• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Opini

Pemuda Diambang Abssurditas Peradaban 

Pemuda Diambang Abssurditas Peradaban 
Pemuda Diambang Abssurditas Peradaban 
Pemuda Diambang Abssurditas Peradaban 

Sembilan puluh empat tahun sejak deklarasi sumpah pemuda pada 28 oktober 1928. "Pemuda" menjadi gelar yang diberikan kepada sekelompok golongan manusia yang berusia 16 - 30 tahun, yang juga memiliki esensi bukan hanya sekadar angka, tetapi juga soal pola pikir, pola gerak, pandangan, dan idealisme yang kuat lagi progresif. 

 

Dalam perjalanannya pemuda tak sidikitpun absen pada setiap peristiwa besar yang terjadi di Republik ini, sebagaimana yang kita ketahui perbedaan pandangan dan cara gerak antara "golongan muda" dan "golongan tua" menjadi pewarna perjalanan pendirian republik, sampai dimulai proklamasi yang telah digaungkan, penurunan rezim orde lama, orde baru, reformasi dan bahkan pasca reformasi.

 

Bagian pertama, perjalanan kesadaran sebagai insan yang dibebankan tanggung jawab mengurusi peradaban kedepan, memunculkan gagasan besar sebagai reaksi terhadap realitas yang serba tidak merdeka, karena berada dibawah bayang-bayang kolonialisme menjadikan babak awal perjalanan sumbangsih perjuangan pemuda. Betapa pemuda kala itu serius untuk mengakhiri penderitaan dengan adanya kesadaran kolektif, kesamaan nasib sebagai bangsa jajahan, berhasil menyatukan suara dan persepsi dari berbagai penjuru nusantara untuk berjuang serentak dan bersama-sama.

 

Agitasi dan propaganda nasionalisme membuahkan hasil kemerdekaan dengan perjuangan tak lebih dari 20 tahun sejak deklarasi sumpah pemuda, tentu dengan gagasan merdeka "seratus persen" dan bukan sebagai negara persemakmuran berkedok "dimerdeka-kan". 

 

Bagian kedua, pasca kemerdekaan, golongan muda tidak cukup puas dengan hasil kemerdekaan saja, mereka juga memiliki gagasan untuk menciptakan negara yang demokratis, bukan hanya sekadar "Nasakom" yang justru malah akan melanggengkan kekuasaan Presiden lewat kultus kepribadian dan frame politik seorang Soekarno dengan gagasan demokrasi terpimpin di hadapan publik yang bangun. "Ini berbahaya, harus segera re-formulasi pemerintahan," pikir mereka saat itu, sehingga memuncak pada runtuhnya rezim orde lama dan kekuasaan soekarno. 

 

Bagian ketiga, masa pemerintahan orde baru, golongan muda pada mulanya menyambut baik dengan gagasan rencana pembangunan lima tahun (Repelita) Negara malah harus menelan pil pahit kepemimpinan militerisme yang di lakulan rezim orde baru; Demokrasi dikerdilkan, kritik dilarang, protes dibungkam, ruang ekspresi menjadi terbatas, bahkan sampai pada ruang-ruang diskusi dan tukar gagasan diawasi. Ketika dirasa membayakan kekuasaan akan ditumpas habis. Alih-alih menertibkan, justru hal tersebut menjadikan gerakan dan gagasan seolah bom waktu yang dapat meledak kapan saja. 

 

Polanya masih sama, tetap pada konsolidasi dan propaganda yang dibangun dikalangan muda menjadikan rezim orde baru sebagai "common enemy". Bukannya memajukan Negara, justru malah menjadikan Negara mengalami stagnasi dalam pembangunan, terutama dalam sumber daya manusia. Bom itu meledak pada bulan mei tahun 1998 yang berujung pada runtuhnya rezim orde baru pimpinan Soeharto. 

 

Gerakan konsolidasi akbar yang membawa misi reformasi berisikan beberapa hal; mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, melaksanakan amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menghapus dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), melaksanakan otonomi daerah seluas-luasnya, menegakkan supremasi hukum, dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. 

 

Bagian ke-empat, pasca-reformasi tentu saja menjadi kabar baik sekaligus tantangan bagi generasi muda yang bukan saja meneruskan amanat reformasi, tetapi juga harus selalu menyesuaikan pemahanan dan pola perjuangan yang berkembang begitu cepat karena sebabkan oleh globalisasi yang semakin hari terjadi dan tak terbendung. Era peralihan revolusi industri 3.0 menuju 4.0 yang hanya terjadi dalam hitungan belasan tahun, menjadikan pola gerak perjuangan menjadi bias dan kabur, sebab semua seolah diarahkan untuk selalu ber-adaptasi dengan teknologi yang serba baru. 

 

Tuntutan zaman yang terjadi hari ini, membuahkan "golongan muda" yang hanya berfikir untuk menyelamatkan diri sendiri dari era Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity (VUCA). Pola pendidikan formal yang turut meng-aamiin-kan agenda globalisasi ini juga menjadi salah satu penyebab utama kekaburan perjuangan pada golongan muda dewasa ini. 

 

Obrolan dan diskusi mengenai kemajuan negara lewat media, gotong royong seolah menjadi hal tabu yang menjijikan karena fatalisme terhadap absurditas yang terjadi diperlihatkan pada kehidupan keseharian, semua dicetak untuk menjadi manusia yang berada dijalur aman. Bekerja sesuai prosedur, delapan jam sehari ditambah kerja lembur, dan menerima gaji disetiap awal atau akhir bulan. Tak ada waktu membicarakan Negara, yang utama urusan perut dan ego pribadi saja yang harus dipenuhi terlebih dahulu. 

 

Dalam kondisi seperti itu, sebagian tidak menyadari, sebagian lagi sadar bahwa mereka berada dalam fase ambiguitas membentuk apatisme yang dilegitimasi lewat kalimat "harus sukses di usia muda", menjadikan kedua pihak tersebut berada pada posisi saling terasing satu sama lain, seolah membentuk tembok demargasi diantara keduanya.

 

Hari ini pemuda dihadapkan pada kondisi yang serba mudah namun juga tidak menentu, seharusnya dengan kemudahan yang ada karena teknologi infomasi yang sudah maju, jika dimanfaatkan menjadi media proganda dan alat perjuangan  "ala era modern" tentu saja amanat reformasi yang diperjuangkan akan sampai pada titik ideal sebagaimana yang dicita-citakan. Jika hari ini "golongan muda" masih gelagapan menentukan arah gerak dan perjuangan, substansinya tetap sama, namun pola gerak dan media juang sudah seharusnya berbeda. Gerakan pemuda akan tetap pada posisi terbaik jika terus disesuaikan dengan zaman. 

 

Ambiguitas yang ada, seharusnya menjadikan kita (golongan muda) lebih progresif dalam perjuangan, bukan malah enjoy menikmati saling terasing dalam fatalisme memandang zaman (individualisme dan koletifitas tak terarah). Sebab progresifitas dalam mencapai tujuan adalah karakter pemuda. Idealisme yang kata Tan Malaka merupakan kemewahan terkahir yang dimiliki pemuda harus tetap menuntun, memandu gerak menjadi obor perjuangan.

 

Selamat hari sumpah pemuda 22 oktober 2022, Hidup Pemuda!

 

Moch. Rizky Apriliana, salah seorang kader PMII Kota Sukabumi


Opini Terbaru