• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Nasional

Pengikut NU Meningkat: Gus Yahya Ajak Pengurus Aktifkan Amaliyah dan Perluas Pelayanan Inklusif

Pengikut NU Meningkat: Gus Yahya Ajak Pengurus Aktifkan Amaliyah dan Perluas Pelayanan Inklusif
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Foto: NU Online)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Foto: NU Online)

Bandung, NU Online Jabar
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, mengumumkan hasil survei menunjukkan bahwa 56,9 persen dari seluruh penduduk Indonesia kini mengaku sebagai pengikut NU.

Dalam Kegiatan Pelibatan Masyarakat dalam Program Ketahanan Keluarga di Hotel Horison, Kota Serang, Banten, Rabu lalu, Gus Yahya mengungkapkan angka tersebut setara dengan sekitar 150 juta orang dari total 285 juta penduduk Indonesia.


Dengan lonjakan jumlah pengikut NU, Gus Yahya menekankan pentingnya menghidupkan wiridan, tasbih, dan istighfar sesuai dengan perintah Allah Swt dalam Surat An-Nashr. Dalam konteks ini, ia menyoroti peningkatan jumlah orang yang memilih menjadi bagian dari NU.


Gus Yahya juga memberikan imbauan kepada pengurus NU untuk memahami karakteristik orang NU yang beragam, tidak hanya terbatas pada segmen tertentu. Menurutnya, layanan NU harus lebih inklusif, mencakup tidak hanya pesantren tetapi juga terminal, pasar, pinggir jalan, dan berbagai tempat lainnya.


"Ketika kita berpikir tentang khidmah Nahdlatul Ulama, kita harus berpikir tentang khidmah semesta, khidmah untuk semua orang, khidmah inklusif, bahwa kalau kita menyediakan program sebagai layanan kepada masyarakat, maka kita buka untuk semua orang supaya semua boleh mendapatkan layanan NU," tegas Gus Yahya.


Sebagai alumnus Pesantren Krapyak, Yogyakarta, Gus Yahya mengungkapkan kegembiraannya terkait program vaksinasi yang dilakukan oleh NU selama pandemi Covid-19. Program tersebut mendapatkan partisipasi luas dari berbagai golongan masyarakat, tidak hanya santri dan warga NU.


“Itu berarti apa? Masyarakat ini telah melihat bahwa NU mau menyediakan layanan untuk mereka semua, dan mereka tidak segan-segan untuk ikut mendapatkan layanan dari Nahdlatul Ulama,” ungkap Gus Yahya.


Dalam konteks seperti itulah kemudian PBNU membuat satu program Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU), yang dimaksudkan sebagai program yang langsung berhubungan dengan masyarakat di tingkat paling bawah, dalam unit keluarga.  


“Kenapa? Karena di dalam keluarga itu semua urusan masuk. Dalam keluarga ini urusan anak-anak masuk, stunting dan lain-lain masuk. Soal bimbingan keagamaan masuk, soal ekonomi terkait dengan pendapatan, kesejahteraan masuk. Segala macam segi kehidupan bisa kita bingkai program-programnya ke dalam keluarga,” katanya memberi alasan. 


Sejak awal pengukuhan, PBNU bertekad membangun secara komprehensif agenda-agenda untuk mentransformasikan NU menjadi wujud satu organisasi dengan kekuatan, kinerja, dan kapasitas baru yang lebih bisa diandalkan untuk menyongsong tantangan-tantangan masa depan lebih berat. 


“Saya bilang kemarin: saya ini enggak tahu mati saya, saya mau mati kapan enggak tahu. Nanti kalau habis periode ini cabang-cabang masih mau milih saya lagi apa enggak, juga saya enggak tahu. Tapi apa pun yang terjadi, saya ingin supaya agenda-agenda besar, kerangka-kerangka mendasar ini harus terus dilanjutkan, jangan sampai terhenti,” ujar Gus Yahya. 


Maka pihaknya mengejar suatu kemapanan sampai titik tidak bisa balik, yaitu sampai titik kalau pengurus NU hendak membatalkan “program” yang sudah menjadi kemapanan itu sulit.  


“Saya mengajak Bapak Ibu sekalian, saudara-saudara, para sahabat, untuk ikut bekerja bersama-sama kami, karena ini sangat penting dan sangat mendasar artinya bagi pengembangan Nahdlatul Ulama ke depan,” pungkasnya
 


Nasional Terbaru