• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Sejarah

Mencari Raden Ahmad

Mencari Raden Ahmad
Mencari Raden Ahmad
Mencari Raden Ahmad

Tentu saja judul di atas bukan bermaksud memplesetkan judul film garapan Angga Dwimas Sasongko, Mencuri Raden Saleh. Ini semacam judul sepedahan saya sore tadi.


Setelah seharian hanya leyeh-leyeh sembari mengamati foto-foto arsip yang ada di hp, saya tergerak untuk bangkit mencari kediaman Raden Ahmad. Ia adalah seorang pedagang kitab di Kota Banyuwangi sekitar dekade awal abad 20 (kisaran tahun 30-an).


Dalam penelusuran saya memeriksa dua lemari kitab peninggalan Kiai Saleh Lateng, saya menemukan nama Raden Ahmad di sejumlah kitab-kitab milik santrinya yang juga tertinggal di sana. Di sejumlah kitab itu, terdapat keterangan jika membelinya di Raden Ahmad. Di antaranya adalah kitab-kitab yang didistrubusikan oleh Salim Nabhan Surabaya. [Tampaknya, Salim Nabhan mengawali bisnis kitabnya sebagai distributor, sebelum kemudian mencetak sendiri].


Petunjuk tentang kediaman Raden Ahmad saya dapatkan di sampul kitab. Ada kertas yang tertempel dengan tulisan pegon:


بوله دافت بلي كفد
رادين احمد بن رادين حج عبد المجيب (؟)
لورۑ فاسر ايکن دکت لغݢر وقف کمفوغ
بسکالن باۑواغي


[boleh dapat beli kepada // Raden Ahmad bin Raden Haji Abdul Mujib (?/ kurang jelas terbaca)// lor-nya [utara] Pasar Ikan dekat langgar wakaf Kampung// Biskalan, Banyuwangi]


Berbekal alamat tersebut, saya segera mengayuh sepeda. Sekitar 3 km dari rumah. Kampung Biskalan ini terletak di Kelurahan Kepatihan. Sisi utara Pasar Banyuwangi. Jika pernah ke Mall PP, perkampungan di belakangnya itulah disebut Kampung Biskalan.


Setelah tanya-tanya, ada petunjuk tentang keberadaan langgar wakaf. Letaknya di pojok utara sebelah timur pasar. Di belakangnya toko parfum tepat di pertigaan antara Jalan Banterang dan Pangeran Diponegoro. Sayangnya, langgar wakaf itu sudah tidak berfungsi. Keberadaannya dikelilingi pemukiman padat. Aksesnya tertutup pintu besi.


Saya belum menemukan narasumber yang tepat untuk menguak keberadaan Raden Ahmad. Beberapa orang menyebut bahwa di sekitar itu memang ada sejumlah penduduk yang memakai gelar raden. Tapi, belum berhasil saya temui. Semoga di lain waktu, bisa teridentifikasi.


Siapa tahu masih ada harta karun Islam Nusantara yang tersimpan di sana?


Ayung Notonegoro, salah seorang Peneliti NU


Sejarah Terbaru