• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 27 Februari 2024

Ubudiyah

Bulan Sya'ban dan Jalan Mencapai Kesucian Jiwa

Bulan Sya'ban dan Jalan Mencapai Kesucian Jiwa
Bulan Syaban dan Jalan Mencapai Kesucian Jiwa
Bulan Syaban dan Jalan Mencapai Kesucian Jiwa


Sya’ban merupakan bulan yang dianjurkan untuk memperbaiki diri dari keburukan, walau tidak termasuk pada bulan asyhurul hurum yaitu empat bulan yang mulia (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrram, dan Rajab) tetapi bulan ini juga memiliki keistimewaan tersendiri di banding bulan lainnya.

 

Bulan ini diapit oleh dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadhan. keistimewaan Sya’ban disebut sebagai bulan Nabi Muhammad saw. Hal demikian disampaikan langsung oleh Rasulullah saw, bahwa Rajab sebagai bulan Allah, Ramadhan sebagai bulan umat Nabi Muhammad saw, sedangkan Sya’ban adalah bulannya.

 

Syekh Yahya bin Mu’adz, sebagaimana disebutkan dalam kitab Duratun Nashihin, memaknai bulan Sya’ban dari masing-masing huruf penyusun katanya. Kata “Sya’ban” (شعبان) terdiri atas lima huruf:   ش (syin) berarti asy-syafa’ah wasy syarafah (pertolongan dan kemuliaan)  ع (‘ain) berarti al-‘izzah wal karamah (kemuliaan dan kehormatan)   ب (ba’) berarti al-birr (kebajikan)   ا (alif) berarti al-ulfah (kecondongan atau kasih sayang) ن (nun) berarti an-nur (cahaya atau menerangi)


Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa bulan Rajab adalah pembersihan badan, Sya’ban pembersihan hati, dan Ramadhan adalah pembersihan ruh. Inilah dimensi yang menjadi fokus pendidikan dalam rangkaian tiga bulan secara berurutan. Lantas, bagaimana cara mendidik dimensi-dimensi tersebut?   

 

Sebagian ulama ahli hikmah mengatakan:

 

   إن رجب للاستغفار من الذنوب وشعبان لإصلاح القلب من العيوب ورمضان لتنوير القلوب وليلة القدر للتقرب إلى الله تعالى   

 

“Bulan Rajab adalah bulan untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun) dari dosa-dosa, bulan Sya’ban untuk memperbaiki hati dari cela/keburukan, bulan Ramadhan untuk menerangi hati dan Lailatul Qadar sebagai media mendekat kepada Allah” (Syekh Utsman Bin Hasan, Duratun Nashihin, Semarang: Toha Putra, hal. 207).

 

Pengertian teserbut senada dengan istilah takhalli, tahalli, dan tajalli dalam dunia tasawuf. Ketiga istilah ini merupakan fase-fase yang harus ditempuh oleh siapa saja dalam mencapai kesempurnaan dan kesucian jiwa.

 

Pertama, takhalli, yakni pengosongan diri dari sifat-sifat tercela. Oleh karenanya dalam maqamat (tingkatan-tingkatan spiritual), tobat diletakkan di bagian yang paling awal. Bagaimanapun mulianya niat seseorang, tanpa mendahulukan diri bertobat maka ia tidak akan bisa menempuh pada maqam (tingkatan) berikutnya. Tobat berarti menyesali perbuatan dosa yang telah lalu, bertekad tidak akan mengulanginya kembali, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Salah satu bentuk penyesalan seorang hamba atas dosa-dosanya adalah selalu memohon ampun kepada Allah yang maha pemberi tobat.
 

   وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُورًا رَحِيمًا (١١٠)   
 

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An-Nisa: 110).   


Kedua, tahalli, yakni menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Setelah melewati tahap pertama yaitu tobat, selanjutnya adalah menghiasi diri dengan amal-amal yang baik. Ibarat rumah, untuk dapat ditempati secara layak dan nyaman tentu harus melewati tahap pengosongan atau pembersihan, baru setelah itu dihias sebagaimana umumnya rumah hunian. Kebaikan pulalah yang dapat menghapus segala keburukan yang pernah dilakukan.   
 

Sebagaimana sabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
 

   اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن. (رواه الترمذي)   


“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti (kebaikan itu) akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR At-Tirmidzi).   


Dan dalam firman Allah dijelaskan


   وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (١١٤)   


“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (Allah)” (QS Hud: 114).   


Ketiga, tajalli, yakni terungkapnya nur ghaib bagi hati yang telah bersih sehingga mampu menangkap cahaya ketuhanan (Syamsul Munir, Ilmu Tasawuf, 2012: 209).   


Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa momentum bulan Sya’ban, termasuk Rajab dan Ramadhan bukan sekadar pesta panen pahala dengan berbagai bentuk ibadah. Esensi dari aktivitas di dalamnya tidak lain adalah menggapai kesempurnaan hidup. Harapannya selepas Ramadhan nanti benar-benar menjadi golangan orang-orang yang kembali dan membawa kemenangan, minal âidîn wal fâizîn.   


Beberapa kesunnahan di bulan Sya’ban di antaranya adalah memperbanyak puasa. Hal ini didasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anh:


   فَمَا رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ اِلَّا رَمَضَانَ وَمَارَاَيْتُهُ اَكْثَرَ صِيَامُا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ (رواه البخاري)   


Sayyidah aisyah berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan tidak pernah melihat Rasulullah memperbanyak puasa dalam satu bulan selain bulan Sya’ban” (HR. Bukhari).   


Selain mengandung nilai pahala, puasa juga memiliki hikmah yang besar terhadap kesalehan dan kesucian jiwa. Pertama, puasa merupakan media latihan bersabar. Selama satu hari penuh seseorang dilatih menahan diri dari segala keinginan jasmani dan rohani. Hal ini memungkinkan seseorang memiliki sifat penyabar. Karena inti dari kesabaran adalah ketika seseorang dapat menahan diri dari segala tuntutan hawa nafsunya.


   يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اِسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَائَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَاحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخارى)   


“Wahai pemuda barang siapa di antara kamu telah memiliki cukup bekal untuk menikah, maka menikahlah, karena yang demikian itu dapat menjaga pandangan, dan farji (alat kelamin). Dan barangsiapa yang tidak mampu maka baginya berpuasa, karena hal itu dapat menjadi tameng” (HR. Bukhari).   
 

Kedua, puasa melatih seseorang untuk mensyukuri nikmat Allah. Manusia biasanya baru akan merasakan nikmatnya sesuatu ketika nikmat itu sudah dicabut oleh Allah. Nikmat sehat akan sangat terasa ketika mengalami sakit. Kebahagiaan akan terasa nikmatnya ketika mengalami kesusahan. Makan dan minum adalah nikmat yang luar biasa ketika merasakan lapar dan dahaga.   


Ketiga, menumbuhkan rasa cinta kepada sesama terutama orang-orang fakir dan miskin. Berpuasa berarti mengalami bagaimana rasanya menahan lapar dan dahaga selama sehari penuh. Badan lemah tak berdaya karena kekuarangan energi. Itulah yang dialami orang-orang yang tak berpunya dalam kehidupan sehari-hari. Puasa mendorong munculnya rasa cinta, kasih dan sayang kepada setiap yang membutuhkan. Menumbuhkan sifat dermawan, suka menolong, simpati, dan empati terhadap sesama.   


Keempat, puasa merupakan latihan keikhlasan. Ibadah puasa tidak dapat digambarkan, apalagi dipamerkan kepada orang lain. Batal tidaknya hanya diri dan Allah yang tahu. Ketulusan seseorang diuji ketika ibadah mereka tak terlihat oleh orang lain. Kelima, menjadikan pribadi yang takwa.


Editor: Abdul Manap
 


Ubudiyah Terbaru