Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ngaji Sastra Sufi

Ngaji Sastra Sufi
Ilustrasi: NUO
Ilustrasi: NUO

Sastra Sufistik itu mendamaikan kehidupan dengan indah karena dilandasi oleh cinta.
Belajarlah sastra. Kau akan mengerti bahasa manusia dan bicaramu akan santun dan indah.


Sufisme, seperti juga filsafat bicara tentang esensi, hakikat, biji dan akar segala. Jika pendekatan filsafat adalah akal, maka pendekatan sufisme adalah dzauq, rasa, pengalaman/mengalami. Bukan pendekatan literalisme. 


Abdurrahman Jami, penyair sufi Persia, penulis novel cinta Yusuf-Zulakha, mengatakan :


ان كنت عالما بالمعرفة فدع اللفظ واقصد المعنى


Jika kau berpengetahuan luas dan mendalam tinggalkan literalisme, carilah substansi.
Imam al Ghazali mengatakan : 


العاقل من نظر ارواح الاشياء وحقاءقها ولا يغتر بصورها .


Orang yang berakal melihat ruh dan esesnsi  segala hal dan tidak tertipu oleh gambar/kulit luarnya/literalnya.


Dan semesta berasal dari Cinta.  
Dari Cinta kita ada. 
Di bawah payung Cinta kita menyusuri jalan Demi Cinta kita pulang
Maulana Rumi mengatakan :
Cintalah yang mengubah pahit jadi manis,
Batu kerikil jadi permata,
keruh jadi bening, 
sakit jadi sehat 
penjara jadi taman bunga.
Cintalah yang membuat besi jadi lunak. 
yang menghancurkan batu, 
yang membangkitkan kematian
yang menggerakkan kehidupan
Saat ditanya apakah cinta itu, Rumi : 
"Cinta tak bisa didefinisikan. Cintalah yang mendefinisikan segala".
Lalu dimanakah cinta itu ?. Rumi menjawab ; Ia ada di setiap palung jiwa. 
Dan di setiap embusan nafasmu


Dan Syams Tabrizi mengatakan :


ما لم نتعلم كيف نحب خلق الله فلن نستطيع ان نحب حقا ولن نعرف الله حقا


Selama kita tidak belajar mencintai ciptaan Tuhan, kita tak bisa mencintai kebenaran dan kita tak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×