Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mensyukuri Karunia dan Nikmat

Mensyukuri Karunia dan Nikmat
Mensyukuri Karunia dan Nikmat
Mensyukuri Karunia dan Nikmat

Setiap diri manusia muslim, diarahkan al-Qur’an dan al-Sunnah agar senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita. Nikmat dan karunia Allah yang dianugerahkan kepada kita sangat banyak, demikian banyaknya karunia itu, sehingga tidak mungkin bisa dihitung.


وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ


"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Nahl, 16:18).


Kita bersyukur diawali dengan mensyukuri nikmat yang paling agung, yaitu nikmat iman dan Islam. Itulah nikmat yang kita miliki selamanya. Mensyukuri nikmat ini dengan jalan menjaga agar iman kita selalu meningkat, dengan jalan berbuat kebajikan dan menghindari perbuatan tercela. Iman yang dimiliki setiap orang muslim, bisa bertambah atau berkurang. Apabila kita mengerjakan amal yang baik, maka iman kita bertambah terus meningkat. Sebaliknya, apabila kita lakukan perbuatan yang tercela, maka iman kita akan terus berkurang sampai ke titik nadir atau zero (nol besar). Nabi bersabda:


لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهو مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهو مُؤْمِنٌ


"Tidaklah berzina seorang pezina pada saat ia berzina, apabila ia mukmin, dan tidaklah mencuri seorang pencuri pada saat ia mencuri apabila ia mukmin,". (HR. Bukhari, 6782).


Maksud hadits ini dapat dipahami dengan mudah sebagai berikut: tidaklah sekali-kali seorang pezina ketika ia berzina kecuali imannya sedang kosong. Tidaklah sekali-kali seorang pencuri pada saat dia mencuri, kecuali imannya sedang kosong. Nikmat terbesar kedua adalah nikmat kesehatan lahir dan batin, sehat fisiknya dan sehat ruhaninya. Mensyukuri nikmat ini kita lakukan dengan menjaga kesehatan kita, mengonsumsi makanan yang halal dan baik, serta tidak berlebihan, demikian juga berolahraga dengan teratur.


Kesehatan yang kita miliki hendaknya terus digunakan untuk beribadah dan beramal shaleh dengan penuh keikhlasan dan semata-mata mencari keridhaan Allah s.w.t.. Jangan sampai terjadi pada diri kita menggunakan kesehatan hanya untuk melakukan berbagai hal yang sia-sia, apalagi yang merusak. Kegiatan seperti itu akan mencampakkan kita pada kehancuran dan kehinaan.


اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ : شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ


Manfaatkan lima kesempatan sebelum datangnya yang lima, yaitu: (1) masa mudamu sebelum tuamu, (2) masa sehatku sebelum sakitmu, (3) masa kayamu sebelum miskinmu, (4) masa luangmu sebelum sibukmu, (5) masa hidupmu sebelum matimu. (HR. Hakim, 7846).


Nikmat Allah yang agung berikutnya (3) sehat ruhani dan jasmani kita. Nikmat ruhani yang diberikan kepada kita merupakan sesuatu yang sangat luhur, yaitu akal, pikiran, dan kalbu. Mensyukuri akal hendaknya kita memfungsikan akal kita untuk berpikir yang baik, merenungi keagungan Allah, dan berusaha dengan akal pikiran kita untuk melakukan penelitian dan riset sehingga menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Kalbu yang kita miliki hendaknya digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, serta keagungannya yang tersebar pada alam semesta.


Bagian dari kesehatan ruhani dan jasmani kita diwujudkan dalam hal berikut:

 
  1. Lisan, hendaknya kita gunakan untuk berbicara yang baik, bertutur kata yang terpuji, zikir, tahmid, dan sebagainya. Hindari lisan kita dari bergunjing, mencela, dan menghina orang lain.
  2. Mata, digunakan untuk melihat kebenaran dan melihat hal-hal yang terpuji, hindari melihat hal-hal yang tercela seperti perbutan maksiat memandang aurat orang lain dan sebagainya.
  3. Telinga, hendaknya mendengar hal-hal yang baik seperti bacaan Qur’an, nasehat-nasehat dari ulama, dan mendengar yang lainnya yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
  4. Kedua tangan, hendaklah digunakan untuk mengambil hal-hal yang baik dan menolak yang buruk, memberi bantuan kepada orang lain seperti bersedekah, berzakat, dan sebagainya.
  5. Kedua kaki hendaklah digunakan untuk melangkah menuju tempat-tempat yang baik, melangkah untuk melakukan shalat jemaah dan ibadah-ibadah lain ke masjid, mushalla dan sebagainya.
  6. Kekuatan. Kekuatan yang dianugerahkan Allah kepada kita hendaknya digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang terpuji dan tidak digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.
  7. Harta. Harta yang dianugerahkan Allah kepada kita, hendaknya diambil dengan catra yang halal, dikelola dengan cara yang halal pula dan dibelanjakan untuk kebajikan. Diambil dengan cara yang baik misalnya dengan bekerja, berdagang, bertani, nelayan, dan perbuatan halal lainnya. Mengelola keuangan yang baik maksudnya pengelolaannya sesuai dengan syariat Islam, tidak melakukan riba, judi, manipulasi, dan sebagainya. Dibelanjakan untuk kebajikan maksudnya, uang yang kita miliki digunakan untuk menafkahi keluarga untuk zakat, sedekah, membantu perjuangan dan pendidikan, diberikan untuk amal jariah dan menyiapkan dana untuk biaya belajar anak-anak kita.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×