Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Tawis Cinta, Keluarga Besar Al-Huda Gelar Tahlil 100 Hari Wafatnya KH Irfan Hadian Bannany

Tawis Cinta, Keluarga Besar Al-Huda Gelar Tahlil 100 Hari Wafatnya KH Irfan Hadian Bannany
Tawis Cinta, Keluarga Besar Al-Huda Gelar Tahlil 100 Hari Wafatnya KH Irfan Hadian Bannany.
Tawis Cinta, Keluarga Besar Al-Huda Gelar Tahlil 100 Hari Wafatnya KH Irfan Hadian Bannany.

Garut, NU Online Jabar
Sudah menjadi ketetapan yang pasti, bahwa setiap makhluk yang bernyawa, termasuk di dalamnya manusia akan mendapatkan kematian. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam QS ali-Imran ayat 185 dan QS al-A’raf ayat 34.


كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.


Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan. Dan ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Qs ali-Imran [3]: 185).


وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ.


Artinya: “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu tertentu). Apabila ajalnya tiba, maka mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (Qs al-A’raf [7]: 34).


Oleh karena itu, boleh jadi secara lahiriah orang yang telah meninggal dunia akan berpisah raga dengan orang yang masih hidup. Dan di antara mereka tidak mungkin lagi dapat berkomunikasi sebagaimana halnya kehidupan di dunia. 


Namun, secara batiniah, sesungguhnya di antara mereka masih terdapat satu ikatan atau hubungan yang semestinya harus tetap terjaga dan terpelihara. Hubungan batiniah tersebut yakni hubungan doa sebagai bukti (tawis) cinta dari seseorang yang hidup kepada mereka yang telah meninggal dunia.


Hal di atas seperti yang dilakukan oleh alumni, santriawan-santriawati dan keluarga besar Ponpes Al-Huda dengan menggelar acara tahlil dan doa dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya KH Irfan Hadian Bannany, Ahad (18/9/2022).


Gelaran tahlil dan doa yang dipanjatkan merupakan sebagai wujud rasa cinta dari para muhibbin Ponpes Al-Huda terhadap guru yang telah meninggal dunia, juga sebagai usaha untuk ngalap berkah (tabaruk) dari orang-orang-orang tercinta atau guru yang jadi panutan semasa hidupnya.


Selaras dengan apa yang diutarakan oleh Aceng Muhammad Rifki Bannany selaku ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIH & Umrah) Al-Huda, pasca ditinggal wafat KH Ulumuddin Bannany (2009) dan KH Irfan Hadian Bannany (2022), ia menjelaskan terkait dengan tujuan dilaksanakannya tahlil dan doa untuk orang yang telah meninggal dunia.


“Biasanya, di dalam acara tahlil maupun haul itu, ada tiga tujuan utama yang diniatkan para jemaah. Pertama, yaitu sebagai sarana memintakan ampun (istigfar) bagi almarhum-almarhumah yang telah meninggal dunia. Kedua, sebagai sarana untuk mengambil suri teladan baik dari mereka yang semasa hidupnya penuh dengan perbuatan-perbuatan baik. Dan yang ketiga yaitu sebagai sarana bagi para jemaah untuk meraih keberkahan ilmu yang telah diberikan dari orang-orang tercinta atau guru semasa mereka masih hidup di dunia” ucap pria yang menjabat sebagai wakil sekretaris PCNU Kabupaten Garut itu.


Sementara itu, Ceng Rifki sapaan akrabnya, mengisahkan kisah hidup dan suri teladan dari almarhum KH Irfan Hadian Bannany yang kiranya dapat diambil contoh oleh para jemaah. Menurutnya, beliau merupakan sosok pria yang rendah hati (tawadhu) kepada setiap orang, terutama ketika mengelola Ponpes dan KBIH & Umrah Al-Huda.


“Beliau (KH Irfan Hadian Bannany), bagi saya tidak hanya sebagai kakak kandung saja, tetapi juga sebagai seorang guru yang telah membimbing saya dalam menjaga dan merawat keberadaan Ponpes dan KBIH Umrah Al-Huda. Terlebih pasca ditinggal wafat ayahanda kami KH Ulumuddin Bannany pada tahun 2009, beliaulah salah satu pembimbing saya dalam merawat ponpes dan KBIH & Umrah Al-Huda. Ciri utama dari almarhum KH Irfan Hadian Bannany yang saya kenang adalah ketawadhuannya dalam bergaul dan dalam mengelola Ponpes dan KBIH & Umrah Al-Huda,” pungkasnya.


Perlu diketahui, KH Irfan Hadian Bannany yang wafat pada 9 Juni 2022 merupakan putera KH Ulumuddin Bannany, cucu dari Syaikhuna KH Sirojuddin (Pendiri Ponpes Al-Huda, Tarogong-Garut) yang semasa hidupnya pernah menjadi Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Garut masa bakti 2001-2003. Sementara, Ponpes Al-Huda sendiri merupakan salah satu ponpes tertua dan terkemuka di Kabupaten Garut yang menjadi rujukan banyak orang tua dalam memondokkan para putera-puterinya.


Pewarta: Rudi Sirojudin Abas
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Garut Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×