• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Sabtu, 20 April 2024

Kuluwung

Serba-Serbi Jamaah Haji di Tanah Suci; Bahasa

Serba-Serbi Jamaah Haji di Tanah Suci; Bahasa
Serba-Serbi Jamaah Ibadah Haji ke Tanah Suci; Bahasa
Serba-Serbi Jamaah Ibadah Haji ke Tanah Suci; Bahasa

Ibadah haji memang bukan tentang persamaan, melainkan kesetaraan. Karena yang mencolok kita dapati di sana justru adalah keanekaragaman, mulai dari kelas sosial hingga identitas dan budaya.


Ada satu hal yang bikin saya heran di antara lautan manusia itu, kenapa petugas haji Indonesia sering jadi rujukan bertanya jamaah dari negara lain? Hal yang sama belum saya dapati di petugas dari negara lain setidaknya sejak saya riwa-riwi di Masjidil Haram beberapa hari ini. Mungkin karena seragam PPIH yang cukup demonstratif.


Namun, di sinilah keseruan itu muncul, yaitu ketika orang-orang itu bertanya tapi dengan bahasa dari negeri mereka masing-masing. Saya beberapa kali kewalahan dan nyerah karena harus menanggapi pertanyaan berbahasa India, persia, urdu, dan entah bahasa apalagi yang belum pernah dikenali. Ketika dijawab dengan bahasa Inggris atau Arab, mereka jawab lagi pakai bahasa “aneh” itu lagi. Saya blank, ga ngerti sama sekali. Yang banyak bermain akhirnya bahasa isyarat atau apa pun yg sekiranya bisa jd jembatan komunikasi.


Suatu hari orang entah dari mana bertanya: @#&#&#&#€?


Saya bingung. “Do you wanna go to bus station?”


Dia kelihatan bingung. “Ilal mahaththah?” Saya coba pakai Arab karena ada jenggot dan wajah sedikit kearab-araban.


Dia masih tampak bingung. Akhirnya saya sebut satu-satu nama terminal sambil nunjuk-nunjuk arah mata angin masing-masing terminal, “Ajyad... Syib Amiir... Bab Ali.”


“Ajyad!” dia seperti menemukan kata kunci.


“Sida.. sida.. (lurus...),” kata saya.


Rupanya masih bingung. Diam sejenak. Lalu tiba-tiba nyelethuk, “Shiroth?”


“Nah, ya ya... Shirooothol mustaqiiiiiiiiim....”. Dia pun lega, lalu pergi sesuai arahan.


Berkomunikasi memang lebih dari sekadar berbahasa. Orang seperti saya yang kemampuan bahasa asingnya grothal-grathul pun akhirnya tetap bisa berkomunikasi, asal dua orang yang bercengkrama menemukan simbol-simbol yang bisa dipersepsikan sama oleh masing-masing pihak.


Contohnya shirathol mustaqim tadi. Untung dia paham. Andai masih bingung, mungkin akan saya lanjutkan, “Shiroothol ladziina an-amta ‘alaihim ghoiril maghdluubi ‘alauhim waladl dloooolliiiiiiiin".


Mahbib Khoiron


Kuluwung Terbaru