Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

NU, Tantangan Kedepan dan Peran Strategis

NU, Tantangan Kedepan dan Peran Strategis
NU, Tantangan Kedepan dan Peran Strategis. (Ilustrasi: NUO).
NU, Tantangan Kedepan dan Peran Strategis. (Ilustrasi: NUO).

Oleh: Fahmi Muhammad
Presiden Jokowi dalam sambutannya pada Muktamar NU Ke-34 di Lampung menyampaikan beberapa poin penting tentang peran NU yang sudah dilakukan dalam membantu program-program pemerintah dan tantangan NU kedepan, ada satu poin penting yang menarik menurut saya yaitu soal perkembangan teknologi digital yang akan dihadapi bersama. Jokowi menceritakan  momen ketika dirinya berkunjung ke Amerika ketika beliau diajak bermain pingpong atau tenis meja oleh Mark Zuckerberg menggunakan teknologi virtual reality (VR) Oculus Rift,  beliau cukup kaget karena ini seperti asli sekali, tak tok tak tok, bahkan saya berkeringat juga, ujar  Pak Presiden. Seusai pertandingan pingpong tersebut Pak Jokowi dibisiki oleh Mark Zuckerberg, kata Mark, Pak Jokowi ini baru awal. Suatu saat segala sesuatu akan virtual, semuanya akan muncul yang namanya metaverse, restoran virtual, kantor virtual, wisata virtual, mall virtual.

 

Jokowi berpesan agar kita hati-hati mensikapi semua ini, apalagi di Muktamar NU Ke-34 kemarin tema besarnya adalah “Berkhidmat Untuk Peradaban Dunia”, dimana NU mempunyai tugas yang berat untuk berdaptasi dengan perkembangan era digital namun tetap merumput yaitu tetap ngemong masyarakat pedesaan dengan kata lain NU tetap locally rooted globally respected, berikut adalah tantangan yang harus dihadapi oleh NU. 

 

Tantangan Kedepan
Berdasarkan data yang dirilis oleh hootsuite dan We Are Social, dari 274,9 juta terdapat 345,3 juta pengguna telepon genggam atau sekitar 125,6 % dari jumlah populasi di Indonesia. Kemudian terdapat 202,6 juta pengguna internet 73,7 % dari jumlah populasi, dan pengguna media sosial aktif sekitar 170 juta atau 61,8 % dari populasi masyarakat Indonesia. Data diatas menunjukan bahwa ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap telepon genggam dan internet cukup tinggi mereka dapat menghabiskan waktu hingga 8 jam 52 menit perhari (hootsuite, 2021), kondisi ini mungkin yang biasa kita sebut sebagai era digital. Dalam era ini pula kehidupan kian global, setiap orang dapat memahami bahwa ruang-ruang kompetisi semakin terbuka lebar. Terkoneksinya satu orang dengan yang lainnya saat ini menjadi penegasan bahwa masing-masing orang dituntut memberikan performa terbaiknya agar tidak mengalami ketertinggalan dan mampu bergerak bersama-sama. Perkembangan teknologi memang seperti tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan seseorang, saat ini seakan-akan media “memaksa” kita untuk menggunakannya demi kelangsungan hidup.

 

Kondisi diatas merupakan tantangan serius bagi NU. Sebagai Organisasi Kemasyarakatan yang selama ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat dari wilayah pedesaan, dimana NU yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai kaum sarungan  yang juga sebagai identitas islam di Nusantara tentunya. Tidak hanya disitu peran NU sebenarnya sangatlah luas dan sudah teruji di tingkatan lokal maupun global bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Untuk itu apakah di era digital ini NU akan mampu mengambil peran kembali sebagai penyangga keutuhan bangsa dengan kondisi dunia yang kian maju. Terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi oleh NU dalam menghadapi era digital ini diataranya. Pertama kultur masyarakat akan berubah, berkembangnya era digital jelas akan mengubah prilaku masyarakat, tidak hanya beberapa tahun kedepan, hari ini pun dapat kita rasakan dampaknya, contoh soal silatrurahim, dulu masyarakat ketika momen lebaran akan keliling rumah sanak saudara dan tetangga untuk bersilaturahim, silaturahim ini merupakan contoh kecil dari beberapa perubahan besar soal kultur masyarakat yang kedepannya akan berdampak pada pola dakwah NU kedepan.

 

Kedua, mengancam keutuhan bangsa, di berbagai belahan dunia lainnya media digital sebagai sarana untuk memprovokasi masa bahkan menggulingkan pemerintahan yang sah yang dianggap tidak adil, kekuatan masa dapat terbangun dengan hebat dan  cepat hanya oleh sentuhan jari. Di Indonesia pula dapat kita rasakan hari ini bagaimana teknologi digital sangat dahsyat peranannya tergantung siapa yang menggunakannya. Dapat kita lihat dalam momen pilkada, pileg, maupun pilpres dimana media digital memainkan peran yang sangat berbahaya, terjadinya saling menjelakan antar kubu, fitnah, bahkan sampai isu SARA, untuk itu NU sebagai organisasi islam yang memegang teguh prinsip moderat atau Tawassuth hendaknya mengambil peranan penting dalam dunia digital agar tensi media digital khususnya media sosial dapat digunakan dengan rendah dan bijaksana, jangan sampai media digital dikuasai oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kekacauan yang terjadi pada bangsa ini.

 

Ketiga, menyiapkan generasi emas, kita tahu pada tahun 2035 Indonesia mendapatkan bonus demografi. Bonus demografi merupakan suatu keadaan di mana penduduk yang masuk ke dalam usia produktif jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif, usia produktif yang dimaksud adalah orang dengan usia antara 15 hingga 64 tahun. Bonus demografi dianggap hanya terjadi satu kali di setiap negara, untuk itu sudah sepantasnya kondisi ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. terbukti di beberapa negara telah berhasil memanfaatkan bonus demografi dengan maksimal seperti Malaysia, Korea Selatan, Jepang, dan masih banyak negara lainnya.

 

Salah satu manfaat yang diberikan oleh bonus demografi adalah bisa mengubah tingkat perekonomian di sebuah negara, dari negara berkembang menjadi negara maju. Salah satu kuncinya adalah mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang unggul yaitu diantaranya mempersiapkan generasi yang menguasai teknologi. Mempersiapkan SDM unggul memang bukan hanya tanggung jawab NU semata atau segelintir orang, akan tetapi NU harus menjadi bagian dari proses ini, agar kelak kemudian SDM yang dipersiapkan bisa menjadi penerus NU, disamping cakap secara teknologi digital, mereka juga dapat membawa semangat para ulama NU sebagai penopang keutuhan bangsa. Tentu teknologi digital juga tidak hanya berdampak secara negatif, namun banyak juga dampak positif yang bisa diambil seperti tujuan diciptakannya teknologi yaitu hakikatnya adalah untuk memudahkan kerja-kerja manusia. Gambaran diatas merupakan sebagian tantangan bagi kita semua untuk lebih bijak saja dalam menggunakan teknologi digital.
.
 

Peran Strategis 
NU merupakan organisasi terbesar di Indonesia bahkan dunia, Jika saat ini total penduduk Indonesia kurang lebih 250 juta penduduk dengan jumlah penduduk muslim berkisar 87%, kemudian presentase warga NU 49,5% atau kurang lebih 108 juta orang (LSI Denny JA, 2019), maka hampir setengah dari penduduk Indonesia adalah warga NU. Warga NU tersebar dimana mana dari mulai kelas perkotaan hingga pedesaan, secara bergining politik warga NU juga banyak yang menjadi pejabat publik dan pengusaha besar di Jakarta maupun di daerah-daerah. Dengan melihat jumlah masa NU yang begitu besar, menunjukan bahwa NU mempunyai kekuatan besar dan mempunyai peran strategis untuk mengarahkan arus penggunaan teknologi yang begitu cepat kearah yang lebih baik. Disamping itu NU juga mempunyai banyak lembaga badan otonom  yang dapat digerakan untuk menjalankan literasi digital, katakanlah seperti Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), sebagai wadah aktualisasi guru-guru NU yang mempunyai tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa, demi terciptanya generasi yang unggul, Pergunu bisa memainkan peranannya dengan bekerja sama dengan lembaga lembaga pemerintah seperti dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan lembaga-lembaga lainnya.

 

Selain itu peran kiai-kiai NU juga sangat penting untuk mengarahkan generasi mendatang menjadi generasi yang paham dan bijak terhadap teknologi digital namun juga tetap mempertahankan tradisi lama yang baik, seperti adagium orang NU selama ini yaitu al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik, ya pinter ngaji ya cakap teknologi digital juga, keren bukan. Peran penting kiai sebagai sosok kharismatik cenderung menyebabkan santri atau masyarakat memiliki sikap tunduk dan tidak mau membantah apa yang dilakukan kiai. Santri menerima kepemimpinan kiai karena percaya pada konsep barokah, bahkan ini diyakini menjadi dasar bagi kesuksesan seorang santri nantinya. Untuk itu apapun yang diajarkan oleh kiai mesti kudu dijalankan oleh seorang santri atau masyarakat, dalam hal ini kiai bisa memberikan nasihat atau pengarahan agar santri memahani teknologi digital dan menggunakannya dengan bijak, harapannya kedepan di pesantren-pesantren literasi digital menjadi salah satu kurikulum wajib santri.  Namun tentunya dengan tetap membumikan nilai-nilai Aswaja seperti at-tawassuth (sikap tengah-tengah atau moderat), at-tawazun (seimbang), al-i'tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleransi).

 

Peran strategis ini tentu harus dimainkan dengan sebaik mungkin. NU harus menjadi bagian penting dari perkembangan peradaban dunia seperti yang sudah dilakukan oleh para muassis NU dan para kiai-kiai terdahulu, hanya saja mungkin jalan perjuangannya saja yang berbeda. Sekarang kita harus lebih adaptif dengan berbagai persoalan, lebih inovatif, dan lebih kolaboratif. Jika NU dapat mengambil peran ini, kedepan bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar menjadi negeri baldatun thayyibatun wa robbun ghofur. 


Penulis merupakan salah seorang kader Ansor Kabupaten Pangandaran.

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×