• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 23 Mei 2024

Opini

Filosofi Bangunan Pendopo

Filosofi Bangunan Pendopo
Filosofi Bangunan Pendopo
Filosofi Bangunan Pendopo

Jika kita singgah di kota tua tingkat kecamatan atau kabupaten, kita akan melihat bangunan tegak, bernuansa tradisional, berdiri tepat berada di depan rumah dinas pejabat (bupati atau camat)-dengan catatan wilayah kecamatan/kabupatennya bukan hasil dari pemekaran. Bangunan yang dimaksud adalah pendopo. 


Pendopo merupakan bangunan khas yang ada di pusat ibu kota, kota tua khususnya kota-kota di wilayah Sunda dan Jawa, meskipun kadangkala bangunan mirip pendopo juga sering ditemukan di tempat hunian warga yang memiliki kepedulian lebih terhadap indahnya (estetika) bangunan yang bersifat tradisional. Bangunan pendopo-yang saya maksud adalah pendopo yang ada pusat ibu kota kota tua-ini biasa digunakan untuk menggelar berbagai kegiatan kedinasan atau bukan kedinasan. 


Bangunan pendopo biasanya berbentuk segi empat, tidak memiliki pintu masuk. Sisi-sisi bangunannya dibiarkan terbuka. Kalaupun ada pendopo yang sisi-sisi bangunannya di desain tertutup dengan berupa dinding atau jendela-jendala berkaca, namun pintu masuknya pasti di buat dari empat arah, depan-belakang dan samping kiri-kanan. 


Dilihat dari bentuk atapnya, atap bangunan pendopo berasal dari empat arah juga: timur-barat-utara-selatan. Sementara, sudut bangunannya juga berasal dari empat arah: timur laut-barat daya-tenggara-barat laut. 


Tak cukup sampai di situ, empat garis atap dari empat sudut yang membangun pendopo dibuat ganda (dua tingkat ke atas) sehingga garis dan sudutnya berjumlah delapan. Namun, yang lebih unik temu sudut dari delapan garis tidak dibuat akhir dengan satu titik, melainkan dibuat satu garis lagi sehingga jumlah keseluruhan garis berjumlah sembilan. Alhasil, tidak ada titik sudut yang menjadi akhir. Semua titik sudut dan garis bangunan, satu sama lain saling berkesinambungan. 


Lalu apa makna bangunan pendopo itu desain sedemikian rupa? Dan apa makna dibalik itu semua. 


Bangunan pendopo yang ada sekarang, baik di Sunda apalagi di Jawa merupakan pengejewantahan estetika primordial papat kiblat kalimo pancernya orang Jawa. 


Dalam papat kiblat kalimo pancer, ruang alam semesta semesta dibagi menjadi empat -atau kelipatannya-sudut/arah dengan satu pusatnya (pancer) di tengah-tengah (4+1): timur-barat-(tengah)-utara-selatan. Jika ganda, maka arah ruangnya menjadi 8+1: timur-barat-utara-selatan (tengah)-timur laut-barat daya-tenggara-barat laut. Dengan demikian, dari kelipatan 4+1, menjadi 8+1, 16+1, 32+1, dst.  Inilah kiranya, bilangan  5, 9, 17 menjadi angka sakral bagi masyarakat Indonesia. 


Kembali ke pendopo, bangunan pendopo yang terbuka bebas tanpa sekat (atau tertutup dengan empat arah pintu) juga bermakna manunggalnya (menyatunya) antara kawula (abdi) dengan gusti (raja/wakil Tuhan di bumi). Menurut orang Jawa, sultan atau raja merupakan pengejewantahan wakil (khalifah) Tuhan di bumi.  Di pendopo ini, masyarakat dari berbagai identitas menyatu dengan gustinya (dalam artian khalifah). Oleh karena itu dalam waktu-waktu tertentu, biasanya dalam ritual sakral, masyarakat (abdi) menyambut gustinya (raja) yang datang keluar dari tempatnya (istana). Di tempat inilah, di pendopo ada saatnya abdi menyatu dengan rajanya. 


Menyatunya abdi dan raja merupakan aktualisasi dari gerak menyatu (memusat) dan menyebar. Artinya, dalam gerak memusat, yang imanen menuju pusat, yang transenden. Inilah jalan ke atas, manunggaling kawulo dengan Gusti-nya. Situasi seperti ini kalau dalam zaman Hindu-Budha disebut pradaksina, memutar searah jarum jam. Namun, jika diadaptasikan dalam Islam disebut tawaf memutar, namun berkebalikan dengan arah jarum jam. Gerak menyatu ini menghasilkan daya-daya energi (transenden).


Sementara gerak menyebar artinya yang transenden menyebar mengaliri atau menjadi pasangan-pasangan antagonistik imanen. Ini artinya 'dari Atas ke bawah', Gusti manunggal dengan kawulo (abdinya). Arah gerak menyebar itu mengirikan pusat atau berkebalikan dengan arah jarum jam (berarti tawaf dalam Islam). 


Sementara dalam kacamata sejarah, keberadaan pendopo yang ada saat ini (di Sunda), itu artinya jejak-jejak kerajaan Jawa (dalam hal ini Majapahit) telah menyebar ke Sunda. Apa buktinya? Keberadaan pendopo yang ada di kota tua di Sunda ditambah dengan penempatan khas pola lembaga-lembaga pemerintahan yang mengitari alun-alun (termasuk di dalamnya ada pendopo) menjadi bukti kuat adanya bentuk pola tata ruang kota Majapahit yang kemudian diteruskan oleh kerajaan Islam Demak. 


Misalnya, setiap masjid jami’ (masjid agung) terletak di sebelah barat, pendopo dan kantor camat/bupati di sebelah selatan, lembaga hukum (kantor kepolisian/rutan/penjara) di sebelah timur. Meskipun letak tiap lembaga yang dimaksud kadangkala setiap tempat berbeda arah lokasi, namun yang paling baku adalah bangunan masjid jami’ berada di sebelah barat dan alun-alun sebagai pusat kota berada di tengah-tengah lembaga-lembaga yang ada. Perancang  arsitek tata kota sebagaimana disebutkan di atas tiada lain adalah Kanjeng Sunan Kalijaga (Raden Sahid Wilatikta), anggota wali sembilan sebagai penyebar agama Islam di Jawa sekaligus penasihat dan penjaga spiritual kerajaan Demak pimpinan Raden Patah (Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar 1). 


Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut


Opini Terbaru