• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 24 April 2024

Hikmah

Kolom Buya Husein

Nuzulul Qur'an (1)

Nuzulul Qur'an (1)
ilustrasi: NUO.
ilustrasi: NUO.

Bila bulan Ramadan tiba, Nabi pergi sendirian ke sebuah gua di puncak gunung yang dikenal sebagai Hira. Gua ini terletak di Jabal Nur (Gunung Cahaya), sekitar 6 km sebelah utara Masjid al-Haram, Makkah. Tinggi gunung ini 281 m, panjang pendakian sekitar 645 meter. Meski tidak terlalu tinggi, tetapi medannya cukup berat.


Untuk bisa mencapai gua tersebut, kita harus mendaki bebatuan yang terjal dengan sudut kemiringan yang cukup tajam. Perjalanan menuju ketempat ini ditempuh dengan jalan kaki selama sekitar satu jam.


Nabi ingin menghindari segala hiruk-pikuk kehidupan berikut segala keruh dan kebisingannya. Ia ingin mencari kebenaran dan hanya kebenaran saja. Sepanjang bulan ramadan, Muhammad saw melakukan permenungan, “tahannuts”, atau “khalwah”, kontempelasi intens (semedi), meditasi, dan mengamati tentang kehidupan dan fenomena semesta, dalam ruang yang sepi dan sendiri.


Khadijah, isterinya yang amat setia dan mencintainya selalu mendukung sambil meneguhkan hatinya. Bila suaminya hendak khalwah di gunung itu, ia mempersiapkan bekal yang cukup untuk keperluannya itu selama waktu yang diperlukannya. Bila Muhammad ingin pulang, beliau pun turun. Sepanjang perjalanan dari gua Hira ke rumah dan sebaliknya, matanya selalu melihat ke kanan, ke kiri dan ke langit biru. Ia seperti mengharap sesuatu yang dapat menjawab kegelisahan dan keresahan hatinya.


Langkah-langkahnya pelan seakan penuh beban berat. Bila malam tiba ia segera beristirahat. Bila tidur ia acap diganggu oleh mimpi-mimpi yang aneh dan menakutkan.


Suatu hari, konon tanggal 17, saat beliau sedang berdiri di atas gunung, sambil matanya mengelilingi ruang alam, tiba-tiba datang sosok yang disebut Jibril menampakkan diri di hadapannya, dan mengatakan:


“Selamat atas anda, Muhammad. Aku Jibril dan anda adalah utusan Allah kepada umat ini”.


Ia merengkuh tubuh Nabi sambil mengatakan: “Bacalah !”.


Muhammad saw. Menjawab:  “Aku tidak bisa membaca”.


"Bacalah !", katanya lagi.


Muhammad mengulangi jawaban yang sama. Jibril lalu menarik dan mendekapnya sampai menyulitkan beliau bernapas.


Setelah dilepaskan, Jibril mengulangi lagi perintahnya dan dijawab dengan jawaban yang sama. Pada yang ke empat kalinya Muhammad saw kemudian mengucapkan kalimat suci ini:


إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (melalui) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”, (S.Q. Al ‘Alaq, 1-5).


KH Husein Muhammadsalah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru