Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Orang Tua sabagai Guru bagi Anak-anaknya

Orang Tua sabagai Guru bagi Anak-anaknya
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh KH Ucup Pathudin Al Maarif

Tulisan ini saya sangat subjektif. Saya harus mengatakannya sejak awal. Karena isinya merupakan pengalaman saya secara langsung, dalam memahami dan menyadari betapa berpengaruhnya pendidikan dan keteladanan orang tua kepada anaknya.

Mari kita mulai. 

Alkisah, suatu hari Abah (ayah) saya bersitegang dengan salah seorang tetangga kami. Demi sesuatu hal, yang Abah sendiri tidak tahu musababnya. Itu yang saya tangkap. Abah meladeni sang tetangga itu, hanya sebagai pembelaan diri, karena tiba-tiba disemprot dan diserang dengan rentetan kata-kata kepadanya.

Saya, yang saat itu bersiap-siap berangkat ke sekolah, bertanya kepada Abah. Tentang apa yang terjadi, demi mengapa sang tetangga “calutak” memaki Abah. Karena, saumur nyuhun hulu baru saat itu ada orang yang berani memaki Abah.

Teu aya nanaon, A. Sok, engalan ka sakola, bisi kasiangan (tidak ada apa-apa, A. Cepat ke sekolah, nanti kesiangan).” Hanya itu jawaban Abah dengan muka datar, seolah tidak ada apa-apa. Padahal saya mendengar langsung, betapa sengit dan sewotnya suasana di belakang rumah kami, sebelumnya.

Sepulang sekolah, saya bersiap menemui rumah sang tetangga. Saya tidak terima. Saya akan balas memaki orang tersebut. Bahkan sudah siap, meskipun harus berantem kontak fisik.
“Ka mana, A?”. Tanya Abah. Saya jelaskan, saya tidak terima perlakuan tetangga itu. Saya mau bikin perhitungan. Begitulah kira-kira.

“Ulah bageuur”. Sanggah Abah dengan nada ditekan. “Urang mah kudu landung kandungan laér aisan”. Tetiba saja saya diam tak bertenaga, seperti kapas tertimpa air hujan. Meskipun, saya tidak mengerti maksud Abah sebenarnya apa. Saya menangkapnya, ulah layanan jeung kudu gede hampura. Itu saja. 

Sampai saat ini, saya masih mengingat kata-kata itu: kudu landung kandungan laér aisan. Ajaibnya, seperti memiliki daya hipnosis yang justru masuk ke alam bawah sadar saya. Hingga hari ini, saya seolah melihat wajah Abah di hadapan saya, jika saya terlibat atau melihat perseteruan dan sejenisnya. Kalau saya “terlibat” perseteruan, selesai saat itu juga. Artinya, tidak pernah membawa kejadian itu ke luar tempat perseteruan, apa lagi berhari-hari. Apa untungnya, hanya bikin rungkad saja, kan?

Saya tidak bisa meniru perilaku Abah. Tetapi kata-kata kudu landung kandungan laér aisan, ibarat rem darurat dalam diri. Setelah dipikir dibolak-balik, diingat diulang-ulang, nampaknya keteladanan sikap Abah lah yang masuk ke dalam fail ingatan alam bawah sadar saya. 

Tahukah kejadian selanjutnya? Sang tetangga datang dengan nangis dan memelas minta maaf. Tersebab ia salah sangka. Abah hanya berkomentar pendek. “Anu geus kaliwat mah, ulah sok dibahas deui kasalahan teh. Sing jadi eunteung we jang urang”. Lalu Abah merangkul orang itu. Dan, itu terjadi di hadapan kami sekeluarga.

Baik. Saya tidak tahu apakah penularan Abah ke saya—meski dalam prosentase yang terbatas—itu masuk pada apa yang disebut oleh Cronbach sebagai identifying figure.  Kondisi di saat saya meniru Abah sebagai sosok yang saya kagumi. Saya jadi teringat masa mondok dulu. Pernah menghafal mahfudhat: “lisân al-hâl afshahu min lisân al-maqâl; keteladanan jauh lebih fasih (efektif) dibandingkan kata-kata”.

Ya. Memang banyak teori pendidikan mengatakan. Pendidikan tidak sekedar transfer of knowledges an sich. Jauh melampaui itu, mesti maujud transfer of values, bahkan transfer of attitudes.

Sahabat juga punya kisah serupa denga tuanya, kan? Ayo tuliskan, dan share di sini. Siapa tahu bermanfaat. Selamat HARI ANAK NASIONAL 2021.

Untuk Abah KH Ilyas bin Mardhi Wijaya, Alfaatihah.

Penulis adalah Sekretaris Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat
 

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×