Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Kang Yayan dan Kerinduan Warga NU

Kang Yayan dan Kerinduan Warga NU
KH Yayan Bunyamin saat mengisi kegiatan MKNU di Sumedang (Foto: PCNU Sumedang)
KH Yayan Bunyamin saat mengisi kegiatan MKNU di Sumedang (Foto: PCNU Sumedang)

Oleh Abdullah Alawi 
“Kang, tarif Kiai Yayan Bunyamin itu berapa ya kira-kira?” tanya seseorang dari sebelah kanan saya. Ketika saya lirik, saya mengenalinya sebagai salah seorang peserta Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang dilaksanakan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU yang berlangsung di UNUSIA Jakarta, Parung, Kabupaten Bogor, Sabtu (26/11). 

Saya kebetulan ikut bersama rombongan instruktur PWNU Jawa Barat, salah satunya Kang Yayan sehingga peserta tersebut merasa sah bertanya hal  itu kepada saya. 

“Saya ingin banget membawa dia ke Gunung Putri untuk acara rajaban nanti,” tambahnya menjelaskan keinginannya itu. 

Beberapa saat saya tidak menanggapinya karena betul-betul tidak tahu. Saya tak pernah menanyakannya secara langsung kepada yang bersangkutan atau ke orang-orang terdekat dan yang pernah mengundangnya. Tentu saja saya tak berhak menjawab serampangan dengan menduga-duga. 

“Tasikmalaya ke Gunung Putri itu jauh kan ya?” peserta itu malah melanjutkan seperti itu. Dalam hati saya bergumam, bagus juga kalau dia memiliki pertimbangan seperti itu. Namun, ia kembali menegaskan pertanyaan yang sebelumnya. Padahal seratus kali bertanya seperti itu pun, saya akan tetap tak bisa menjawabnya. 

“Kira-kira berapa ya?” 

Karena dia begitu bersemangat untuk mengetahuinya, saya anjurkan untuk bertanya kepada instruktur yang lain. Ia mengangguk dan kemudian ngeloyor pergi. 
Tiga kali sudah saya mengikuti ceramah KH Yayan Bunyaman. Pertama, secara daring, saat ia menyampaikan materi Ahlussunah wal Jamaah pada Pelatihan Kepemimpinan Dasar Gerakan Pemuda Ansor. Kedua, materi yang sama pada MKNU Kota Tasikmalaya, dan MKNU Kabupaten Bogor. 

Selepas mengikuti acara daring tentu saja, usai acara, saya tak menyaksikan ekspresi jamaah terhadap materinya. Sementara di dua MKNU itu, saya langsung melihatnya. Saat di MKNU Kota Tasikmalaya, peserta langsung meminta nomor kontak dan berfoto. Bahkan, saya menyaksikan langsung seorang peserta langsung berbincang soal materinya dengan membicarakan beberapa kitab kuning. 

Di MKNU Bogor, selepas Kang Yayan Bunyamin menyelesaikan materinya, seorang peserta meminta nomor kontaknya. Kemudian saya berbincang dengannya. Ternyata ia berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia belum pernah mengikuti MKNU. Dengan niat sekalian bersilaturahim dengan adiknya yang merupakan salah seorang pengurus NU di Kabupaten Bogor, ia mengikuti MKNU itu. 

“Saya sering ikut pengajian di mana-mana, tapi ini luar biasa. Argumentasi Aswajanya kuat dan terverifikasi,” ungkapnya ketika saya tanya tentang materi Kang Yayan. 
“Saya ingin mengundangnya ke Malang, saya akan bawa ke GP Ansor,” kata pria kelahiran 1966 ini seraya menyebutkan bahwa dia juga pernah aktif di GP Ansor Kabupaten Malang.

Niatnya mengundang Kang Yayan ke Malang menambah keyakinan saya bahwa warga NU merindukan penceramah yang lugas, tapi sederhana, dengan dalil-dalil lengkap di luar kepala tentang Ahlussunah wal Jamaah. Juga artikulasi dan retorika yang baik, serta dibumbui humor. Menurut saya, semuanya ada pada Kang Yayan. 
Sebetulnya, hujjah Aswaja tentu saja sudah dijelaskan banyak ulama NU dari tiap generasi, baik secara lisan maupun tulisan. Namun, dalam setiap waktu juga ada kalangan yang selalu melemahkan dan bahkan menyalahkan serta menyesatkannya. Kang Yayan adalah salah seorang angkatan muda NU yang mewakafkan diri dalam membela Aswaja dengan argumentasi berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan qaul-qaul ulama. 

Kang Yayan mengaku, untuk sekadar membuat power point tentang Aswaja saja di MKNU, ia menyusunnya selama tiga bulan dengan referensi 173 kitab kuning, baik klasik maupun kontemporer. Dan saya menjadi saksi, selama empat jam penyampaian materinya, di dua MKNU, ratusan kitab dan dalil diungkapkannya di luar kepala. 
Menurutnya, Nahdlatul Ulama adalah organisasi para ulama, organisasi kebangkitan orang-orang yang berilmu sehingga langkah dan pembicaraan orang NU harus menggunakan ilmu dari sumber-sumber yang jelas kesahihannya.

“Orang NU itu kalau menyalahkan dan membetulkan sesuatu harus dengan ilmu. Hindarilah bicara tanpa referensi,” katanya.  

Tradisi yang selalu berdasarkan referensi tercermin dalam bahtsul masail NU. Referensi kitab kuning yang dipadukan dengan ilmu-ilmu kekinian untuk menjawab masalah-masalah yang aktual berkembang di masyarakat. 

Tak heran kemudian jika warga NU berebut untuk mengundangnya untuk berceramah. Tahun ini, meskipun dalam situasi pandemi Covid-19, khusus peringatan maulid Nabi saja, Kang Yayan sudah menghadiri 140 panggung selama dua bulan saja, Oktober dan November.
Daya jelajah kiai kelahiran 1986 ini juga terbilang luas, tak hanya di Kabupaten Tasikmalaya, tapi Jawa Barat. Juga Jawa Tengah dan pernah di Jawa Timur, bahkan sampai ke luar Jawa. 

Menurut salah seorang instruktur MKNU Jawa Barat, jangkauan ceramah Kang Yayan makin hari makin bertambah. Salah satunya melalui MKNU. Hampir bisa dipastikan, setelah Kang Yayan menjadi salah seorang instrukutur MKNU di satu daerah, maka beberapa hari atau minggu kemudian ia akan datang lagi ke tempat tersebut untuk memenuhi undangan dari peserta dalam berbagai acara.   

“Ini berkah berkhidmah di NU,” ungkap Kang Yayan ketika saya tanya soal kencangnya undangan dari berbagai daerah. 

Selepas mengisi materi di MKNU Bogor, di ruang instruktur, ia memohon diri untuk segera pulang. Bukan apa-apa, karena esok paginya, Ahad (27/12) ada undangan warga Nahdliyin di Pancatengah. Ia berusaha memenuhi, yang menurut saya adalah kerinduan Nahdliyin, di Tasikmalaya bagian selatan itu. 

Penulis adalah Dewan Redaksi NU Online Jabar