanusi merupakan cucu dari Mbah Buyut Na'im Desa Sendang. 


Menurut kisah hidupnya, ia telah ditinggal wafat ibu dan bapaknya pada usia saat menginjak belasan tahun. Oleh karena itu, ia pun diasuh kakeknya, Kiai Walim, bersama ketiga adiknya yaitu Munah, Idris, dan Hadi. 


Riwayat Pendidikan 


Ki Sanusi mengenyam pendidikan pertama kali dari bapaknya. Pendidikan yang diajarkan adalah pendidikan agama. Bagi keluarga Ki Ahmad, pendidikan agama yang kuat adalah salah satu kunci untuk menghadapi segala persoalan di dunia. 


Sanusi kecil juga mendapatkan pendidikan madrasah, di desa tempat tinggalnya untuk menimba ilmu agama. Ia juga mendapat bimbingan langsung dari Ki Walim, kakeknya ketika mengaji di Mushala Nurun Na'im (sekarang bernama Mushala Al-Fadhlu). 


Di tempat itu, ia mempelajari Al-Qur'an, Hadits, dan kitab-kitab klasik ulama terdahulu. Selain itu, Kiai Walim juga menurunkan padanya ilmu seni pencak silat. 


Sosok Sangat Menghormati Habaib 


Ki Sanusi sangat akrab dan dekat dengan para habaib di kawasan kabupaten Indramayu. Ia sering mendatangi rumah-rumah dan majelis taklim mereka. Bahkan beberapa habaib sangat dekat dengan Ki Sanusi dan menjadi sahabatnya. Di antaranya yaitu Habib Muhammad bin Yahya (Indramayu), Habib Toha bin Yahya (Cirebon), Habib Qodir Al-Hinduan (Kaplongan), dan Habib Kholis bin Ali Ba'bud (Indramayu). 


Bukti penghormatannya dengan para habaib adalah ketika ada salah satu habib yang datang ke rumah Ki Sanusi, ia menyambutnya dengan pelukan dan linangan air mata. Pasalnya ketika Ki Sanusi berjumpa dengan habaib, semakin bertambah rasa rindunya kepada Nabi Muhammad SAW. 


Ia juga selalu meminta doa kepada para habaib. Karena bagi Ki Sanusi, mereka adalah para keturunan Rasulullah SAW. yang pasti disayangi oleh datuknya. 


Meneruskan Tauladan Kakeknya 


Di usia yang ke-40 tahun, ia memilih jalan sebagai penggerak jamaah secara total di Mushala Nurun Na'im. Setiap waktu ia selalu ada di mushala sebagai pengurus dan penerus kakeknya. 


Perlu diketahui bahwa mushala ini adalah salah satu tempat ibadah tertua di Desa Sendang. Sebelum ada masjid di Desa Sendang, mushala itu dijadikan tempat Shalat Jumat, Shalat Idul Fitri, dan Idul Adha. Hal itu ia lakukan karena sudah tidak ada lagi anak cucu Kiai Walim yang menjadi gantinya, mereka telah meninggal dunia. Oleh sebab itu, ia tergerak meneruskan jejak sang kakek. 


Ki Sanusi atau sering disapa Tatang oleh masyarakat dikabarkan giat silaturrahim. Hal itu ia lakukan untuk menarik orang-orang ke mushala untuk ikut berjemaah shalat fardhu dan mengaji. 


Ia sering bersilaturahim ke rumah masyarakat baik kepada mereka yang berprofesi sebagai petani, nelayan, tukang becak, pedagang, dan lain-lainnya. Sering juga ia datangi tempat-tempat perkumpulan pemuda dan orang tua. Tentu, maksudnya adalah untuk menarik hati mereka untuk datang ke shalat untuk berjemaah shalat fardhu. 


Tauladan kakek yang ia jalani selanjutnya yaitu sebagai ketua sebuah padepokan pencak silat di Desa Sendang. Ia merasa punya tanggung jawab moral sebagai cucu Kiai Walim karena semenjak kecil ia dididik oleh sang kakek dengan sepenuh hati, terlebih ketika ia ditinggal oleh ibu dan bapaknya. 


Kiai Walim selalu membawa Sanusi kecil ketika ada acara silaturrahim di padepokan lain. Yang paling diingat adalah ketika ia diajak sang kakek ke salah satu padepokan pencak silat di Sumenep, Madura. 


Salah satu jurus pencak silat yang ditularkan kepadanya yaitu disebut Depok. Jurus ini mampu mengalahkan salah satu petarung dari China yang dikalahkan oleh Ki Ahmad yang tidak lain adalah ayah Ki Sanusi saat mengadakan pertarungan bela diri di Sumenep, Madura.


Pewarta: Moh. Taufiq
Editor: Ari AJ

Terkait

Profil Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×