Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pendidikan Bagi Anak Yatim

Pendidikan Bagi Anak Yatim
KH Zakky Mubarak Syamrah (Sumber: FB Zakki Mubarak Syamrah)
KH Zakky Mubarak Syamrah (Sumber: FB Zakki Mubarak Syamrah)

Oleh: KH. Zakky Mubarak
Dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat, sering kita jumpai orang-orang yang berniat menghormati dan menyantuni anak-anak yatim, tetapi dengan cara yang salah. Ada sebagian mereka yang tidak berani menegur anak yatim meskipun perbuatannya tidak baik, karena ia takut dosa. Sebagian lain enggan memberikan nasehat dan bimbingan-bimbingan pada mereka, karena juga takut membuat kesalahan.

Sikap seperti ini justru akan merugikan anak yatim itu sendiri, sehingga mereka tidak mendapat pengarahan yang baik. Memelihara dan mendidik anak yatim, seharusnya adalah seperti memelihara dan mendidik anak kita sendiri. Ia kita tegur apabila perbuatannya tidak terpuji meskipun ia enggan menerimanya.

Pendidikan terhadap anak yatim seharusnya seperti pendidikan terhadap anak-anak kita, mereka kita santuni dan kita arahkan sesuai dengan rencana yang terpuji. Anak-anak yatim juga perlu bersikap prihatin, melatih diri dengan ketabahan dan kesabaran, bekerja keras dan bercita-cita yang luhur. Dengan pendidikan yang wajar dan terencana disertai dengan suasana yang kondusif di tengah-tengah masyarakatnya, maka anak-anak yatim akan dapat meraih sukses di masa depannya.

Menyantuni anak yatim merupakan salah satu ajaran yang sangat luhur, sehingga Nabi SAW menyatakan:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا (رواه البخاري)

“Aku dan pemelihara anak yatim (kedudukannya)  di syurga, bagaikan dua jari ini (Nabi menunjukkan telunjuk dan jari tengah)” seraya agak merenggangkan keduanya”. (HR. Bukhari, No: 4892).

Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa orang-orang yang mengabaikan anak-anak yatim dan membiarkan orang-orang miskin dalam kesusahannya dan enggan memberikan pertolongan, disebutkan sebagai pendusta agama, meskipun orang itu mengerjakan shalat dan ibadah lainnya. Allah berfirman:

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ  

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna,”. (Q.S. Al-Ma’un, 107: 1-7).

Orang-orang yang menyantuni anak-anak yatim dan mengasihi kaum miskin disebutkan dalam beberapa hadis Nabi, bahwa mereka akan memperoleh balasan kebaikan di akhirat dan terlepas dari azab neraka. Sayyidah Aisyah r.a. bercerita:

دَخَلَتْ إِمْرَأَةٌ مَعَهَا اِبْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِيْ شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا، فَقَسَّمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ (رواه البخاري ومسلم)

”Datang ke rumahku seorang wanita miskin dengan dua orang puterinya, maka tiada sesuatu yang dapat aku berikan kepadanya kecuali sebuah kurma, maka aku memberikannya. Wanita itu lalu membagikan kurma kepada kedua anaknya, sedangkan ia sendiri tidak kebagian. Merekapun berlalu dari rumahku. Kemudian Nabi datang dan aku beritahukan padanya mengenai peristiwa itu. Nabi bersabda: “Siapa yang diuji oleh Allah dengan anak-anak perempuan, lalu ia dapat mengasuh dan mendidiknya dengan baik, maka anak-anaknya itu akan menjadi perisai baginya dari api neraka”. (HR. al-Bukhari, No: 1418 dan Muslim, No: 2629).

Dalam hadis lain yang hampir senada, Sayyidah Aisyah menjelaskan bahwa ia menjumpai seorang wanita miskin dengan kedua puterinya, Aisyah memberikan kepada wanita itu tiga butir kurma. Kurma itu kemudian dibagikan kepada kedua anak-anaknya dan yang satu diperuntukkan bagi dirinya. Ketika ibu dari kedua anak itu akan memakannya, mendadak diminta kembali oleh kedua anaknya, ibu itu kemudian membelah buah kurma itu menjadi dua dan dibagi kepada kedua anaknya. Ia sendiri tidak bisa menikmati sedikitpun. Kata Aisyah: 

فَأَعْجَبَنِيْ شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِيْ صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَتْ لَهَا بِهَا الْجَنَّةُ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ (رواه مسلم و ابن ماجة و أحمد)

“Saya merasa kagum dengan kasih sayang ibu kepada kedua puterinya, maka hal itu saya informasikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah menyediakan bagi ibu itu, syurga dan membebaskannya dari api neraka, karena kasih sayangnya terhadap kedua anaknya,” (HR. Muslim, No: 2630, Ibnu Majah, No: 3658, dan Ahmad, No: 24.090).

Mus’ab bin Sa’id seorang sahabat Rasulullah menjelaskan bahwa salah seorang sahabat yang lain bernama Sa’d merasa memiliki keutamaan-keutamaan dari orang-orang yang berada di bawahnya dalam kehidupan ekonomi, Nabi bersabda kepadanya: 

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)

“Tidaklah kamu memperoleh kemuliaan dan karunia rizki kecuali dengan bantuan orang-orang yang rendah diantaramu,”(HR. Muslim, No: 2896).

Kita perhatikan firman Allah berikut ini:

وَٱلضُّحَىٰ وَٱلَّيۡلِ إِذَا سَجَىٰ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فََٔاوَىٰ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ  

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu menceritakannya (dengan bersyukur),” (Q.S. Al-Dhuha, 93: 9-11).

Penulis merupakan salah seorang Rais Syuriah PBNU
 

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×