• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Ngalogat

KOLOM NADIRSYAH HOSEN

Wa Ma Adrakamal Hubb?

Wa Ma Adrakamal Hubb?
(Ilsutrasi: NU Online).
(Ilsutrasi: NU Online).

Bayangkan untuk sejenak momen ini. Dalam sebuah pasar yang ramai, ada seorang anak muda yang hendak membacakan pesan cinta dari kekasihnya. 


الْقَارِعَةُ


“Hari Kiamat”


Pemuda itu menyeru dengan lantang. Mereka yang lalu lalang di pasar berhenti sejenak memperhatikan anak muda itu.


 مَا الْقَارِعَةُ


“Apakah hari Kiamat itu?”


Yang semula hanya memperhatikan, sekarang mulai berjalan mendekati anak muda. Orang-orang mulai penasaran: “ini apa sih. Dia sendiri yang berseru, lantas dia pula yang mengajukan pertanyaan!”


Anak muda itu membacakan bait berikutnya:


وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ


“Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?”


Semua orang sekarang berkerumun di sekeliling anak muda itu. Retorika yang begitu dahsyat. Mengulang-ulang sebuah kata kunci dengan pertanyaan yang menohok rasa penasaran mereka.


Barulah bait berikutnya dibacakan setelah semua hening menunggu.


يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ . وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ


“Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan“


Orang-orang di pasar itu tak sadar menjatuhkan semua belanjaan mereka. Ada yang lansung terduduk kaget membayangkan peristiwa dahsyat yang digambarkan anak muda itu. Mereka menanti tak sabaran akan bait berikutnya.


Nah, kawan, dengan imajinasi visual seperti itu, bisa dibayangkan bagaimana hebohnya dulu saat Rasulullah membacakan “bait-bait” suci dari langit. Mengundang perhatian dan selera masyarakat yang mencintai sastra. Pilihan diksinya begitu memesona. Mereka bisa lebih mengapresiasinya ketimbang kita yang sekarang membaca lembaran mushaf tanpa memvisualisasikannya dalam imajinasi kita dan tanpa memahami keindahan sastranya.


Baik, sekarang coba lakukan ini. Berdirilah di tengah pasar. Dan bacakan bait-bait ini:


الحب


“cinta”


ما الحب


“Apakah itu cinta?”


‎ وما أدراك ما الحب


“Tahukah kamu apa itu cinta”


Saya jamin bakal ada yang bilang: “Ribet amat sih, mau ngomong cinta! Mbulet gak karuan gini”


Cinta kita memang gak sederhana, sayang. Bagiku, cinta penuh dengan narasi. Bagimu, cinta bikin banyak asumsi.


KH Nadirsyah Hosen,  salah seorang Dosen Senior Monash Law School


Ngalogat Terbaru