• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 23 Mei 2024

Syariah

KOLOM KH IMAM NAKHA'I

Senandung Cinta; Pandangan Al-Ghazali Tentang Musik

Senandung Cinta; Pandangan Al-Ghazali Tentang Musik
Senandung Cinta; Pandangan Al-Ghazali Tentang Musik
Senandung Cinta; Pandangan Al-Ghazali Tentang Musik

Menarik membaca tema kenikmatan mendengar dan senandung cinta (as sama' wa Al wajdu) dalam kitab fenomenal beliau, Ihya' Ulumuddin.


Al-Ghazali menolak pandangan yang mengharamkannya secara mutlak berdasar dalil dalil yang disajikan. Pada saat yang sama ia juga menolak pandangan yang membolehkan secara mutlak. Bagi Al-Ghazali, pada dasarnya mendengar musik, syair, sajak, sastra tidaklah haram. Keharaman bukan terletak pada diri musik itu sendiri, melainkan terletak pada apa isinya, tujuannya dan bagaimana ia dinyanyikan.


Jika isi musik berisikan pujian pujian rindu, memberi semangat untuk hidup lebih bermakna, membeningkan, menggembirakan, meresahkan, menggelisahkan, menggelorakan, menyejukkan, mebangkitkan, menenangkan, melembutkan, melunakkan, menjinakkan, menyatukan, memanusiakan, menggetarkan hati untuk terus ibadah kepada Tuhan dan berjuang untuk kemanusiaan, maka senandung rindu dan cinta bukan hanya boleh melainkan bisa menjadi wajib.


Al-Ghazali menyatakan;


من لم يحركه الربيع وأزهاره والعود وأوتاره فهو فاسد المزاح ليس له علاج


"Seorang yg tidak terenyuh hatinya dengan dedaunan yang menghijau dan warna warni bunga mawar serta tidak tergetar oleh petikan petikan kecapi, maka ia telah mati rasa, tiada obat baginya,".


Di kesempatan lain beliau menyatakan;


من لم يحركه السماع..فهو ناقص مائل عن الاعتدال بعيد عن الروحانية زائد فى غلظ الطبع وكثافته على الجمال والطيور بل على سائر البهائم فإن جميعها تتأثر بالنعناع الموزونة


"seorang yang tidak tergerak hatinya oleh merdu senandung cinta maka ia lemah nalarnya, tidak seimbang dan jauh dari "manusia ruhani", bahkan ia lebih keras dan bebal dari unta dan burung burung, sebab burung burung dan unta saja terenyuh dengan nyanyian nyanyian rindu".


Nyanyian cinta tidak hanya mampu mengelorakan rasa rindu dan cinta, melainkan ia mampu menghadirkan rahasia rahasia Tuhan yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Hati adalah wadah cinta Allah, wadah kerinduan Allah, wadah musyahadah kepada Allah. Nyanyian rindu tidak hanya menghidupkan jiwa tetapi bisa mengantarkan pada-Nya. Jika hati tidak terenyuh dengan indahnya nyanyian rindu, maka harus segera  mencari guru spiritual untuk menghidupkannya, karena berarti hatinya telah mati.


Al-Ghazali mengatakan;


السماع لا يجعل فى القلب ما ليس منه ولكن يحركه ما هو منه


 "senandung cinta tidak mengisi hati yang kosong, melainkan menggerakkan apa yg telah ada dalam jiwa".


Lagu Iwan Fals, Rhoma Irama, Ebiet G Ade, Ariel Noah, serta gambus pujian pada Baginda Nabi, untuk menyebut beberapa, bagi saya sangat menghibur dan menggetarkan, tinggal  mengalihkan obyeknya pada sang Maha Pengasih. Wallahu A'lam


KH Imam Nakha'isalah seorang Wakil Ketua LBM PBNU


Syariah Terbaru