Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Tinjauan Sosiologis Mudik Lebaran Kamuflase Eksistensi 

Tinjauan Sosiologis Mudik Lebaran Kamuflase Eksistensi 
Mudik 2022. (Foto: LPBINU Jabar).
Mudik 2022. (Foto: LPBINU Jabar).

Bulan Ramadhan 1443 H/ 2022 menjadi perbincangan masyarakat tentang mudik lebaran sudah hangat penuh semangat. Maklum pandemi Covid-19 telah memisahkan masyarakat dari ritual mudik lebaran yang selalu riuh setiap tahun.


Kepuasan mudik lebaran tidak bisa diukur dengan alat ukur apapun, mengingat mudik merupakan taradisi yang sedari dulu sudah ada. Kerja setahun lamanya hanya untuk menghadapi lebaran di kampung halaman. Adakalanya orang mudik hanya untuk bisa Sholat Idul Fitri, ziarah ke makam leluhur (orang tua), makan kupat ala lebaran terus kembali lagi ke tempat kerja. Itulah keunikan Mudik Lebaran.


Presiden RI Joko Widodo, dari prediksi Litbang Kementerian Perhubungan, jumlah orang yang akan mudik mencapai 85 juta orang, mayoritas (sekitar 40%) pemudik akanmenggunakan kendaraan pribadi dan selebihnya akan memanfaatkan angkutan umum. Untuk mengatur arus perjalanan mudik (PP) yang besar, Presiden Jokowi menghimbau,agar aman, nyaman, dan tempat sampai tujuan - tidak crowded, akan diterbitkan peraturan bagi pelaku perjalanandan juga peraturan bagi semua moda transportasi. (Kemenhub, 2022)


Sakralitas Ramadhan dan kemeriahan Lebaran kerap tenggelam oleh kehebohan problem mudik lebaran sebagai simbol capaian kemenangan spiritual berubah menjadi kelelahan fisik karena mudik dilakukan dengan ketidaknyamanan sempurna. Begitu pentingkah mudik menjelang lebaran. Padahal pulang kampung dapat dilakukan kapan saja? Jangan-jangan, mudik sekadar kamuflase dengan Lebaran sebagai momentum apologianya. Betulkah mudik berakar pada tradisi budaya masyarakat kita?


Mudik secara etimologis bermakna: berlayar ke udik atau pergi ke hulu sungai. Kini, mengapa mudik dimaknai pulang kampung; pergi ke kampung halaman.


Dalam beberapa kamus, seperti Kamus Indonesia Ketjil, E St Harahap (1943), Malei sWoordenboek, Van Ronkel (1946), Logat Ketjil Bahasa Indonesia, Poerwadarminta (1948) yang dikembangkan menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia (I: 1953, IV: 1966), mudik dimaknai: berlayar atau pergi ke udik (ke hulu sungai). Dalam Ensiklopedi Indonesia (Mulia dan Hidding, 1957), entri mudik tak terdapat di sana. Artinya, kata itu dianggap tak penting. Artinya lagi, mudik belum menjadi fenomena sosial. Pada tahun 1976 (Cet. V), Poerwadarminta menambahkan makna mudik (dari bahasa Betawi) sebagai pulang ke desa (ke dusun). 


Dalam hal ini, problem psikologis diselimuti dimensi keagamaan yang lalu memperoleh legitimasi sosiologis. Maka, Lebaran pun dianggap sebagai waktu yang tepat untuk pamer sekalian berziarah dan berkumpul dengan keluarga.


Pulang kampung sebenarnya kamuflase dari semangat memperoleh legitimasi sosial dan menunjukkan eksistensinya. Itulah awal mula mudik menjadi tradisi yang seolah-olah mempunyai akar budaya. Jadi, sesungguhnya tradisi mudik (dari Jakarta ke udik) lebih disebabkan oleh problem sosial akibat perbedaan mencolok kemajuan Jakarta dan kota-kota lain. Tengok saja, sebagian besar pemudik adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah yang ingin pamer kepada masyarakat udiknya, seolah-olah mereka telah mencapai sukses. 


Begitulah, mudik Lebaran sesungguhnya tidak punya akar budaya, tetapi lebih disebabkan oleh problem sosial akibat sistem pemerintahan yang sentralistik dengan Jakarta sebagai pusat segalanya. Terlepas dari latar belakang munculnya fenomena mudik itu, masalah yang ditimbulkannya dari tahun ke tahun selalu sama: antrean panjang karcis kereta api, lonjakan ongkos transportasi, kemacetan lalu lintas, dan korban kecelakaan. Lalu, selepas libur panjang


Lebaran, orang dari daerah membawa kerabatnya ke Jakarta. Jadi, Jakarta melalui para pemudik, tetap dipelihara citranya sebagai kota impian. Mudik Lebaran pada akhirnya lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Mengingat mudik Lebaran lebih banyak mendatangkan berbagai masalah, perlu kiranya perubahan orientasi tentang konsep mudik dan Lebaran. 


Semoga mudik tahun ini berjalan lancer, aman dan semua dalam keadaan sehat selamat sampai tujuan mudik masing-masing.


Dr. Anas, salah seorang Pemerhati Sosial MWC NU Patrol

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×