Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mereka yang Berkhidmah di Jalur Katib Syuriyah (3)

Mereka yang Berkhidmah di Jalur Katib Syuriyah (3)
Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA.
Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA.

Bahwa Gus Dur ‘menemukan’ seorang Said Aqil Siradj, riwayatnya sangat sharih. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Kiai Said dalam berbagai kesempatan. Tanpa ragu ia mengakui bahwa Gus Dur adalah gurunya.

 

Saat masih kuliah di IAIN Bandung, saya pernah mengundang Kiai Said untuk menjadi narasumber dalam sebuah Sawala Budaya yang diadakan oleh Fakultas Adab pada 1996. Saya menemuinya di Ciganjur. Saat itu, ia sangat mudah ditemui dan menerima undangan. Rumahnya hanya sepelemparan batu dari kediaman Gus Dur. Ia juga menyerahkan sejumlah tulisan untk diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda. Beberapa di antaranya kemudian dimuat dalam tabloid Galura

 

Tahu kalau mahasiswa kesulitan dana kegiatan, Kiai Said meminta agar pada hari-H, panitia menjemputnya ke Hotel Homann. Soal keberangkatan ke Bandung dan urusan hotel, ia tanggung sendiri. Kegiatan sawala kami berlangsung meriah dengan kehadirannya. Saya baru sadar belakangan bahwa saat itu Kiai Said adalah Wakil Katib ‘Aam PBNU hasil Muktamar XXVIII Cipasung (1994). 

 

Soal awal keterlibatannya di PBNU, Kiai Said selalu mengenang pertemuannya dengan Gus Dur saat ia masih mengenyam pendidikan di Unversitas Ummul Qurra, Makkah. Pada tahun 1989, Kiai Said dihadapkan pada kondisi perekonomian yang sangat sulit karena telah berakhirnya jatah beasiswa. Dalam kondisi yang seperti itu, ia memutuskan untuk menerima tawaran sebagai imam di salah satu masjid di Saudi Arabia dengan bisyarah sebesar 1.000 real.

 

Dengan suara dan makhrajnya yang indah, akhirnya banyak pekerja Indonesia yang ikut berjamaah bersama Kiai Said di masjid tersebut. Dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang berjamaah itu terdapat Abdul Hamid, pekerja asal Kuningan yang masih berkerabat dengan Haji Sulaiman, kawan dekat Gus Dur.

 

Pada tahun yang sama, Sulaiman melaksanakan ibadah umrah dan ditemani oleh Abdul Hamid. Setelah selesai melaksanakan umrah, ia bertamu ke kediaman Kiai Said dan berlangsunglah obrolan yang membuatnya terkagum-kagum. Setelah kembali ke Indonesia, ia menceritakan pertemuanya itu kepada Gus Dur. 

 

Ketika Gus Dur melakukan umrah bersama rombongan, ia memilih meninggalkan hotel dan langsung mampir ke kediaman Kiai Said. Keduanya lalu terlibat diskusi panjang lebar tentang transformasi NU dan perkembangan politik nasional. Sejak saat itu, Kiai Said dibuat kagum atas kedalaman keilmuan Gusdur.

 

Setelah Gus Dur kembali ke Indonesia, ia beberapa kali sering mengungkapkan, “Kalau NU mau maju, cara berpikirnya harus diubah. Ini ada mahasiswa Indonesia sedang S3, nanti kalau pulang akan mengubah cara berpikir mainstream NU.”

 

Gus Dur kemudian seakan menjadi mursyid bagi Kiai Said yang mengajarkan tentang kehidupan, perjuangan dan pengabdian kepada umat.

 

"Gus Dur itu mengajarkan kepada saya ilmul hal. Ilmu yang saya pelajari di pesantren cocoknya digunakan untuk ini, tidak cocok untuk itu. Atau dalam memandang sesuatu, cocoknya pakai kacamata ilmu ini bukan ilmu itu. Begitulah Gus Dur mengajari saya." Demikian dinyatakan Kiai Said dalam sejumlah kesempatan.

 

Pada 1998, saat PKB didirikan, posisinya naik menjadi Katib ‘Aam PBNU menggantikan KH Dawam Anwar yang menjadi Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB. Dalam muktamar berikutnya, Kiai Said mencalonkan diri sebagau Ketua Umum PBNU. Namun baru pada Muktamar XXXII di Makassar 2010, ia berhasil menduduki posisi itu. Belakangan ia mengungkapkan sebuah ‘ramalan’ bahwa Gus Dur pernah mengatakan ia akan menjadi Ketua Umum PBNU pada waktu usiaanya mencapai 56 tahun. Saat Muktamar Makassar, usianya memang tepat 56 tahun.

 

Melalui Muktamar XXXIII di Jombang tahun 2015, Kiai Said terpilih kembali menjadi Ketua Umum PBNU. Dan kini dalam perhelatan Muktamar XXXIV di Lampung, ia akan kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum untuk ketiga kalinya.

 

Iip Yahya, dari berbagai sumber.

Terkait

Sejarah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik