Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pesantren di Mata Gus Dur

Pesantren di Mata Gus Dur
Gus Dur bersama Ajengan Ilyas Ruhiat dalam sebuah acara RMI di Watucongol Magelang awal 1990-an. Foto: dok. kelurga Cipasung.
Gus Dur bersama Ajengan Ilyas Ruhiat dalam sebuah acara RMI di Watucongol Magelang awal 1990-an. Foto: dok. kelurga Cipasung.

Oleh Muhammad Khodafi

Gus Dur adalah sosok yang kosmopolit. Beliau lahir dan dibesarkan dalam tradisi intelektual pesantren yang sangat kental namun memiliki latar keluarga yang "modern". Kakek dan neneknya adalah sosok kiai dan nyai yang secara berimbang menjalani peran sebagai "pelayan publik", tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai "pengasuh" keluarga sekaligus pesantren. Atau dalam bahasa yang sepadan mereka juga serius berperan sebagai pelayan "domestik". 

Tidak banyak informasi tentang nyai Nafiqoh istri kedua Mbah Hasyim Asy'ari yang beliau nikahi setelah istri pertama beliau nyai Halimah wafat. Nyai Nafiqoh adalah putri kiai Ilyas pengasuh pesantren Sewulan Madiun. Dari nyai Nafiqoh yang rajin mengamalkan dzikir Asmaul Husna inilah lahir putra putri Mbah Hasyim Asy'ari yang salah satu diantaranya adalah KH. Wahid Hasyim. Besar dalam lingkaran pesantren yang berdekatan dengan pabrik gula Belanda menjadikan Gus Wahid Hasyim sudah bersentuhan dengan modernitas atau industri. Maka tidak perlu heran jika beliau juga sangat cakap dalam berbahasa asing (Belanda). Apalagi ibundanya yang visioner juga membiarkan sang anak bergaul bebas dengan berbagai kalangan, seperti juga sang ayah atau KH. Hasyim Asy'ari yang telah merintis jaringan sosial dan intelektual dengan berbagai orang dari berbagai bangsa dan kalangan. Bukan hanya dari Timur Tengah tetapi juga dari Eropa.

Kita bisa membayangkan bagaimana kultur keluarga mbah Hasyim dan juga Gus Wahid saat itu. Ketika Mbah Hasyim Wafat sosok Gus Wahid atau ayahanda Gus Dur sudah menjadi tokoh pergerakan Nasional. Maka pergaulan dan kehidupan keluarga beliau pun semakin kosmopolit. Dalam kultur keluarga pesantren yang tradisional namun juga kosmopolit inilah Gus Dur lahir. Sejak kecil dia dididik oleh ibu dan ayahnya secara "liberal". Bayangkan saat usia SMP Gus Dur sudah membaca banyak sekali buku filsafat Barat temasuk karya utama dari Karl Marx "Das Capital" versi bahasa Inggris pula. Padahal ini Bacaan klas berat dari perintis ideologi "komunisme" yang terlarang di negri kita ini. Dimana penulis (saya) sendiri baru membaca di awal masa menjadi mahasiswa (itupun terjemahan lokal). 

Pergaulan KH. Wahid Hasyim yang lintas kultur, telah memberikan peluang kepada beliau untuk membuka kesempatan kepada anak-anaknya bersentuhan dengan bacaan yang sangat beragam. Di samping mereka tetap mendapatkan didikan kultur akademik pesantren dengan sangat ketat. Hal inilah yang menjadikan Gus Dur mampu menjembatani kultur akademik pesantren dan kultur akademik Barat (Baca kitab kuning sambil nyimak kitab putih) Bahkan Gus Dur secara gamblang menganalisis ekasistensi masyarakat atau komunitas pesantren dengan kacamata analisis gabungan antara cara pandang pesantren dan sekaligus cara pandang sosial antropologi Barat. Karena itulah kemudian Gus Dur menyebut pesantren sebagai sebuah "sub kultur", yang memiliki keunikan dan otonomi yang luar biasa.

Dalam pandangan Gus Dur pesantren selalu terkait dengan aktor kiai, santri, asrama, masjid dan aktivitas kajian kitab kuning. Meski tidak menyebutkan nyai (sebagai aktor) dalam tulisan awalnya, Gus Dur dalam berbagai kesempatan dengan gamblang menjelaskan tentang peran startegis nyai dalam menyokong para kiai pesantren, terutama di sektor pengelolaan management Pesantren. Bahkan kekuasaan domestik para nyai tersebut kadang lebih kuat dibandingkan sang kiai. Maka tidak perlu heran jika ibunda Gus Dur nyai Solichah yang juga putri Mbah Bisri Syansuri, memliki peran sangat dominan dalam mendidik anak-anak KH. Wahid Hasyim, sehingga menjadi tokoh besar dalam masyarakat. 

Di sinilah sangat menarik untuk mengungkap bagaimana pemikiran Gus Dur soal pesantren yang menganggap pesantren sebagai sebuah sub kultur. Dalam pandangan saya Gus Dur sebenarnya ingin menegaskan bahwa pesantren harus diperlakukan secara khusus dan tidak bisa disamakan dengan lembaga pendidikan lain, terutama yang modern. Gus Dur secara tersirat menghendaki pesantren tetap bertumpu pada nilai "ketradisionalannya". Tidak perlu menjadi pesantren modern yang secara kultur meniru tradisi atau kultur Barat. Identitas kultural pesantren yang melekat pada figur kiai, nyai, santri, pengajian kitab kuning, dan juga pada ritual sosial budaya keagamaan nya harus tetap dipertahankan. Sehingga masukknya sistem sekolah klasikal modern tidak akan menghilangkan nilai dan struktur pesantren yang ada. 

Memang patut disayangkan saat ini banyak sekali pesantren modern baru yang tidak lagi memliki struktur layaknya pesantren sebagai sebuah sub kultur seperti yang digambarkan Gus Dur. Pesantren baru ini tak lebih dari sekolah modern biasa yang ditempeli dengan tulisan pesantren sebatas untuk menarik konsumen. Apalagi masyarakat kita sekarang sedang mengalami puncak kegenitan dalam beragama. Maka seolah-olah jika anaknya sekolah "pesantren" modern secara otomatis akan menjadi "santri" sebagaimana santri sebuah pesantren. Padahal jelas sekali mereka menyebut "sekolah", dan sekolah itu sangat berbeda dengan "mondok." Dalam ritual sekolah "guru" adalah figur utama keteladanan para murid. Sedang dalam proses "mondok" kiai dan nyai adalah figur utama keteladanan para santri. Sangat susah untuk bisa mendapatkan keduanya sebagai murid sekaligus santri di sebuah pesantren modern yang intensitas pertemuan murid dan guru sangat intens dibandingkan bertemunya santri dengan kiai/nyai pengasuh pesantren. 

Namun karena perkembangan sistem klasikal dan jumlah santri yang semakin besar, maka kolaborasi kiai menjadi sangat penting dilakukan. Sebagaimana dicontohkan di pesantren Tebuireng Jombang dan juga pesantren besar tradisional lainnya seperti di Sidogiri, Lirboyo, Ploso, dan Salafiyah Safi'iyah Situbondo. Dimana banyak kiai yang mendidik para santri disetiap kelompok klas. Dengan demikian pesantren bisa terus menjaga kekuatan otonomnya dari serbuan kapitalisasi pendidikan. Kita tentu masih ingat bagaimana KH. Adlan Ali juga mengajar para santri Tebuireng, KH. Ali Wafi mengajar Ma'had Aly Situbondo dan dalam kontek kekinian diwakili oleh sosok Gus Baha yang "berkeliling" pesantren dengan ilmunya untuk mengaji kitan dan bukan untuk "ceramah tausiah" agama. Inilah tradisi pesantren yang ingin dipertahankan Gus Dur dalam setiap kesempatan menjelaskan keunikan pesantren. Meskipun kita tidak harus terlalu ekstrim menolak perubahan dunia yang semakin modern. 

Akhirnya, sekolah di pesantren tidaklah sama dengan mondok di pesantren. Sekolah lebih menekankan pada aspek "kemodernan" yang sebetulnya bisa dengan sangat mudah dipelajari secara mandiri dan dibatasi oleh kelulusan. Sementara mondok yang lebih menekankan pada aspek pembentukan pribadi adalah proses seumur hidup yang tidak akan tuntas sampai meninggal. Karena itulah sosok kiai dan nyai menjadi begitu penting bagi para santri ketika dia mondok ataupun ketika sudah boyong. Kata lulus sekolah sudah memutuskan ikatan struktural dan bahkan kultural. Tapi kata "boyong" dari pesantren menandakan dia harus siap menjadi kepanjangan ilmu kiai dan nyai dalam berkiprah di masyarakat. Maka tak perlu heran jika setiap saat secara rutin para santri itu bisa kembali ke pesantren untuk menguatkan ikatan struktural atau terutama kultural mereka dengan pesantren atau kiai serta nyai. Alfatihah untuk Gus Dur dan para kiai pesantren di Nusantara. 

Penulis adalah staf pengajar UIN Sunan Ampel Surabaya.
 

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×