• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional
Hari Santri
Hari Santri

Siapa yang tidak mengenal Hari Pahlawan, 10 November. Begitu heroik perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Komando dari Bung Tomo melalui radio membangkitkan semangat juang arek-arek Surabaya yang terdiri dari kaum santri dan warga. Ribuan orang yang tewas menjadi syuhada dalam pertempuran tersebut. Namun tak kalah penting Jendral Malaby pun pimpinan tentara Inggris terbunuh.


Dengan membonceng tentara Sekutu, Belanda melakukan agresi militer untuk merebut kembali Republik Indonesia pada bulan September 1945.


Sebagai presiden, Bung Karno meminta fatwa ulama, dalam hal ini Hadlratussyekh Hasyim As'ari yang pada saat itu menjabat sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU), tentang Hukum Perang melawan penjajah untuk mempertahankan negara yang konon bukan negara Islam melainkan berdasarkan Pancasila. Maka lahirlah Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945.


Lahirnya perang dahsyat 10 November 1945 yang sekarang dikenal denga hari pahlawan, itu tidak lepas dari lahirnya Resolusi Jihad (Seruan Jihad) Hadlratussyekh Hasyim Asy'ari tersebut yang dikumandangkan tanggal 22 Oktober 1945, sebagai hasil pertemuan para 'Ulama konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa - Madura, di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatul Ulama, Jl. Bubutan VI/2 Surabaya. 


Dalam pidatonya beliau mengatakan bahwa, "...Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ain (yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak) bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang yang berada di luar jarak lingkaran tadi, kewajiban itu jadi fardlu kifayah (yang cukup kalau dikerjakan sebagian saja)..."


Memang semenjak Indonesia merdeka catatan sejarah tersebut hampir hilang atau sengaja disembunyikan, ditutup-tutupi agar tidak diketahui generasi penerus bangsa. Namun Alloh swt masih tetap melindungi bangsa ini dan para santeri beserta ulama. Setelah beberapa tahun para ulama NU berjuang untuk mendapatkan penghargaan pemerintah atas pengorbanan santri sebagai konsekuensi dari Resolusi Jihad yang melahirkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.


Maka penghargaan Pemerintah RI atas Resolusi Jihad Hadlratusysyekh Hasyim Asyari yang mampu menggetarkan semangat jihad para santeri dan masyarakat sekitar sehingga lahir perang 10 Nopember 1945, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden RI, No. 22, tanggal 22 Oktobet 2015 bertepatan tanggal 9 Muharram 1437H.


Selamat Hari Santri
Selamat berjuang untuk tetap mempertahankan NKRI yang dijiwai semangat keagamaan, semangat kebangsaan, dan semangat ke-Indonesiaan.


Terima kasih para santri atas jasa-jasamu dalam berjuang merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaanTerima kasih Pemerintah RI, dan seluruh elemen bangsa, terima kasih Bapak Presiden yang telah berkenan menerima usulan para santri hingga lahir hari bersejarah bagi kami, terima kasih atas penghargaan kepada para santri. Semoga NKRI tetap jaya dan abadi.


Dirgahayu Hari Santri!


Semoga kita senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT
 Aamiin,,,aamiin,,,aamiin,,,!                   


KH Awan Sanusi, salah seorang A'wan PWNU Jawa Barat


Ngalogat Terbaru