• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Ngalogat

Berikut Daftar Kitab Maulid yang Masyhur di Indonesia

Berikut Daftar Kitab Maulid yang Masyhur di Indonesia
Berikut Daftar Kitab Maulid yang Masyhur di Indonesia
Berikut Daftar Kitab Maulid yang Masyhur di Indonesia

Memasuki bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, rutinitas yang selalu dijalankan oleh masyarakat khususnya di Indonesia yakni memperbanyak membaca shalawat bersama-sama baik di majelis, mushola, masjid ataupun dalam gelaran Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Biasanya saat diadakan majelis shalawat, selalu ada kitab maulid yang dibaca di tengah-tengah pelaksanaan kegiatan semacam itu.


Melansir laman NU Online, berikut kami merangkum sejumlah kitab Maulid yang masyhur di tengah masyarakat Indonesia:


1. Maulid Barzanji


Kitab Maulid Barzanji adalah kitab yang berisi mengenai pujian-pujian yang ditulis oleh Sayyid Ja’far al-Barzanji murni atas dasar kecintaannya kepada baginda Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan umat Islam kepada nabinya.


Dalam kitab Madârijus Shu’ûd, Syekh Muhammad Nawawi Banten mengatakan bahwa kitab maulid yang disusun oleh sosok yang memiliki nama lengkap Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji ini laksana media yang mampu menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan (sihrul halâl) dan orang yang membacanya akan mendapatkan keridhaan dari Allah Swt. (Al-Bantani, Madârijus Shu’ûd, halaman 3).


Syekh Nawawi Banten seolah hendak mengatakan, dengan membaca Maulid Barzanji orang akan mendapatkan keutamaan yang sangat banyak, di antaranya akan digampangkan semua urusannya, sebagaimana sihir, namun Maulid Barzanji seolah sihir yang halal. Jika tujuan membacanya agar terhindar dari penyakit, maka ia akan dijauhkan dari penyakit oleh Allah swt. Tidak hanya itu, dengan membacanya, seseorang akan mendapatkan kehormatan berupa keridhaan dari Allah swt.


2. Maulid ad-Diba’i


Kitab Maulid ad-Diba'i adalah kitab yang disusun oleh Wajihuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Umar bin Yusuf bin Ahmad bin Umar asy-Syaibani az-Zabidi asy-Syafi’i atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Abdurrahman ad-Diba’i, salah satu ulama yang sangat luas dan dalam pengetahuannya.


Dikatakan bahwa Maulid ad-Diba’i sebenarnya bukanlah nama khusus kitab ini. Sebab semua isi yang ada di dalam maulid Diba’ merupakan ringkasan dari Maulid Syaraful Anâm, karangan Syekh Syihabuddin bin Qasim.


"Kitab ini terkenal dengan nama Maulid Diba’i, karena disandarkan kepada penyusunnya, yang dikenal dengan nama Ibnud Diba'. Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Maulid Syaraful Anâm, karangan Syekh Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Qasim al-Mursi, yang dikenal dengan nama Ibnu Qasim." (Al-Anshari, Mil’ul Awâni, halaman 10).


Meskipun demikian, keberkahan di dalamnya sangat banyak, keutamaannya sangat luas dan tentunya sebagai media untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Rasulullah Saw. Sebab selain menceritakan tentang perjalanan hidup Rasulullah saw, penyusun kitab ini juga mencantumkan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits, sehingga pembaca tidak hanya membaca shalawat namun juga membaca Al-Qur’an dan hadits.


3. Maulid Simthud Durar


Bagi yang sering mengikuti acara majelis shalawat seperti yang dipimpin oleh Habib Syech, tentunya kitab Maulid Simthud Durar ini tidak asing di telinga pembaca. Sebab dai asal Solo itu merupakan salah satu yang sering membaca kitab maulid ini.


Kitab Maulid Simthud Durar ini adalah kitab yang disusun oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. Sang penulis lahir pada hari Jumat, 24 Syawal 1259 H (17 November 1843 M) di kota Qasam, sebuah kota di negeri Hadramaut, Yaman, dan wafat di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H (6 Maret 1915 M).  


Maulid Simthud Durar ditulis dua tahun sebelum Habib Ali wafat. Tepatnya pada tahun 1330 H (1912 M). Setelah semuanya rampung, kemudian dibacakan dalam rumahnya bersama para habaib yang lain. Setelah pembacaan itu selesai, Habib Ali al-Mantsur berkata:


"Setelah maulid (Simthud Durar) dibaca di rumahnya, tahun 1330 H, Habib Ali al-Mantsur berkata: Maulid (Simthud Durar) seperti mengembalikan kita semua (pada zaman Rasulullah), maka dengarkanlah, di dalamnya terdapat cahaya yang mulia, dalam setiap ungkapan terdapat sifat yang sangat condong mengagungkan Rasulullah." (Sayyid Ahmad bin Ali bin Alawi al-Habsyi, Syarah Simthud Durar fi Akhbar Maulidi Khairil Basyar wama Lahu min AkhlaqI wa Aushaf wa Siyar, halaman 391).


4. Qasidah Burdah

Qasidah Burdah merupakan syair yang berisi pujian-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai spiritual dan semangat perjuangan, yang sering dibaca saat memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Qasidah Burdah juga sering menjadi bacaan rutin di pondok pesantren dan di tengah masyarakat.


Qasidah Burdah disusun oleh Imam al-Bushiri bernama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia lahir di Desa Dalas, salah satu desa Bani Yusuf di dataran tinggi Mesir pada 609 H.


Salah satu faedah Qasidah Burdah adalah bisa dijadikan sebagai media untuk memohon kepada Allah agar dipenuhi segala kebutuhan, sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Ali al-Qari.


Artinya, "Qasidah Burdah sangat mujarab (dijadikan media) untuk memohon pemenuhan berbagai hajat dan suksesnya berbagai kepentingan." (‘Ali al-Qari, az-Zubdah, halaman 13).


5. Maulid adh-Dhiya`ul Lami’


Kitab Maulid adh-Dhiya`ul Lami’ disusun oleh Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Syekh Abu Bakar bin Salim, salah satu ulama besar asal negeri Yaman.


Kitab Maulid ini berkembang di Indonesia dan sering dibacakan di tengah-tengah jamaah Majelis Rasulullah yang digagas oleh salah satu murid Habib Umar, Habib Munzyr Al Musawa.


Editor:

Ngalogat Terbaru