Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Saudagar Parfum dan Tukang Las

Saudagar Parfum dan Tukang Las
(Ilustrasi: frepik.com)
(Ilustrasi: frepik.com)

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita bergaul dengan beragam bentuk dan sifat manusia, sebagian teman bergaul itu ada yang sangat baik dengan kita, sehingga bisa saling membantu, saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Ada temen bergaul  yang menjengkelkan  kita, selalu mengarahkan kepada aktivitas yang tidak terpuji dan perbuatan-perbuatan lain yang tercela. Sebagai manusia muslim yang seantiasa dibimbing pada jalan kebenaran, kita diperintahkan agar selalu mencari teman bergaul, tetangga dan lingkungan kerja yang baik.


Dengan mengelompokkan diri bersama  teman yang baik dan terpuji. Lingkungan yang kondusif menunjuki kearah kebenaran dan kesuksesan, lingkungan kerja yang baik dan terpuji serta mengarah pada masa depan yang sukses. Teman bergaul, dan lingkungkan tempat tingal, juga lingkungan kerja kita, sangat besar peranannya untuk membentuk watak dan kepribadian kita dalam kehidupan sehari-hari. Menyadari hal itu banyak kita jumpai bimbingan dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengarahkan agar kita selalu memilah dan memilih teman dan lingkungan yang baik. Lingkungan itu dapat mengarahkan kita pada kehidupan yang produktif serta pengamalan ajaran agama secara menyeluruh.


Rasulullah SAW sering menganjurkan para sahabatnya agar rajin berkunjung dan bergaul dengan orang-orang yang shalih, dengan para pemimpin dan sahabat yang senantiasa membela kebenaran dan keadilan. Nabi Muhammad SAW sering berkunjung ke rumah sahabatnya, baik sahabat yang tergolong besar dan para pemimpin atau sahabat yang terdiri dari kaum lemah dan miskin, bahkan para pembantu rumah tangga. Rasul s.a.w. misalnya rutin mengunjungi rumah Ummu Aiman, seorang pendamping keluarga Nabi sejak beliau masih kanak-kanak.


اِنْطَلَقَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ، فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ، فَنَاوَلَتْهُ إِنَاءً فِيهِ شَرَابٌ (رواه مسلم).


“Rasulullah SAW berkunjung ke rumah Ummu Aiman, maka aku ikut bersamanya, maka Ummu Aiman menyuguhkan kepadanya segelas minuman”. (HR. Muslim, No: 2454).


Nabi juga berkunjung ke tempat-tempat bersejarah seperti ke Masjid Quba dan sebagainya. 


أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْتِي قُبَاءً يَعْنِي كُلَّ سَبْتٍ،، كَانَ يَأْتِيهِ رَاكِبًا وَمَاشِيًا (رواه البخاري ومسلم)


“Sesungguhnya Rasulullah SAW. mengunjungi (masjid) Quba, yaitu setiap hari sabtu, beliau mengunjunginya, baik menggunakan kendaraaan ataupun berjalan kaki”.  (HR. Bukhari, No: 1193, Muslim, No: 1399).


Dalam riwayat lain beliau selalu berkunjung ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, baik berjalan kaki, atau berkendaraan, dan beliau melaksanakan shalat dua rakaat di sana. Kebiasaan yang dilakukan Rasul SAW dalam berkunjung ke rumah-rumah orang shalih dan tempat-tempat yang bersejarah, diikuti juga oleh para sahabat, termasuk Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab dan sebagainya. (HR. Muslim).


Watak, kelakukan, prilaku dan akhlak seorang  manusia akan dapat diketahui dari lingkungan tempat ia bergaul dan dari teman-teman sepergaulannya. Nabi mengisyaratkan hal ini dalam salah satu hadisnya:


الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه أبو داود والترمذي)


“Seorang akan beragama (berakhlak, berperangai dan bertingkah laku) menurut agama teman dekatnya, karena itu keadaan seorang bisa dinilai dari keadaan teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, No: 4833 dan Tirmidzi, No: 2378).


Nabi Musa sering mengadakan perjalanan jauh, bahkan selama bertahun-tahun untuk mencari seorang alim yang shalih, yang memiliki ilmu yang dalam dan hikmah. Dari orang shalih itu Musa bermaksud akan menimba ilmu pengetahuan dan kebenaran. Disebutkan dalam al-Qur’an:


وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا فَلَمَّا بَلَغَا مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا  


“Dan (Ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini". Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali". Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya (Khidhr): "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (Q.S. al-Kahfi, 18: 60-66).


Nabi Muhammad SAW mengumpamakan orang-orang yang bergaul dengan orang-orang yang shalih lagi baik dan bergaul dengan orang-orang yang buruk lagi jahat, bagaikan seorang yang bergabung dengan saudagar parfum dan tukang las. 


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ؛ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ, وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ, وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً, وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ, وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً (رواه البخاري ومسلم).


“Perumpamaan seorang yang bergaul dengan orang shaleh, dan yang bergaul dengan orang jahat adalah seperti pedagang parfum dan tukang las. Maka pedagang parfum itu adakalanya ia menghadiahkannya padamu, atau kamu bias membelinya, atau kamu paling tidak memperoleh bau yang harum dan semerbak. Sedangkan tukang la itu, bias jadi akan membakar bajumu, atau paling tidak, kamu akan memperoleh bau akibat pengelasan yang busuk dan menyengat”. (HR Bukhari, No: 5534 dan Muslim, No: 2628).


Bila kita bergabung dengan pedagang parfum, maka akan memperoleh manfaat, misalnya bisa memiliki parfum itu, baik dengan jalan membeli atau mendapat hadiah sebagai promosi, atau paling tidak kita bisa menikmati baunya yang harum dan menyegarkan. Sebaliknya bila kita bergabung dengan tukang las, pada saat ia melakukan penggelasan. Maka akan mendapat kerugian. Mungkin kita akan terkena percikan api, atau mata kita menjadi sakit karena sinar las yang sangat kuat, sedang tukang las itu sendiri menggunakan kacamata pelindung, atau paling tidak kita akan merasakan bau gas, karbit, dan bau zat kimiawi yang lain, yang merusak, akibat praktek pengelasan itu.


Yang dimaksud bergaul dengan tukang las atau tukang parfum itu, sebenarnya hanya merupakan perumpamaan saja. Bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan tukang las dala kehidupan sehari-hari. Apabila ia orang yang shalih, apakah ia tukang las, saudagar parfum, petani atau peternak, kita tetap baik, bergaul dengan mereka. Karena sesungguhnya baik buruknya seorang ditentukan oleh ketakwaannya.


Allah berfirman:


وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗا  


“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Q.S. Al-Kahfi, 18: 28).


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×