• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 27 Mei 2024

Ubudiyah

I'tikaf, Memalingkan Raga Memulihkan Jiwa

I'tikaf, Memalingkan Raga Memulihkan Jiwa
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Di penghujung bulan Ramadhan, tepatnya sepuluh hari terakhir, i'tikaf menjadi amalan yang mendapat perhatian lebih dari Rasulullah SAW. Bukan sekedar menanti Lailatul Qadar, lebih dari itu i'tikaf adalah ikhtiar menyegarkan jiwa (qolb), mengembalikan kepada fungsi asalnya sebagai organ transenden penangkap cahaya ilahi.


Banyaknya berinteraksi dengan dunia luar, sadar maupun tidak sadar, sering kali terbawa dan mengendap di dalam hati.


Semakin lama dibiarkan maka semakin menumpuk residu-residu dunia, hati pun semakin sesak dengan tempelan-tempelan dunia, hingga sedikit ruang untuk mengenal Allah. Karenanya harus segera dipulihkan dan disegarkan, sehingga menjadi bersih, ringan, bahagia serta mudah menerima cahaya ilahi. Salah satu terapinya seperti yang dicontohkan Nabi adalah i'tikaf


I'tikaf adalah momen memalingkan raga dari seluruh kegiatan duniawi dan interaksi horizontal untuk mengerahkan seluruh perhatian kepada dimensi rohani. Tujuannya bukan mengasingkan raga, melainkan memalingkan jiwa agar intens bermunajat dengan Allah SWT.


قطع العلائق عن الخلائق للاتصال بخدمة الخالق 


Pemalingan raga sebagai upaya mengondisikan jiwa untuk sementara waktu tidak terlibat langsung dengan aktivitas duniawi yang berpotensi mengganggu kesyahduan bermunajat.


Demi kesyahduan bermunajat, aturan fiqih tidak memperkenankan mu'takif (pelaku i'tikaf) keluar mesjid, mengobrol, bergurau, berselancar di medsos, dan lain-lain.


Dengan demikian, amalan selama beri'tikaf adalah seluruh amalan yang dapat menguatkan relasi rohani dengan Tuhannya, baik tilawah, shalat, do'a, dzikir, tafakkur, muhasabah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kegiatan lainnya yang diperkenankan selama beri'tikaf apapun yang menjadi kebutuhan asasi manusia, seperti makan, minum, buang hajat, dan lain-lain. Wallahu 'alam.


A Deni Muharamdani, Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) MWCNU Karangpawitan Garut


Ubudiyah Terbaru