Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Jejak Mubes ke-1 Lesbumi 1962 di Hotel Swarha hingga Sate Madrawi Langganan Soekarno

Jejak Mubes ke-1 Lesbumi 1962 di Hotel Swarha hingga Sate Madrawi Langganan Soekarno
Nasihin dan Imam Hidayat saat berfoto bersama Kiai Fatah dnegan latar foto Haji Fadli Badjuri dan lambang Majelis Cakrabuana asuhan Kiai Fatah. (Foto: Nasihin-NUJO)
Nasihin dan Imam Hidayat saat berfoto bersama Kiai Fatah dnegan latar foto Haji Fadli Badjuri dan lambang Majelis Cakrabuana asuhan Kiai Fatah. (Foto: Nasihin-NUJO)

Hotel Swarha, saksi sejarah perhelatan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, hotel tempat menginap para jurnalis dari dalam dan luar negeri, pada tahun 1962 Hotel Swarha ikut menjadi sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama saat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) mengadakan musyawarah besar (Mubes) Ke-1 bulan Juli 1962, yang menghasilkan butir-butir kesepakatan.


Hotel Swarha terletak di samping kanan Masjid Raya Bandung depan kantor Pos Besar Bandung, menurut penuturan Tokoh NU Bandung (Habib Syarif) pada bedah buku di PCNU Kota Bandung, Swarha adalah nama Tokoh NU sekitar tahun 30-an, beliau Ketua PCNU Kota Bandung. H Swarha adalah saudagar kaya yang ikut men-support kegiatan NU di Bandung.


Dulu di samping kiri Masjid Raya Bandung terdapat rumah makan Madrawi yang terkenal, apalagi rumah makan tersebut ikut mensuplai makanan ke acara Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 atas permintaan Presiden Soekarno dengan menu andalan sate, gulai, dan rawon. Soekarno, sering makan di Madrawi dari awal beliau kuliah di Bandung. Bahkan Tokoh-tokoh NU seperti Mbah Wahab Hasbullah, Kiai Wahid Hasyim pernah makan di tempat tersebut.


Sekarang Hotel Swarha terbengkalai hanya lantai bawah yang dipakai toko kain/pakaian. Rumah makan Madrawi pun sudah tidak ada, hanya keluarga keturunannya yang masih ada, malam kemarin saya dan kawan sempat berbincang dengan Kiai Fatah, beliau tidak mau disebut Kiai "Akang aja" kata beliau. Kang Fatah adalah putra Haji Fadli, Haji Fadli adalah Putra Badjuri saudara Madrawi, kakak beradik perintis rumah makan Madrawi.


Beliau berdua putra Mbah Syaibani sahabat Mbah Kholil Bangkalan Guru dari Mbah Hasyim Asy'ari Pendiri Nahdlatul Ulama, begitu penuturan Kang Fatah pada kami.


Hampir tengah malam, dibarengi kopi Lampung oleh-oleh dari Muktamar, obrolan semakin hangat dan menarik, namun kami takut mengganggu kegiatan beliau besok pagi, akhirnya kami berpamitan pulang. Sebelum bersalaman saya meminta ijin ber-foto bersama beliau dengan latar foto Haji Fadli Badjuri dan lambang Majelis Cakrabuana asuhan Kiai Fatah.


Selamat malam Kota Kembang 

Selamat malam Paris Van Java


Nasihin, Pengurus Lesbumi Kabupaten Bandung

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×