Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ketika Islam Bicara Toleransi Beragama

Ketika Islam Bicara Toleransi Beragama
Foto: NUO
Foto: NUO

Oleh: Rudi Sirojudin Abas
Agama Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi beragama. Hal inilah kiranya yang dapat kita temukan bagaimana ketika Islam berhadapan dengan agama-agama di luar Islam. 

Sebagai contoh misalnya, pada zaman Nabi Muhammad SAW ada seorang sahabat Ansar yang bernama Husain yang memaksa kedua anaknya yang beragama Nasrani agar masuk Islam. Namun mereka berdua menolak untuk masuk agama Islam dan bersikeras tetap pada pendiriannya yaitu beragama Nasrani (Dalam Kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li Ma’ani Al-Quranul Azim, Wahbah Zuhaili dkk, Darul Fikr Damaskus, 1416 H, hal. 43).

Perbuatan sahabat Nabi SAW tersebut kemudian mendapatkan perhatian yang serius dari Allah SWT dan menjadi latar belakang diturunkannya ayat ke-256 dalam QS al-Baqarah. Allah SWT berfirman:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ.

Artinya “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256).

Peristiwa di atas mengisyaratkan kepada kita, bahwa iman itu tidak boleh dipaksakan. Keimanan harus timbul dari dalam hati seseorang. Allah SWT hanya menyediakan jalannya. Yaitu jalan yang benar (hak) dan jalan yang salah (batil). Tugas manusia hanya memilih di antara keduanya. Apakah akan memilih yang hak atau yang batil? Memilih keselamatan atau kecelakaan? Memilih kebahagiaan atau kepedihan? Memilih surga atau neraka? Semua jawabannya diserahkan sepenuhnya kepada setiap pribadi manusia masing-masing. 

Namun, dari setiap pilihan tersebut senyatanya mempunyai konsekuensi masing-masing. Yang memilih jalan kebenaran akan selamat dan berhak mendapatkan kebahagiaan. Sementara, bagi mereka yang memilih jalan batil maka akan mendapatkan kecelakaan dan kepedihan.  Allah SWT berfirman: 

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ .

Artinya: “Dan katakanlah (Muhammad)! “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami (Allah) telah menyediakan neraka bagi orang zalim yang gejolaknya mengepung mereka.” (QS al-Kahfi [18]: 29).

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلًاۚ.اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ يُحَلَّوْنَ فِيْهَا مِنْ اَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَّيَلْبَسُوْنَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّنْ سُنْدُسٍ وَّاِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِىِٕيْنَ فِيْهَا عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِۗ نِعْمَ الثَّوَابُۗ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا.

Artinya: “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. Mereka itulah yang memperoleh Surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; (dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.” (QS al-Kahfi [18]: 30-31).

Pada ayat yang lain, Al-Qur’an juga mengisyaratkan pentingnya toleransi beragama. Misalnya dalan QS al-An’am ayat ke-108, Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam untuk tidak menghina sembahan (tuhan-tuhan) kaum di luar Islam (musyrikin). Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi suasana kondisi saling menghujat di antara sesama pemeluk agama. Jika hal ini (menghina sembahan kaum di luar Islam) dibiarkan, maka yang terjadi tidak saja akan mencederai ajaran agama Islam, namun juga akan menyulitkan agama Islam untuk dapat diterima dengan baik oleh keseluruhan umat manusia. Sebagaimana diketahui, misi agama Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Yaitu sebagai agama yang penuh dengan rahmat (kasih sayang) terhadap seluruh alam.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ 

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.” (QS al-An’am [6]: 108). 

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ.

Artinya: “Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau wahai Nabi dengan membawa syariat dan hukum-hukum Islam melainkan untuk menjadi rahmat dan petunjuk bagi sekalian alam (termasuk jin dan manusia). Karena apa yang diutuskan bersamamu adalah sebagai kunci kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS al-Anbiya [21]: 107) (Terjemahan dari Kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li Ma’ani Al-Quranul Azim, Wahbah Zuhaili dkk, Darul Fikr Damaskus, 1416 H, hal. 332).

Sementara, pada ayat ke-8 dalam QS al-Mumtahanah, Allah SWT tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan menghormati orang-orang yang tidak memerangi dalam hal urusan agama. Dan begitu pula selagi orang-orang (di luar Islam) tidak melakukan pengusiran dan gangguan terhadap orang-orang Islam, maka perbuatan baik untuk mereka layak untuk dilakukan. Perbuatan baik semisal silaturahmi, menghormati tetangga, menjamu dengan baik, serta berlaku adil dalam setiap kesempatan di antara sesama meskipun berbeda keyakinan dapat menjadi perekat tali kemanusiaan. Jika hal ini terjadi, maka konsep ummatan wahidah (umat yang satu) akan mudah terwujud. 

Berkenaan dengan anjuran berbuat baik untuk sesama meskipun berbeda keyakinan, Allah SWT berfirman:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ.

Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8).

Keterangan (dalil-dalil) di atas cukup kiranya menjadi pijakan bagi kita (umat Islam) untuk menampilkan wajah Islam yang inklusif, toleran, dan terbuka. Terlebih dalam situasi kondisi saat ini, yakni di mana satu komunitas etnis maupun agama yang satu dengan yang lain dapat mungkin untuk berbaur di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang semakin heterogen, maka toleransi keberagamaan layak untuk didengungkan. Apalagi ketika mobilitas serta kemudahan teknologi yang semakin canggih yang dapat memudahkan kita saling menyapa dan saling berinteraksi tanpa ruang dan batas, toleransi beragama pun layak untuk dibesar-besarkan. Dengan demikian, upaya membangun toleransi di antara sesama seperti yang telah disebutkan akan berdampak baik bagi keberlangsungan kehidupan dan boleh jadi akan menjadi satu identitas bersama. Dan inilah kiranya pentingnya hidup toleransi dalam keberagaman dan keberagamaan. 

وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ ۙ

Artinya: “…Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya (kepada Allah) kami dengan tulus mengabdikan diri.” (QS al-Baqarah [2]: 139).

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ.

Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS al-Kafirun [109]:6)
Wallahu’alam

Penulis adalah peneliti kelahiran Garut

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×