Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH Ali Yafie 96 Tahun

KH Ali Yafie 96 Tahun
KH Ali Yafie tak pernah berhenti membaca kitab kuning di usianya yang ke-94 tahun. Foto: dok. keluarga.
KH Ali Yafie tak pernah berhenti membaca kitab kuning di usianya yang ke-94 tahun. Foto: dok. keluarga.

Oleh HB Tamam Yafie

Puang, begitu sapaan akrab kami untuk Ayahanda, hari ini 1 September 2022 genap berusia 96 tahun. Lahir di Wani, Donggala, Sulawesi Tengah 1 September 1926 atau 22 Safar 1345 H.  Alhamdulillah dalam usia sangat sepuh Puang masih dapat beraktivitas seperti kebanyakan orang, terutama yang menyangkut hobinya sejak muda yaitu membaca buku. 

 

Puang juga nampak gembira jika ada tamu yang silaturahim, walau sekedar hanya ingin mencium tangannya. Dalam setiap kesempatan menerima tamu tersebut, awal pembicaraan biasanya dimulai dengan pertanyaan, bagaimana kondisinya Puang? atau wah Puang nampak sehat dan segar ya ... biasanya Puang membalas dengan senyuman dan berkata, " ya Alhamdulillah, yang penting masih bisa ketawa", maka hadirin ikut tertawa dan suasana pun menjadi cair seketika.  

 

Lalu apa yg membuat Puang selalu kelihatan segar di usianya yang hampir satu abad itu?  

 

Apa yang kami saksikan selama ini Puang itu selalu nampak bahagia dalam segala kondisi, bersyukur atas semua keadaan,  tidak ada beban yang menumpuk di pundaknya. Semua dijalani dengan tenang,  sabar dan tawakal menjalani proses serta Ikhlas menerima hasil yang didapatkan. Inilah yang Puang sebut dengan hidup apa adanya, gak ngoyo, selalu tahu batas (tahu diri), berbicara dan bertindak sesuai kebutuhan, tidak pernah berlebihan, meminjam istilah anak milenial, gak  pernah offside. 

 

Puang selalu menyatakan bahwa dalam menjalankan hidup  bagi seorang Muslim harus bersandar  pada rukun Islam. Semua ibadah pokok itu seperti salat, zakat, puasa dan haji mengajarkan kepada kita 2 hal yang mendasar, yaitu bersih  dan tertib.   

 

Perilaku hidup bersih dan tertib ini memang jelas terlihat sepanjang hidup Puang, baik dalam keseharian maupun dalam lingkungan pekerjaan. Tidak ada yang berbeda di dalam rumah maupun di luar rumah. Selalu konsisten antara perkataan dan perbuatan. 

 

Kami lebih banyak disuguhi hal-hal praktis ketimbang kata-kata manis. Bahkan dalam kondisi kaki yang tertatih dan tangan yang lunglai, Puang masih sempat merapikan sesuatu yang dilihatnya tidak sesuai tempatnya. Dalam dunia pekerjaan, hampir semua  karir yang dirintis Puang, selalu diawali dari tingkat paling bawah, mulai dari guru sekolah sampai menjadi Rektor, dari kepala KUA sampai menjadi Hakim Pengadilan Agama, dari anggota DPRD tingkat II (kota) kabupaten hingga anggota DPR-RI (3 periode), dari pengurus Syuriyah tingkat cabang hingga menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sebagai Rais Syuriyah dan Ketua MUI serta berbagai jabatan lainnya. 

 

Dalam meniti karir praktis tidak ada kata kompetisi dalam kamusnya, tapi lebih fokus pada kompetensi. Menurut Puang kompetisi itu lebih tepat digunakan untuk memotivasi diri bertarung melawan segala bentuk kemalasan, kelemahan, kebodohan bahkan kesombongan dengan argumentasi yang berbasis  akal sehat dan disiplin ilmu yang dimiliki. 

 

Semua jabatan adalah  amanah dan harus bersih dari segala kepentingan pribadi. Puang selalu memaknai  jabatan sebagai ruang pengabdian dan sekaligus juga sebagai sarana belajar. Oleh karena itu Puang itu lebih senang bila disebut sebagai santri abadi. Jadi tidak heran jika sampai saat ini kecintaannya kepada buku-buku itu tetap terjaga, karena Puang tidak pernah ingin berhenti belajar. 

 

Proses belajar dari seluruh pengalaman hidupnya yang begitu panjang itulah Puang kemudian merumuskan sebuah pola hidup "BSM" yaitu Bersih, Sederhana dan Mengabdi. Mungkin dari rumusan tersebut kita ada lebih mudah memahami mengapa Puang dapat menikmati hari tuanya dengan gembira, tidak nampak guratan lelah di wajahnya dengan setumpuk jabatan yang pernah disandangnya, tidak ada beban yang menderanya. 

 

Tidak ada kenangan buruk  yang membuatnya terpuruk. Puang tetaplah puang seperti yang kita kenal selama ini, Istiqomah, tidak ada berubah dengannya, kecuali raganya yang semakin lemah, tetapi senyumnya tetap sumringah  dan pikirannya tetap terjaga. Selamat berbahagia di usia ke-96 ya Puang, izinkan kami tetap berkhidmat kepadamu ....

 

Penulis adalah salah seorang putra KH. Ali Yafie (Catatan Redaksi: artikel ini diolah dari status facebook Tamam Ali)

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×