Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Abu Al Ala Al Ma'arri: Galau dan Kritis (2)

Abu Al Ala Al Ma'arri: Galau dan Kritis (2)
(Sumber Ilustrasi: NUO).
(Sumber Ilustrasi: NUO).

Oleh: KH Husein Muhammad
Abu al-‘ala al-Ma’arri menempuh pendidikan keagamaan tradisional, dan belajar di beberapa negara lain, terutama Irak. Ia memperlajari tafsir, hadits, fiqh dan sejenisnya. Tetapi bakatnya yang besar justeru pada bidang sastra.

 

Ia amat mengagumi penyair Arab terbesar sepanjang sejarah ; Al-Mutanabbi (915 M) dan para sastrawan besar lainnya.  Ia kemudian menjadi penyair besar. Puisi-puisinya mengalir demikian indah, bahkan oleh sebagian pengagumnya dipandang seperti Mu’jizat. Tetapi hampir semua puisinya mengungkapkan perasaan dan pandangan-pandangannya yang sangat pesimistis dan skeptic dalam memandang kehidupan di dunia ini.

 

Meski seorang tunanetra, Ma’arri sangat memahami situasi social, budaya dan politik pada zamannya yang kacau, korup dan kekerasan. Ia acap melancarkan kritik yang sangat tajam dan menohok terhadap perilaku para pemimpin agama, bukan hanya Islam tetapi juga agama-agama lain: Yahudi dan Nasrani.

 

Dalam waktu yang sama ia juga mengkritisi  para penguasa. Ia mengecam keras para pemimpin agama (Rijal al-Din) yang terus mengeksploitasi masyarakat awam untuk kepentingan diri sendiri. Mereka acap melakukan kolaborasi dengan para penguasa yang sangat korup untuk saling mencari kedudukan, jabatan politik dan gelimang kemewahan di atas penderitaan rakyatnya. Mereka menjual agama dengan harga murah.

 

Al-Ma’arri dikenal juga sebagai seorang pemikir bebas (liberal). Ia percaya pada kekuatan akal. Karena itu ia juga mengkritik pedas doktrin-doktrin keagamaan formalistic dan tekstual yang sering tidak masuk akal dan dinilai membodohi rakyat. Rakyat awam dininabobokan dengan janji-janji sorga dan ditakut-takuti siksa neraka. Pemerintahan di berbagai Negara Arab dipimpin oleh otak-otak penuh hasrat duniawi. Ia kehilangan pemimpin keagamaan yang saleh dan jujur. Ini semua ia tulis dalam syair-syair yang ditulisnya dalam bukunya “Ilzam Ma La Yulzam” atau lebih dikenal dengan “Luzumiyyat al-Ma’arri”.

 

يكفيك حزناً ذهاب الصالحين معــاً  
ونحـنُ بعدهم في الأرض قطّان
إنّ العراق وإنّ الشــــام مـــد زمنٍ  
صفــران، ما بهمــا للملك سلطان
والشام فيه وقود الحرب مشتعل 
 يشابه القوم شدت منهمو الحجز
ساس الأنـــــــام شياطين مسلطــــةٌ   
فــي كلّ مصرٍ من الوالين شيطان
يَسوسونَ الأمورَ بغَيرِ عَقلٍ  
فينفُذُ أمرُهم، ويقالُ: ساسَهْ

 

O, betapa kita kehilangan orang-orang saleh
Kita hidup bagai kapas terbang di atas tanah
Irak dan Siria sejak lama sepi pemimpin
Siria meletus perang setiap hari
Rakyat di sana terperangkap dalam ketakutan
Rakyat di berbagai Negara dipimpin para penguasa
Dengan pikiran setan
Mereka memimpin tanpa akal
Dan kebijakan mereka dipaksakan
Konon begitulah cara mengatur

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×