• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Opini

Proporsional Dalam Berdalil

Proporsional Dalam Berdalil
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Jadi ingat ceramah dari almarhum KH Zaenudin MZ puluhan tahun silam, banyak orang yang salah menggunakan dalil. Sebagai contoh, dalil tentang birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua yang seharusnya menjadi pegangan seorang anak, justru dipakai oleh orang tua untuk "menekan" anak-anaknya . Sebaliknya anak-anaknya malah menggunakan dalil tentang pentingnya perhatian dan besarnya tanggung jawab orang tua kepada mereka.


Ada juga dalil tentang besarnya pahala orang yang rajin bersedekah yang seharusnya dipegang oleh orang kaya, eh malah dipakai alat oleh orang miskin agar dia mendapatkan sedekahnya. Begitu juga sebaliknya si kaya malah menggunakan dalil;


ولا تكونوا كلا على الناس


" jangan kau jadi beban untuk orang lain"


untuk menakuti si miskin.


Demikian pula seorang kiai hampir setiap amanat di depan santrinya bercerita tentang pentingnya ta'dzim santri kepada gurunya, malah ditambah kalau tidak ta'dzim pasti akan kualat. Eh santrinya juga sama malah bercerita tentang kewajiban guru kepada muridnya.


Ada lagi dalil tentang pentingnya rakyat harus taat kepada pemerintah dijadikan kunci oleh para pejabat untuk menjadi andalan mereka dalam setiap sambutannya. Sementara rakyat malah megang dalil:


كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته


yakni tentang pertanggungjawaban yang harus dipikul oleh orang yang memiliki jabatan di akhirat kelak, yang seharusnya dalil ini menjadi pegangan para pejabat.


Yang paling populer saat ini, seharusnya dalil tentang pentingnya hormat kepada dzurriyah Rasulullah SAW dipegang oleh orang biasa (yang bukan keturunan) eh malah sering dibacakan dengan faseh dan lantang oleh para dzurriyah dengan dibumbui oleh ancaman bagi mereka yang tidak mau hormat.


Celakanya lagi orang biasa juga malah memakai dalil tentang kesamaan derajat antara satu suku dengan suku lainnya, antara orang biasa dengan dzurriyah, karena yang menjadi kriteria "penilaian " dari Allah adalah ketakwaannya, bukan keturunannya. Padahal harusnya dalil ini dipegang para dzurriyah dan orang biasa memegang dalil tentang ta'dzim kepada dzurriyah Rasulullah, jadi pas seimbang.


Mari kita bersikap proporsional dalam menggunakan dalil, agar semuanya berjalan sesuai anjuran Allah dan Rasul-Nya.


Wallahu yahdina ila sabilil haq.


KH Ahmad Ruhyat Hasby (Kang Uyan), Pengasuh Pondok Pesantren Attarbiyah Karawang


Opini Terbaru