Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Nabi Muhammad SAW Pun Mudik

Nabi Muhammad SAW Pun Mudik
Ilustrasi: NUO
Ilustrasi: NUO

Banyak yang mengira mudik merupakan tradisi yang hanya ada di Indonesia saja. Padahal setiap bangsa di dunia mempunyai tradisi mudik sendiri. Biasanya, mudik dilakukan untuk memperingati hari-hari penting keagamaan, kebangsaan, atau hari-hari bersejarah bangsa itu sendiri. 


Namun, mudik di Indonesia terasa begitu unik karena melibatkan semua komponen bangsa. Demi mudik, masyarakat Indonesia begitu rela meski harus berdesakan berada di angkutan umum, merasakan terik panasnya matahari, berhujan-hujanan, mengalami kemacetan, serta menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang berani meminjam uang kepada orang lain demi untuk melaksanakan mudik. 


Senyatanya mudik telah menjadi tradisi yang begitu mengakar di masyarakat Indonesia. Dengan mudik, masyarakat Indonesia akan diingatkan kembali tentang jati diri hidupnya. Mudik (pulang kampung) dilakukan tiada lain hanya untuk mengingat kembali kampung halamannya, tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan dididiknya. Mudik juga berarti silaturahmi dalam rangka merekatkan kembali hubungan kekeluargaan bersama orangtua, karib kerabat, handai tolan, tetangga, kawan lama, dan para guru di kampung halamannya.


Para Nabi Mudik


Jika dicermati, para nabi dan rasul pun mudik. Misalnya, kitab suci mengisahkan bahwa Nabi Musa AS mudik. Nabi Musa AS kembali ke kampung halamannya (Mesir) setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkannya demi menghindar dari rencana pembunuhan para pembesar Fir’aun dan kembali untuk menyampaikan risalah ketuhanan kepada Bani Israil dan raja Fir’aun sebagaimana tergambar dalam QS Taha [20] ayat 43-44, “Pergilah kalian kepada Fir’aun karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut…”.


Sementara, Nabi Ibrahim AS juga mudik. Pertama, mudik dari Mesir ke Palestina bersama istri pertamanya Sarrah. Kedua, mudik menuju padang pasir (yang hari ini dikenal sebagai kota Makkah) setelah sebelumnya meninggalkan istri keduanya (Hajar) dan puteranya Ismail AS demi melaksanakan perintah Allah SWT berupa penyembelihan Ismail (QS as-Saffat [37]: 102) namun kemudian diganti dengan sembelihan binatang kurban (QS as-Saffat [37]: 107) dan pendirian rumah ibadah Kabah di Makkah (QS al-Baqarah [2]: 127). 


Mudik juga merupakan cerminan dari kecintaan dan kerinduan seseorang terhadap kampung halamannya. Hal inilah yang pernah Nabi Muhammad SAW rasakan manakala hendak hijrah dari Makkah ke Madinah. Sebuah kisah menggambarkan bahwa ketika Nabi SAW hendak hijrah, beliau berucap sambil menatap kota Makkah: “Demi Allah, engkaulah bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Andaikata aku tidak diusir, aku tidak akan meninggalkanmu” (HR at-Turmudzi).


Dari suasana batin Nabi SAW yang begitu cinta terhadap tanah airnya, kemudian Allah SWT menurunkan sebuah ayat sebagai sebuah isyarat akan kembalinya Nabi SAW kepada negeri asalnya. Isyarat hijrah dari Makkah ke Madinah dan akan kembali ke Makkah lagi dengan membawa kemenangan, kekuatan, dan kekuasaan sebagaimana tergambar dalam firman-Nya:


“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an dan benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.” (QS al-Qasas [28]: 85).


Akan kembalinya Nabi SAW ke kota Makkah, kemudian dipertegas kembali dengan ayat:


“Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam. Jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.” (QS al-Fath [48]: 27).


Kisah di atas mempunyai pesan bahwa mudik sejatinya merupakan hal yang bersipat alamiah sebagai bentuk naluri kecintaan manusia terhadap tanah kelahirannya. Intinya, orang yang enggan mudik, tidak mencintai tanah kelahirannya, terlebih di saat hari raya tiba enggah bersilaturahmi, maka keimanannya patut dipertanyakan. 


Bukankah Islam mengajarkan pentingya untuk bersilaturahmi? Beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengatakan: “… Dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan” (QS an-Nisa [4]: 1), “… Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Anfal [8]: 1). 


Paling tidak ada dua diksi yang perlu kita renungkan berkaitan dengan kisah pulang kampungnya para Nabi sebagaimana diungkap di atas.


Pertama, perkataan Nabi Muhammad SAW saat tiba di Makkah setelah lama meninggalkannya: “Wahai manusia! Sesungguhnya darah kamu diharamkan menumpahkannya, dan hartamu diharamkan mengganggunya, kecuali karena ada sesuatu hak. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Tuhan ialah yang paling bertakwa”. 


Dari diksi di atas dapat kita pahami  bahwa pentingnya dalam menjaga rasa aman di antara sesama manusia dan menegaskan bahwa Islam sangat menghargai persamaan hak dan kewajiban di antara sesama manusia, dan secara langsung Islam tidak menghendaki fanatisme ras, golongan, atau kesukuan.


Kedua, perkataan Nabi Ibrahim AS yang tercatat dalam ayat: “Ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu.” (QS al-Baqarah [2]: 128). Dari ayat ini Nabi Ibrahim AS mengajarkan kepada kita akan pentingnya sabar dan tawakal kepada Allah SWT dan sebagai wujud totalitas penghambaan dari seorang manusia kepada Tuhannya. Wallahu’alam


​​​​​​​Rudi Sirojudin Abas, Penulis adalah seorang peneliti kelahiran Garut.

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×