• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 24 April 2024

Hikmah

Bulan Sya’ban dan Malam Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban dan Malam Nisfu Sya’ban
bulan sya'ban dan malam nisfu sya'ban (Ilustrasi: AM)
bulan sya'ban dan malam nisfu sya'ban (Ilustrasi: AM)


Bulan Sya’ban, diapit oleh dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadhan, dipandang istimewa sebagai bulan Nabi Muhammad SAW. Konsep "syi'ab", yang berarti jalan di atas gunung, mencerminkan peran bulan Sya'ban dalam mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan. Bulan ini diibaratkan sebagai tahap persiapan penting sebelum memasuki bulan penuh berkah tersebut.


Momen istimewa dalam bulan Sya’ban jatuh pada Malam Nisfu Sya’ban, malam pertengahan di bulan tersebut, yakni malam tanggal 15. Pada malam ini, Allah mengampuni segala dosa hamba-Nya, sehingga dikenal sebagai lailatul maghfirah atau malam pengampunan. Umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan sunnah untuk meraih keutamaan malam Nisfu Sya’ban.


Salah satu aspek yang menjadikan bulan Sya’ban istimewa adalah bahwa pada bulan ini, semua amal kita diserahkan kepada Allah SWT. Sebagaimana hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW, Rasulullah SAW menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.”


Penyerahan amal ini mencakup seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh. Walaupun ada waktu-waktu lain yang menjadi waktu penyerahan amal kepada Allah, seperti setiap siang, malam, setiap pekan, serta catatan amal shalat lima waktu, bulan Sya’ban tetap menjadi momen penting dalam menunaikan kewajiban tersebut.


Seorang ulama bernama Syekh Abdullah Muhammad al-Ghimari menuliskan sebuah risalah yang menjelaskan keutamaan-keutamaan malam tersebut. Risalah itu beliau namai dengan judul Husnul Bayan fi Lailatin Nishfi min Sya’ban.


Dalam kitab yang ditulisnya tersebut ada 10 hadis yang beliau paparkan, di antaranya adalah hadis di bawah ini:


 إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ، أَلَا مِنْ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ، أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطَّلِعَ الْفَجْرَ 


Artinya: “Ketika malam Nisfu Sya’ban tiba, maka beribadahlah di malam harinya dan puasalah di siang harinya. Sebab, sungguh (rahmat) Allah turun ke langit dunia saat tenggelamnya matahari. Kemudian Ia berfirman: “Ingatlah orang yang memohon ampunan kepadaKu maka Aku ampuni, ingatlah orang yang meminta rezeki kepada–Ku maka Aku beri rezeki, ingatlah orang yang meminta kesehatan kepada–Ku maka Aku beri kesehatan, ingatlah begini, ingatlah begini, sehingga fajar tiba.” 


Sementara atsar yang dikutip Syekh Abdullah adalah riwayat Nauf al-Bikali, dia berkata, “Sungguh Ali pada malam Nishfu Sya’ban beliau keluar (dari rumah) dan mengulanginya berkali-kali seraya melihat ke langit. Beliau berkata:


  إِنَّ هٰذِهِ السَّاعَةَ مَا دَعَا اللهُ أَحَدٌ إِلَّا أَجَابَهُ، وَلَا اسْتَغْفَرَهُ أَحَدٌ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ إِلَّا غَفَرَ لَهُ، مَا لَمْ يَكُنْ عَشَّارًا أَوْ سَاحِرًا أَوْ شَاعِرًا أَوْ كَاهِنًا أَوْ عَرِيفًا أَوْ شَرْطِيًّا أَوْ جَابِيًا أَوْ صَاحِبَ كُوبَةٍ أَوْ غَرْطَبَةٍ. اَللهم رَبَّ دَاوُدَ اغْفِرْ لِمَنْ دَعَاكَ فِي هٰذِهِ اللَّيْلَةِ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَكَ فِيهَا. 


Artinya: “Sungguh saat ini tidaklah seseorang berdoa kepada Allah melainkan akan Ia kabulkan, tidaklah seseorang memohon ampunan kepada–Nya pada malam ini melainkan Ia akan mengampuninya, selama ia bukan seorang ‘asysyar (penarik pungutan liar), tukang sihir, tukang syair, tukang ramal, pengurus pemerintahan suatu daerah, tentara pilihan penguasa, penarik zakat, pemukul genderang dan tambur.”
 


Hikmah Terbaru