Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Bekal Para Dai dan Muballigh

Bekal Para Dai dan Muballigh
(Foto: NU Online).
(Foto: NU Online).

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Para Dai, muballigh atau juru dakwah adalah sekelompok masyarakat dari kita semua yang mengajak umat manusia secara keseluruhan agar mengikuti petunjuk Allah SWT. Para Dai mengajak sesama manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan kebijaksanaan serta dengan usaha-usaha yang terpuji. Hal ini dilakukan, agar obyek dakwah dapat menerima ajakan itu dengan keinsafan dan kesadaran. Agar sampai pada tujuan dakwah yang maksimal, seorang juru dakwah hendaknya mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup sebelum terjun ke lapangan di tengah-tengah masyarakat. Persiapan dan bekal yang harus dimiliki para dai sangat banyak dan luas, antara lain:

  • Ilmu Pengetahuan yang Luas

Ilmu pengetahuan sangat diperlukan para dai, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Ilmu pengetahuan agama menyangkut berbagai disiplin ilmu agama Islam seperti tafsir, hadis, akhlak, akidah, tasawuf dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Ilmu-ilmu tersebut diperlukan sebagai materi dakwah yang disampaikan kepada umat, baik secara perorangan maupun kelompok. 

Ilmu pengetahuan umum diperlukan para da’i dan muballigh sebagai penunjang yang dominan, agar dakwahnya dapat diterima oleh masyarakat. Seorang dai yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, dakwahnya akan sulit diterima oleh khalayak ramai. Metode penyampaian dan uraian-uraiannya yang disampaikan da’i yang tidak berilmu pengetahuan tidak sejalan dengan pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat.

Keutamaan ilmu pengetahuan dan orang-orang yang memilikinya banyak disebutkan dalam al-Qur’an ataupun as-Sunnah. 

وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا  

“Dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". (Q.S. Thaha, 20: 114).
Orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan mengarjakan ilmu tersebut pada orang lain, serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari akan ditempatkan oleh Allah s.w.t. di tempat yang mulia. Mereka akan memperoleh kebahagiaan dan karunia, baik di dunia ataupun di akhirat.

فَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ  

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Mujadilah, 58:11).

Allah memberikan kesaksian terhadap ilmu pengetahuan dan orang-orang yang memilikinya, karena itu mereka yang berilmu senantiasa mentauhidkan Allah dan menyaksikan keagungan-Nya. Kesaksian yang agung itu dibarengi pula oleh kesaksian para malaikat sebagai karunia yang luhur, yang tidak diberikan pada kelompok lain. Ilmu pengetahuan yang kita miliki bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, akan tetapi juga bermafaat bagi orang lain yang berada di sekitar kita. 

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”. (Q.S. Ali Imran, 3: 18).

Dalam beberapa Hadis Nabi s.a.w. disebutkan berbagai keutamaan orang yang berilmu pengetahuan, karena ilmu itu dapat membimbing umat manusia dan menerangi mereka ke jalan yang diridhai Allah s.w.t.. 

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (رواه البخاري ومسلم)

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka ia akan memahami agamanya”. (HR. Bukhari, No: 19, Muslim, No: 1721).

Dalam Hadis lain disebutkan bahwa orang yang berilmu, kemudian mengajarkan ilmunya kepada orang lain, akan mendapat simpati dan permohonan ampun bagi orang itu dari penghuni langit dan bumi. Allah dan para malaikat-Nya, mengucapkan selamat kepada mereka karena kemulian yang diperolehnya.

إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْبَحْرِ (رواه ابن ماجة)

“Sesungguhnya orang yang berilmu dimohonkan ampun baginya oleh penghuni langit dan bumi, sampai ikan yang ada di lautan yang luas.” (HR. Ibnu Majah, No. 235).

Mengenai ilmu pengetahuan, Imam Ahmad Ibnu Hanbal mengatakan, bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu pengetahuan daripada makanan dan minuman. Kebutuhan pada makanan dan minuman hanya sementara waktu, sedangkan kebutuhan kepada ilmu sepanjang waktu, bahkan setiap hembusan nafas. Imam al-Syafi’i, Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan, bahwa mencari ilmu lebih utama dari mengerjakan shalat sunnah. Itulah modal dasar yang harus dimiliki para Dai dan Muballigh.

  • Memiliki Iman yang Kuat

Yang dimaksud iman yang kuat adalah keyakinan para Dai terhadap agama Islam harus senantiasa kokoh dan tidak boleh goyah. Ia harus berkeyakinan bahwa Islam adalah petunjuk yang tebaik bagi umat manusia di mana saja mereka berada. 

قُلِ ٱللَّهُ يَهۡدِي لِلۡحَقِّۗ  

“Katakanlah: "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran". (Q.S. Yunus, 10: 35).

Keyakinan terhadap kebenaran Islam itulah yang menjadi prinsip hidup seorang Dai, dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Setiap penyelewengan prinsip tersebut adalah suatu kesesatan yang nyata, yang lahir dari hawa nafsu yang tercela.

قُلۡ إِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ قُل لَّآ أَتَّبِعُ أَهۡوَآءَكُمۡ قَدۡ ضَلَلۡتُ إِذٗا وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya Aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah". Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah Aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) Aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk". (Q.S. Al-An’am, 6:56).

  • Konskuen dan Tidak Ragu

Seorang Dai atau Muballigh sebagai pembimbing manusia menuju jalan yang diridhai Allah, harus senantiasa konskwen memihak dan membela kebenaran semata. Ia tidak dihinggapi keraguan dan kebimbangan pada saat menghadapi pilihan, antara prinsip kebenaran atau kedudukan serta materi dan kemewahan. Dikalangan masyarakat dijumpai ada sebagaian manusia yang memeluk Islam dan beribadah kepada Allah berdasarkan untung rugi dalam kehidupan materi. Apabila dengan menjadi muslim itu menguntungkan dirinya dan kemewahan dunia lainnya maka ia tetap dalam agama itu. Sebaliknya apabila ternyata hal itu merugikan dirinya yang berkaitan dengan kedudukan, materi dan kemewahan, segera ia loncat meninggalkan agama Islam tersebut. 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ  

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Q.S. Al-Hajj, 22:11).

  • Menjalin Hubungan Vertikal dan Horizontal

Sebagai manusia yang ditugaskan menyampaikan kebenaran di tengah-tengah masyarakat, seorang Dai harus senantiasa menjaga keseimbangan hubungan vertikal, yaitu hubungan dengan Allah s.w.t. dalam ibadah. Demikian juga harus senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan sesama umat manusia yang sering disebut hubungan horizontal yang disebut juga dengan istilah mu’amalah. Kedua hubungan tadi dalam istilah al-Qur’an disebut “Hablum Minallah dan Hablum Minnaas”. Selain dari bekal di atas, banyak lagi bekal lain yang harus dimiliki para Dai seperti keikhlasan, tabah, kesungguhan dalam berjuang dan tidak mengenal putus asa.

Keikhlasan dan ketabahan, dan berusaha secara sungguh-sungguh merupakan modal yang sangat diperlukan bagi seorang Dai. Dengan sikap ikhlas, seorang Dai akan terus berdakwah, menyeru umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah dan mencegah mereka dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Dai seperti itu tidak akan mengenal pamrih terhadap kehidupan dunia, dan akan terus berusaha tanpa mengenal lelah. Ia senantiasa berorientasi pada suatu perjuangan yang menuju kepada kemashlahatan ummat secara umum. Perjuangan seperti itulah yang akan mengantarkan dakwah islamiyah pada kemajuan yang tinggi.

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ  

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Q.S. Al-Bayyinah, 98: 5).

Selain dari bekal yang disebutkan di atas, juga harus memiliki kesabaran dan ketabahan. Kegiatan dakwah biasanya selalu mengahadapi berbagai macam rintangan dan tantangan baik dari luar maupun dari dalam, karena itu, hanya dai yang membekali dirinya dengan ketabahanlah yang akan memperoleh kesuksesan. Sebaliknya seorang dai yang tidak tabah, bersikap emosional dan tidak mengindahkan kode etik dari dakwah islamiyah akan mengalami kegagalan yang fatal. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ  

“Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali Imran, 3:200).

Setiap muslim hedaklah menjadi dai, yaitu orang yang mengajak kepada kebenaran yang diajarkan al-Qur’an dan al-Sunnah, menurut kemampuan masing-masing. Seorang yang berprofesi sebagai pengusaha, hendaklah ia menjadi pengusaha yang dai. Bila ia menjadi seorang dokter, hendaklah menjadi seorang dokter yang dai dan seorang dai yang dokter. Demikian juga profesi-profesi lainnya yang harus ditekuni dengan baik dan berfungsi juga sebagai dai. Nabi bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً (رواه البخاري)

“Sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat”. (HR. Bukhari, No: 3202).

Penulis merupakan salah seorang Rais Syuriyah PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×