Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kisah Kreatifitas di Pesantren-Inspirasi Belajar

Kisah Kreatifitas di Pesantren-Inspirasi Belajar
Kisah Kreatifitas di Pesantren-Inspirasi Belajar (Ilustrasi: NU Online)
Kisah Kreatifitas di Pesantren-Inspirasi Belajar (Ilustrasi: NU Online)

tepat pada tanggal 28 Juni 2013, hari Jumat dengan mantap memutuskan untuk belajar di pondok pesantren Riyadul Huda, Namprah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Sebelumnya, Memang bapak minta tolong saya untuk melakukan sholat istikhoroh dan hajat. Karena pada waktu itu diberikan dua pilihan, yaitu pondok pesantren di Mojokerto dengan pondok pesantren Riyadul Huda. Hasil dari sholat istikhoroh dan hajat ini, diperlihstkan warna hijau dan oren dengan tulisan Pondok Pesantren Riyadul Huda. Akhirnya dengan keputusan yang sudah yakin, berangkatlah pada hari jumat, tidak lupa memohon pamit dan doa restu pada guru ngaji dekat rumah, yaitu KH. Wahyul Afif Al Ghafiqi dan ibu Hj. Evi Afifah. Setelah berangkat dan sampai di pondok pesantren Riyadul Huda, Showan langsung kepada Kh. Acep Aminudin sebagai pimpinan pondok pesantren Riyadul Huda sekaligus diberikan nasihat untuk kuat dan mampu berjuang di pondok pesantren Riyadul Huda.

 

Mulai di hari pertama hingga hari ketujuh menangis dan galau karena rindu dengan orang tua di kota Bandung. Pada saat itu masih kelas satu SMP dan satu Ibtida di Pondok Pesantren. Setiap semester ganjil atau semester genap pondok selalu memberikan apresiasi berupa pemberian hadiah bagi santri berprestasi. Dan ketika itu, saya ,endengar beberapa kakak-kakak santri berprestasi. Sejak itu, saya tanamkan, "Saya harus seperti itu, saya mampu berprestasi seperti itu" inspirasi belajar saya bermulai dari situ. Setiap pergantian ajaran baru dan kenaikan kelas selalu ada pengumuman santri berprestasi. Ternyata, saya tidak sadar bahwa termasuk ke dalam santri berprestasi kala itu saya mendapatkan juara tiga ibtida. Namun, dari situ saya tidak membuat saya berpuas diri. Tepat, pada kelas dua ibtida saya mendapatkan juara kelas kembali yaitu juara satu kelas dua ibtida, selama lima semester berturut-turut saya mendapatkan juara satu.

 

Dari, hasil yang di dapat memang tidak instan. Hampir setiap hari saya mengkosongkan perut, tidur sangat sedikit, bahkan, bisa dikatakan sering diperbanyak puasa, bangun di sepertiga malam disaat teman teman santri masih tertidur lelap. Semata mata hanya ingin membahagiakan kedua orang tua prinsip saya kala itu. "Ada hasil prestasi yang harus di bawa ke rumah". bahkan naik kelas satu tsanawiyah atau disebut dengan kelas sorof, setiap ujian tulis dan menghafal atau nalar kitab, saya hanya menyediakan secangkir air putih. Walupun perut sudah lapar dan perih tetapi itulah salahsatu cara mudah untuk menghapal atau nalar kitab. tidak hanya menjadi santri berprestasi, alloh mengkaruniakan saya sebagai siswa berprestasi di sekolah, pada jenjang SMP tepat kelas dua saya mendapatkan juara dua, di kelas bahkan ada satu momen dimana saya menangis di sekolah, karena tidak bisa menalar Jurumiyah. Namun, saya tidak menyerah, saya mencoba dan mencoba pada akhirnya, dan tidak menyangka menalar kitab jurumiyah tercepat dan pertama. Alhamdulillah, sayapun diberi hadiah yaitu kitab Al-Fiyah gratis tidak bayar atau beli. Sangat bersyukur sekali, disaat para santri membeli kitab setiap kenaikan kelas, saya tidak, karena selalu diberikan hadiah kitab sebagai santri berprestasi.

 

Namun di setiap proses perjalanan, Allah tidak mau kita lupa bahwa dalam hidup bukan sekedar senang saja. Teapt saat saya kelas satu SMA dan kelas dua tsanawi atau di sebut kelas alfiyah di pondok. Allah menguji saya, sedang semangat-semangatnya belajar Allah memberikan saya sakit keras, tubuh saya sangat panas hingga 40 derajat celcius, tubuh saya menggigil, bibir saya hingga diberikan sendok. Bahkan saat saya dipijat kakinya oleh anak-anak kobong tidak terasa apa-apa, anak-anak kobong bilang “kaki teteh dingin” bahkan mata saya pun tidak dapat terbuka, kala itu saya berpasrah diri pada Allah “Apabila kematian saat ini tiba didepan mata, matikan aku dalam keadaan sahid ya Allah, karena sedang menuntut ilmu di pondok”

 

Sebelum sakit saya pasrah. Saya berbicara yaitu wakil ketua kobong saya yaitu Naila. ”Nai kalau sudah pulang mengaji di masjid tolong anak-anak kobong bacain aku surat Al-Waqiah, surat Al-Mulk, surat Yasin, surat Al-Kahfi, dan Ar-rahman.” Setelah mereka pulang mengaji, saya pun dibacakan surat-surat tersebut, sambil ada anak-anak kobong yang mengaji melihat keadaan saya. Bahkan kaka sepupu saya yaitu teh Arofah bilang “Manda telepon orang tua saya” sambil berkaca-kaca. Saya bilang dengan bicara terbata-bata “Jangan teh nanti jadi beban, biar aku saja” Kasih sayang Allah di mana kita sakit pasti akan sembuh dan ada obatnya. 

 

Allah pun memberikan saya kesembuhan, namun ternyata belum cukup untuk menguji saya. Allah memberikan penyakit kulit yang memerah dan gatal, tubuh saya panas, bahkan saya pun dibantu sahabat saya “teh Marni dan Uli” untuk mencucikan baju saya. Saya mengalami darah istikhadoh saat itu, lemas dan tidak berdaya. Namun lagi-lagi hanya mampu berserah diri. Ketika itu juga saya sedang melaksanakan ujian semester kelas satu SMA. Saya memaksakan diri untuk mengerjakan ulangan di kobong dengan kepala sangat pusing, tubuh panas dan gatal. Saya tetap menyelesaikan hingga akhir.

 

Seiring berjalan waktu, saya diberikan kesembuhan oleh Allah Swt tepat pada malam akhir (dimana perkumpulan sebelum pulang atau libur). Satu persatu penghargaan sekolah maupun pondok disebut siapa saja santri berprestasi. Sebenarnya sudah pesimis, karena mengerjakannya sedang sakit. Namun kaget sekali saat penghargaan termasuk siswa berprestasi  SMA Terpadu Riyadul Huda kategori putri angkatan satu yaitu juara 3 diberikan kepada “Amalia Amanda” disitu saya  terharu tidak percaya dengan segala kemampuan saya dalam mengerjakan ujian semester akhir membuahkan hasil, saya pun kedepan dan diberikan surat keputusan yang di tanda tangani oleh pihak sekolah sebagai siswa berprestasi. Pada akhirnya kita hanya perlu percaya atas kemampuan diri sendiri, ulet, tekun, gigih, dan optimis dalam menghadapi tantangan dan cita-cita

 

Amalia Amanda, Santriwati Pondok Pesantren Riyadul Huda Ngamprah, Padalarang Kabupaten Bandung Barat

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×