Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Cerita Ajengan Yayan Bunyamin di Akhir Bulan September

Cerita Ajengan Yayan Bunyamin di Akhir Bulan September
KH Yayan Bunyamin, saat memberikan materi Aswaja An-Nahdliyyah di MKNU Sumedang (Foto: NUS)
KH Yayan Bunyamin, saat memberikan materi Aswaja An-Nahdliyyah di MKNU Sumedang (Foto: NUS)

Bandung, NU Online Jabar
Sebuah potongan video berdurasi satu menit dua detik, berisi ceramah KH Yayan Bunyamin, tiba-tiba menjadi perhatian publik. Video editan yang disertai umpatan kasar itu beredar di grup percakapan Forum Pondok Pesantren (FPP) Ciamis, yang tangkapan layarnya kemudian menyebar sejak Senin, 27/09/’21. Sontak obrolan itu direspons keluarga besar NU, menghangatkan akhir September di Priangan Timur. Rutinitas tahunan dengan isu PKI kembali berulang. 

Video itu bersumber dari tayangan di saluran Mursyidul Hikmah Official, tertanggal 30 September 2020 dengan judul, “Santai saja! Sama PKI kok takut. KH. Yayan Bunyamin S. Phil M. Phil.” Tayangan aslinya berdurasi 29:24 menit. Tayangan ini berasal dari ceramah Kang Yayan pada acara Pelantikan Lembaga dan Musyawarah Kerja I PCNU Pangandaran (29/092020). Video yang sengaja dipotong untuk diframing dan dibahas di grup terbatas lalu disebarkan keluar, memang menjadi pola laten memunculkan keresahan umat. Sudah banyak tokoh NU yang menjadi ‘korban’ tangan jahil seperti ini. Kang Yayan, kini mendapat giliran.

PCNU Ciamis segera mengeluarkan surat pernyataan pada hari yang sama, dengan tembusan untuk Forkopimda Ciamis. Ada tiga poin di dalamnya. Pertama, prihatin dengan ujaran yang tidak mencerminkan akhlaqul karimah yang dikeluarkan oleh ‘oknum’ kalangan pesantren. Kedua, mendesak aparat yang berwenang untuk segera bertindak untuk menghindari gejolak di tengah masyarakat. Ketiga, meminta Kementrian Agama agar memberikan pembinaan kepada FPP Ciamis. 

Pernyataan PCNU Ciamis segera disambut tagar, “Saya bersama Kiai Yayan Bunyamin. Saya siap bela kiai kami” di berbagai platform media sosial warga NU. 

PCNU Kabupaten Tasikmalaya menyusul menyampaikan surat pernyataan pada Selasa (28/09) dengan poin yang sama, ditembuskan kepada Forkopimda Jawa Barat. Ada sedikit tambahan agar Kanwil Kementrian Hukum dan HAM Jabar juga dapat membina FPP Ciamis.

Pernyataan yang sama dikeluarkan juga oleh PCNU Kota Banjar, PCNU Pangandaran, dan PCNU  Garut. Pada bagian akhir suratnya, kelima PCNU ini sama-sama meminta agar warga NU tetap tenang dan menjaga kondusivitas. 

Kasatkorwil Banser Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi ikut bereaksi. Ia menuturkan bahwa pihaknya sudah mendapatkan instruksi dari Pimpinan Wilayah GP. Ansor Jawa Barat untuk menindaklanjuti masalah ini.

"Kami sudah berkoordinasi dan akan menempuh jalur hukum untuk memberi efek jera kepada pelaku," tegas Yudi.

Hari ini sekelompok orang yang mengatasnamakan Muhibbin Kiai, secara resmi telah melaporkan kasus ini ke Polres Ciamis. Sementara itu Kemenag Ciamis telah mengundang pihak-pihak terkait untuk sebuah dengar pendapat.

Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah memahami respons cepat lima PCNU di Priangan Timur ini dan reaksi keras kaum muda NU.

“Kang Yayan adalah tokoh muda NU. Direktur Aswaja Center yang dibanggakan,” ujar Gus Hasan kepada NU Online Jabar. “Saya berharap aparat yang berwenang dapat segera bertindak agar duduk persoalannya menjadi terang. Jangan sampai masalahnya melebar dan menimbulkan keresahan berkepanjangan,” lanjutnya. 

Apa sebenarnya yang disampaikan Kang Yayan dalam ceramahnya itu? Ajengan anom ini sebenarnya menyampaikan pengetahuan umum tentang sejarah hubungan NU dengan PKI. Bahwa NU ikut dalam proses “penumpasan” PKI. Lalu Kang Yayan mempertanyakan kelompok dan organisasi yang belum lama lahir tetapi bersikap seolah-olah paling anti PKI. Bagi Kang Yayan, ketakutan pada munculnya kembali PKI itu berlebihan, karena sudah tidak akan bisa bangkit lagi.

“Santai saja, sama PKI kok takut?” seloroh Kang Yayan dalam ceramahnya di Pangandaran itu.

Bagi kelompok yang masih menjadikan isu PKI sebagai komoditas, ungkapan lugas itu dianggap menyinggung. Mereka lalu merekayasa ceramah lama itu agar akhir September di tahun ini tak lagi adem ayem. 

Spesialis Materi Aswaja 
Kang Yayan adalah pengisi tetap Madrasah Kader Nahdlatul Ulama PWNU Jabar untuk materi Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyyah. Kehadirannya selalu dinatikan oleh peserta MKNU di berbagai cabang dan anak cabang se-Jawa Barat. Redaktur NU Online Jabar Abdullah Alawi dalam artikel “Kang Yayan dan Kerinduan Warga NU”, menggambarkan dengan baik sosok kandidat doktor dari UIN Syarif Hidyataullah ini.

Untuk sekadar membuat paparan tentang Aswaja di MKNU, ia menyusunnya selama tiga bulan dengan referensi 173 kitab kuning, baik klasik maupun kontemporer. Dalam empat jam penyampaian materinya, di forum MKNU, ratusan kitab dan dalil diungkapkannya di luar kepala. 

Menurutnya, Nahdlatul Ulama adalah organisasi para ulama, organisasi kebangkitan orang-orang yang berilmu sehingga langkah dan pembicaraan orang NU harus menggunakan ilmu dari sumber-sumber yang jelas kesahihannya.

“Orang NU itu kalau menyalahkan dan membetulkan sesuatu harus dengan ilmu. Hindarilah bicara tanpa referensi,” katanya.  

Tradisi yang selalu berdasarkan referensi tercermin dalam bahtsul masail NU. Referensi kitab kuning yang dipadukan dengan ilmu-ilmu kekinian untuk menjawab masalah-masalah yang aktual berkembang di masyarakat. 

Tidaklah mengerankan jika tokoh muda secerdas ini memiliki pembela militan di belakangnya. Dengan kompak mereka menaikkan tagar,

“Kami bersama Kiai Yayan Bunyamin.”

Iip Yahya 

Terkait

Risalah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×