Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pesantren At-tamur dan Moderasi Beragama

Pesantren At-tamur dan Moderasi Beragama
Kegiatan di Pondok Pesantren At-tamur
Kegiatan di Pondok Pesantren At-tamur

Oleh Andri Nurjaman

Martin Van Bruinessen dalam bukunya berjudul Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat menyebutkan bahwa pesantren merupakan semacam alat untuk mentrasmisikan pemahaman Islam tradisional dalam karya-karya ulama salaf berupa kitab kuning kepada santri dan masyarakat. Pengertian Pesantren ini diperkuat oleh Ronald Alan Lukens seorang ahli antropologi dari Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan lokal yang mengajarkan berbagai macam disiplin ilmu keislaman. Pengertian pesantren ini ditambahkan oleh Mastuhu bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang bertujuan untuk mempelajari, mendalami dan yang paling penting untuk mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan moral dan akhlak.

Mastuhu juga menyebutkan mengenai tujuan dari pesantren yaitu untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian Muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, memiliki akhlaq yang mulia dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Dalam tulisan Mastuhu bahwa pesantren berfungsi tidak hanya sebagai lembaga pendidikan Islam, namun juga bisa berfungsi sebagai lembaga sosial dan lembaga dakwah.

Pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan dan dakwah Islam sangat berpengaruh pada masyarakat. Bahkan dalam fakta historisnya pondok pesantren adalah benteng pertahanan umat Islam dan bangsa Indonesia sekaligus telah menentang sistem penjajahan baik kolonial Belanda ataupun Jepang.

Pondok pesantren juga merupakan sarana dakwah Islam, pondok pesantren adalah tempat kaderisasi calon ulama, jadi pondok pesantren telah sukses menjadikan dirinya sebagai pusat gerakan pengembangan Islam. Bahkan menurut Soebardi dan Jhons yang dikutip Ading Kusdiana dalam bukunya Sejarah Pesantren bahwa pondok pesantren adalah lembaga yang paling menentukan watak dan corak keislaman dari kerajaan-kerajaan Islam dahulu, pesantren pun telah berkontribusi dalam penyebaran Islam sampai ke pelosok Nusantara.

Pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan dan dakwah Islam tersebut telah menjadi sarana atau tempat pendakian spiritual dan pencapaian intelektual ilmu-ilmu keagamaan, termasuk mengenai usaha pemahaman moderasi beragama. Kita tahu bahwa Indonesia sejak awal adalah tempat berbagai macam agama, aliran dan kepercayaan, hal ini menjadikan Indonesia adalah negara yang heterogen berdasarkan perbedaan agama, budaya, bahasa dan lain sebagainya. 

Indonesia adalah negara yang masyarakatnya religius dan majemuk. Meskipun Indonesia bukan negara agama, masyarakatnya lekat dengan kehidupan beragama dan hal ini dijamin oleh konstitusi. Oleh karena itu moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa. 

Untuk mencapai kehidupan beragama di Indonesia yang harmonis, damai dan toleran ini maka diadakan dialog-dialog antar umat beragama, untuk saling mengenal dan menghormati satu sama lain. Oleh karena itu pondok pesantren harus mengambil peran dalam membangun kehidupan yang harmonis antar umat beragama dengan mengadakan dialog-dialog atau halaqah kebersamaan untuk melahirkan sikap saling hormat-menghormati dan saling bantu-membantu.

Salah satu contoh pesantren yang mengambil usaha penyebaran pemahaman moderasi beragama ini adalah pondok pesantren anak jalanan At-tamur yang merupakan salah satu pondok pesantren mahasiswa di Bandung. Pondok pesantren At-tamur ini dipimpin oleh Kiai Samsudin, yang juga merupakan dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan STAI Al-Mashturiyyah Sukabumi. beliau juga merupakan seorang pengamal tarekat.

Dari sosok pimpinan pesantren At-tamur yang bertarekat dan terbuka bagi semua kalangan masyarakat termasuk yang berbeda dalam hal keimanan, maka pondok pesantrennya sering dijadikan media dan tempat untuk berdialog antar umat beragama dalam rangka memperdalam pemahaman akan moderasi beragama dan terciptanya kehidupan yang harmonis.

Pada tahun 2017 misalnya Pondok Pesantren At-tamur mengadakan kegiatan lintas iman dengan Community of Youth Gereja Kristen Indonesia (COY GKI) yang didukung juga oleh Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub). Selian berdialog, kegiatan pada tahun 2017 ini juga mengadakan kegiatan sosial yaitu bersih-bersih lingkungan pesantren, berbagi beras untuk sesama, melukis kaligrafi dan masak buka bersama.

Bahkan Kiai Samsudin menilai positif kegiatan tersebut yang menyebutkan bahwa kehadiran saudara-saudara kita dari Kristen merupakan berkah dari Tuhan untuk saling mengenal dan berbagi kebahagiaan. Bapak Dudang Gojali yang merupakan akademisi UIN Bandung sekaligus ketua pemerintahan setempat mendukung hal tersebut karena menurutnya pesantren harus mewakili pandangan Islam yang moderat.

Usaha Pesantren At-tamur dalam pemahaman moderasi beragama tidak sampai di situ. Pada tahun 2018 pesantren At-tamur mengirimkan delegasi yang merupakan santri pesantren At-tamur sendiri untuk mengikuti acara pemuda lintas iman di kota Bogor yang diadakan oleh jaringan kerja antarumat beragama (Jakatarub) selama tiga hari berturut-turut.

Setelah beberapa bulan dari kegiatan pemuda lintas iman tersebut, selanjutnya pesantren At-tamur dengan Sekolah Damai Indonesia (SEKODI) menyelenggarakan kelas sekolah damai untuk pemahaman moderasi beragama selama satu bulan penuh di pondok pesantren At-tamur sendiri.

Bahkan pada saat haul Gus Dur, pesantren At-tamur dan Gus Durian Bandung mengadakan dialog lintas iman, tujuan diadakannya acara dialog lintas iman di pesantren At-tamur ini untuk meningkatkan nilai toleransi antar umat beragama, nilai toleransi ini adalah nilai yang diwariskan oleh Gus Dur sendiri.

Usaha pemahaman moderasi beragama ini terus diperjuangkan oleh Pesantren At-tamur pada tahun 2019 dengan mengadakan pesantren kilat lintas iman yang diselenggarakan pada momentum bulan suci Ramadhan selepas shalat tarawih sampai pukul 00:00 WIB yang diselenggarakan selama 10 hari berturut-turut. Pada acara pesantren kilat lintas iman tersebut, pesantren At-tamur mengundang sejumlah tokoh agamawan dari 5 agama besar Indonesia ditambah dengan satu tokoh adat kepercayaan dan beberapa tokoh intelektual yang tentunya memiliki pemahaman moderasi beragama.

Dan pada akhir tahun 2020 Pesantren At-tamur mengadakan halaqah dan dialog secara terbatas dengan tokoh rohaniawan Hindu yaitu I Ketut Wiguna yang menyampaikan materi mengenai kemanusiaan dalam ajaran Hindu. Halaqah dan dialog lintas iman ini diakhiri dengan foto bersama yang menyiratkan bahwa kita adalah Indonesia yang mampu menjaga persatuan dan persaudaraan diantara perbedaan-perbedaan yang ada. 

Itulah usaha pesantren At-tamur dalam penyebaran pemahaman moderasi beragama, usaha pesantren At-tamur ini bisa dijadikan contoh bagi pesantren-pesantren lain untuk sama-sama berusaha dalam penyebaran pemahaman moderasi beragama agar terciptanya suasana yang harmonis dan damai khususnya antar sesama umat beragama di Indonesia. Wallahualam bi showab.

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Attamur, lulusan Prodi Sejarah Peradaban Islam (S1) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan S2 pada program Magister Sejarah Peradaban Islam Pascasarjana UIN Bandung. Penulis aktif menulis di beberapa media seperti di web resmi LTNNU Jabar dan Mubadalah.id.

Terkait

Pesantren Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×