Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Adzan Itu Panggilan Shalat

Adzan Itu Panggilan Shalat
(Ilustrasoi: NUO).
(Ilustrasoi: NUO).

Ada catatan menarik dalam Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, seorang ulama besar sekaligus sejarawan pada abad ketiga hijriyah. Karyanya ini menjadi referensi lengkap tentang kehidupan baginda Nabi Muhammad SAW yang menjadi rujukan karena dianggap memiliki sumber yang valid dan terpercaya. Sirah Nabawiyah dengan detail menguraikan jejak perjalanan Rasulullah dari sebelum kelahiran, masa kecil, masa muda, pernikahan dan saat-saat masa kenabian. Termasuk menggambarkan sisi kehidupan Baginda Nabi dari berbagai aspek.


Catatan menariknya, pada Sirah Nabawiyah ini juga dipaparkan tentang sejarah munculnya adzan. Diceritakan oleh seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid, pada saat itu, Baginda Nabi Muhammad SAW tengah mencari cara untuk memberitahukan datangnya waktu sholat. Namun saat itu, Nabi belum menemukan caranya. Pada saat masa-masa awal di Madinah, orang-orang hanya berkumpul di masjid untuk menunggu datangnya waktu sholat. Namun saat waktu sholat tiba, tidak ada satu pun yang memberitahu. Langsung saja melaksanakan sholat. Penandanya hanya jika yang satu sholat, maka yang lainnya juga sholat.


Seiring berjalannya waktu, ada banyak sahabat yang rumahnya jauh dari masjid. Di sisi lain juga mereka disibukkan dengan aktifitasnya masing-masing. Kondisi ini membuat tidak semua sahabat bisa menunggu datangnya waktu sholat di masjid. Atas pertimbangan itu, lantas para sahabat usul kepada Baginda Nabi agar membuat penanda datangnya waktu sholat. Tujuannya agar para sahabat yang rumahnya jauh dan tengah sibuk dengan pekerjaannya bisa tetap datang ke masjid tepat waktu untuk melaksanakan sholat. 


Usulan itu lantas diterima oleh Baginda Nabi. Usul dari para sahabat ini juga beragam. Ada yang usul penanda waktu sholat dengan menggunakan terompet sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Ada juga yang usul ditandai dengan bunyi lonceng sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani. Bahkan ada juga yang usul menyalakan api di tempat yang tinggi agar para sahabat yang rumahnya jauh bisa melihat api diketinggian sebagai tanda datangnya waktu sholat.


Beragam usul yang disampaikan itu belum ada yang dirasa pas dan cocok untuk dijadikan penanda waktu sholat. Sampai akhirnya di tengah kebuntuan itu, seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Zaid datang menemui Baginda Nabi. Ia menceritakan bahwa dirinya baru saja bermimpi melihat seruan adzan pada malam sebelumnya. Dalam mimpi tersebut, Abdullah bin Zaid didatangi seorang berjubah hijau yang sedang membawa lonceng. Semula Abdullah bin Zaid berniat membeli lonceng yang dibawa orang berjubah hijau tersebut untuk memanggil orang-orang kepada shalat. Namun orang tersebut menyarankan kepada Abdullah bin Zaid untuk mengucapkan serangkaian kalimat, sebagai penanda waktu shalat telah datang. 


Serangkaian kalimat adzan yang dimaksud adalah,


Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah, 
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya 'alash sholah hayya 'alash sholah
Hayya 'alal falah hayya 'alal falah
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah. 


Nabi Muhammad kemudian meminta Abdullah untuk mengajari Bilal bin Rabbah bagaimana cara melafalkan kalimat-kalimat tersebut. Pada saat Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan, Umar bin Khattab yang tengah berada di rumahnya mendengar. Ia segera menghadap Nabi Muhammad dan menceritakan bahwa dirinya juga bermimpi tentang hal yang sama dengan Abdullah bin Zaid. Yakni adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat. 


Dalam satu riwayat, Nabi Muhammad juga disebutkan telah mendapatkan wahyu tentang adzan. Oleh karena itu, beliau membenarkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Zaid tersebut. Sejak saat itu, adzan telah resmi sebagai penanda masuknya waktu shalat. Menurut pendapat yang lebih sahih, adzan pertama kali disyariatkan di Kota Madinah pada tahun pertama Hijriyah. Bilal bin Rabbah termasuk muadzin pertama dalam Islam.


Setidaknya ada empat alasan mengapa Bilal dipilih Nabi menjadi muadzin, yaitu suaranya yang lantang dan merdu, menghayati kalimat-kalimat adzan, berdisiplin tinggi, dan berani. 


Secara bahasa, definisi Adzan berarti seruan atau pemberitahuan. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adzan berasal dari kata adzina yang berarti “mendengar, melihat dan menginformasikan tentang.” Adzan berarti panggilan atau pemberitahuan kepada banyak orang sebagai tanda masuknya waktu sholat fardu atau sholat wajib lima waktu. Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib dan Isya. 


Dari dua literatur di atas (sejarah dan bahasa), keduanya menunjukkan bukti bahwa adzan itu kaitannya dengan penanda waktu sholat. Sebuah upaya historis peradaban yang disepakati sebagai tanda masuknya waktu sholat fardu yang lafal dan mekanismenya disepakati berdasarkan ijtihad para sahabat dan Baginda Nabi Muhammad SAW.


Imam Mudofar, Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Queen Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur, Kasatkorcab Banser Kabupaten Tasikmalaya

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×