Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Aku Bangga Menjadi Santri

Aku Bangga Menjadi Santri
Santri (NU Online).
Santri (NU Online).

Bismillahirrahmaanirrahiim


Surat ini aku tulis untuk para pembaca di mana pun kalian berada ..

 

Ini surat dariku, seorang santri biasa dengan kisah santri-santri pada umumnya yang walaupun begitu aku harap kalian dapat mengambil manfaat dari pengalamanku ini. Selamat membaca..

 

Menjadi seorang santri tidak ada dalam bayanganku sebelumnya. Terleih pandangan masyarakat umum yang menjudge bahwa mondok itu hanya akan mendapat bekal ilmu agama saja dan membuang-buang biaya. Tidak sedikit yang beranggapan sekolah di sekolah umum itu lebih unggul serta terjamin masa depannya.

 

Saat pertama masuk pondok, rasa takut dan ragu itu muncul, apakah aku yang berasal dari desa, berkemampuan biasa saja, dan berlatar belakang keluarga dengan ekonomi secukupnya bisa bertahan di tempat ini? Tempat yang menyatukan berbagai macam karakter yang berbeda, lapisan kndisi sosial yang tidak sama, wilayah yang akupun baru nendengarnya, bahkan sama-samar aku dengar suara orang yang bercakap-cakap dengan bahasa yang nyaris aku tidak mengerti sedikitpun (bahasa asal mereka sendiri). 

 

Bulan-bulan pertama menjadi seorang santri adalah salah satu cobaan terberat yang pernah terjadi dalam hidup. Terkesan lebay memang. Tetapi, menahan riindu dengan orang tua, keluarga, dan teman-teman di rumah, serta harus meninggalkan berbagai kegiatan yang menyenangkan da enuh ebebasan menjadi boomerang tersendiri bagiku. Setiap malam sebelum tidur selalu inget keluarga di rumah. Rindu yang semakin hari semakin besar, ditambah dengan belajar untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan kegiatan pondok yang begitu padat membuat aku berpikir pendek untuk segera boyong saja dan melanjutkan endidikan di rumah seperti teman-temanku yang lainnya.

 

Tetapi pada akhirnya aku masih di sini, di tempat yang setiap paginya terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang begitu indah dan malamnya terdengar suasana lalaran nadzom dengan merdu dari berbagai kitab yang dikajinya.

 

Seiring berjalannya waktu, akhirnya rasa nyaman itu mulai tumbuh. Semula banyak bait nadzom yang aku hafal semakin tidak menyangka ternyata aku mampu menghadapi apa yang aku takutkan sebelumnya dengan padatnya kegiatan pondok. Aku mendapatkan pembelajaran untuk menjadi lebih disiplin dan membagi waktu dengan berinteraksi dengan teman yang berbeda daerah dan latar belakang menjadikan semakin mengerti akan arti perbedaan dan menghargai satu sama lain.

 

Santri bukan hanya belajar ilmu agama, tetapi lebih dari itu di pondok pesantren dididik untuk saling menghargai, toleransi, serta tidak menjudge orang dengan mudah tanpa melihat latar belakangnya. Dengan kata lain, di pondok itu dibina untuk berpikir kritis serta belajar mengambil keputusan sedini mungkin.

 

Belajar ilmu nahwu, sharaf, tauhid, fikih, dan ilmu agama lainnya memang menjadi kewaiban di pondok tetapi belajar ilmu umum dan mengasah kemampuan serta minat bakat juga penting karena setiap orang memiliki warna yang berbeda.

 

Aku jadi ingat kata Abah, menjadi kiai itu bukan hanya di masjid saja, tapi jadilah kiai di mana pun kamu berada tanpa mengharapkan gelar dan enghormatan dari orang lain. Jika suatu saat bekerja sebagai pedagang, maka jadilah pedangan yang benar, jujur, dan jangan pernah sekalipun meninggalkan kawajiban sebagai seorang muslim.

 

Dari ceritaku yang biasa ini, aku harap para orang tua jangan pernah segan untuk memondokkan anak-anaknya ke pesantren. Dan untuk teman-teman jangan takut untuk mondok karena menjadi santri itu keren. Dengan jauh dari keluarga, menjadi lebih mandiri, kuat mental dan pastinya akan lebih dewasa dalam berpikir.

 

Ayo mondok, kita harus bangga menjadi santri.

 

Terima kasih sudah berkenan membaca suratku. Semoga apapun yang kalian perjuangkan bisa tercapai ya, sampai jumpa di lain surat.

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

 

Muthoharoh, Santri Buntet Pesantren Cirebon

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×