• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 30 Mei 2024

Opini

Isra' Mi’raj dalam Maqam Tasawuf

Isra' Mi’raj dalam Maqam Tasawuf
Isra Mi’raj dalam Maqam Tasawuf. (Foto: NU Online)
Isra Mi’raj dalam Maqam Tasawuf. (Foto: NU Online)

Oleh Nyanyang D Rahmat

Menjelang peringatan Isra’ Mi’raj 1444 H/18 Februari 2023 yang tinggal beberapa hari lagi yang sering diperingati oleh umat islam sebagai gambaran mengagungkan dan dijadikan momentum dalam spirit beribadah. Kejadian Isra’ Mi’raj, sebagai kaki pijak tujuan tasawuf. Kendati riwayat tentang Isra’ Mi’raj sangat beragam, namun semuanya bisa disimpulkan bahwa pada intinya Nabi Muhammad Saw pernah diperjalankan oleh Allah dengan perjalanan horizontal (Isra’) dan vertikal (Mi’raj).


Dalam perjalanan vertikal inilah Muhammad SAW menaiki langit (sama’) demi langit hingga sampai ke langit tujuh. Di langit ke tujuh beliau bertatap muka dan berdiskusi dengan Allah, yang akhirnya menghasilkan kewajiban bagi diri dan umatnya shalat lima kali dalam sehari semalam.


Dalam dunia tasawuf peristiwa tersebut tidak hanya dijadikan sebagai momen bersejarah yang hampa makna, tapi dijadikan sebagai simbol inspirasi perjalanan mistikus manusia bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan Tuhannya. Oleh karena itu, penyaksian alam malakut atau tersingkapnya tabir ke-Tuhan-an (musyahadah) dalam dunia tasawuf menjadi tujuan akhir pencarian kejernihan jiwa bagi para sufi.


Dalam kisah Isra’ Mi’raj, diungkapkan bahwa beliau bisa bertemu dengan Tuhannya dengan melewati tujuh langit, ini artinya bahwa umatnya juga bisa bermusyahadah dengan Allah tapi harus melalui beberapa maqam (terminal-terminal), atau derajat yang harus dilalui untuk menjadi ‘Arif billah. Maqam tersebut sangat banyak sekali jumlahnya sebagaimana arti bilangan tujuh yang berarti menunjukkan jumlah tak terhitung.


Sebagai sample QS. 2: 261 dan QS. 31: 27, dalam kedua ayat ini kata tujuh tidak diartikan sebagai hitungan eksak dalam arti bilangan tujuh, tapi jumlah yang sangat banyak. Kendati demikian, maqamat dalam standar sunni jumlahnya ada tujuh, sebagaimana arti literal kata sab’ al-Samawat (tujuh langit). Tujuh terminal tersebut ialah: Taubat, Wara’, Zuhud, Fakir, Sabar, Tawakkal dan Ridha.


Secara urut ketujuh maqam ini harus dilalui secara tertib, karena dalam setiap perpindahan dari satu maqam ke maqam yang lain sufi akan mengalami perubahan psikis-emosional atau yang biasa disebut dengan hal. Dalam maqam terakhir sufi akan mengalami perubahan hal yang mengagumkan dan itu merupakan derajat tertinggi, yaitu mi’raj (naik ke atas) atau biasa disebut dengan ekstase, mabuk kepayang hingga klimaknya “face to face” dengan Tuhan bahkan menyatu dengan-Nya, atau dalam bahasa Abu Yazid al-Busthami “Allah adalah Aku” dan “Aku adalah Allah”.


Berbagai tindakan amoral yang bergelimang di kanan-kiri kita, mulai dari penindasan masyarakat miskin, kebejatan sebagian pemerintah yang dengan seenaknya ngemplang duit rakyat, hingga penyakit-penyakit sosial lain, kiranya sudah cukup dijadikan bukti betapa absurdnya pakerti manusia modern.


Sementara di sisi lain “bayangan fatamorgana kesalehan umat Islam” bertumbuh subur. Banyak orang yang mengenakan jubah, berjenggot, berudeng-udeng ala Rasulullah SAW, mondar-mandir bawa tasbih, tapi hati mereka tak sesaleh pakaiannya. Mungkin orang-orang seperti inilah yang pernah disaksikan oleh Abu Bashir pada abad ke-2 Hijriyah.


Bukankah Imam al-Ghazali sendiri ketika shalat, hanya gara-gara memikirkan persoalan menstruasi, dimata adiknya, Ahmad al-Ghazali, terlihat berlumuran darah. Entah kita tidak bisa membayangkan, anatomi wakil rakyat yang korupsi dan orang yang jual-beli agama demi mempertahankan status quo di mata para ‘Arif billah.


Di tengah-tengah “realitas kusut” ini telah tiba hari besar umat Islam, hari dimana Nabi di Isra’-Mi’rajkan oleh sang Pemilik jagat raya. Ini tentunya momen terbaik bagi umat Islam untuk membersihkan dimensi spiritualnya.


Bernegosiasi dengan Tuhan

Dalam sejarah isra mi’raj mencatat, bahwa Nabi Muhammad SAW sempat bernegosiasi dengan Allah dalam urusan jumlah shalat yang di perintahkan-Nya. Hal ini dilakukan oleh yang menyandang gelar Al-Amin ini. Kejadian ini membuktikan bahwa kita selaku hambanya bisa dan boleh saling adu tawar dengan-Nya.


Sesungguhnya kita sudah sering adu tawar dengan Allah, salah satunya yaitu dengan seringnya kita memanjatkan do’a kepada-Nya. Ini juga menunjukan rasa kasih sayang-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Bernegosiasi ini diterapkan oleh manusia dalam sehari-hari terutama dalam hal bermuamalah (horizontal).


Namun Nabi Saw bernegosiasi dalam hal ibadah shalat (vertikal). Atas sifat rahmat-Nya maka Allah Swt mengetahui batas kesanggupan setiap hamba-Nya di dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya sebagaimana Dia Swt juga mengetahui bahwa kemampuan setiap mereka tidaklah sama, ada dari mereka yang mampu melaksanakan setiap kali shalat lima waktunya di awal waktu, ada yang kadang-kadang saja bahkan ada yang dilakukan sendirian di akhir waktu dan sebagainya namun mereka semua tetap dihitung telah melaksanakan kewajibannya. 


Ada dari manusia yang mampu mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga hari, lima hari, seminggu, setengah bulan, sebulan atau mungkin lebih dari itu. Dan di antara rahmat Allah kepada umat ini adalah diberikannya keringanan terhadap jumlah shalat yang harus dilakukan setiap muslim mulai dari lima puluh kali hingga akhirnya menjadi lima kali. Musa as mengkhawatirkan bahwa shalat yang lima puluh kali itu tidak akan sanggup dilaksanakan oleh umat Muhammad Saw,


Sebagaimana dikatakan oleh al-Qurthubi bahwa hikmah dari pengkhususan Musa dengan meminta Nabi Muhammad SAW kembali ke Tuhannya dalam perintah shalat memungkinkan bahwa umat Musa pernah dibebankan dengan beberapa shalat yang tidak dibebankan kepada umat-umat sebelumnya dan hal itu cukup memberatkan mereka. Untuk itu, Musa khawatir hal ini juga terjadi pada umat Muhammad SAW, yang ditunjukkan dengan perkataannya,”Sesungguhnya aku telah merasakan hal ini sebelum mu.”


Allah SWT selain menetapkan kewajiban kepada hamba-hamba-Nya, Dia Allah SWT juga memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kebaikan bagi mereka di dalam menjalankan berbagai perintah-Nya tersebut. Allah SWT tidak menginginkan adanya kesempitan dan kesulitan didalam menjalankan agamanya sehingga dapat membawa mudhrat bagi pemeluknya, sebagaimana firman-Nya:


يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ


Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah : 185).


Untuk itu Allah SWT memperkenankan seseorang yang di dalam perjalanan untuk tidak berpuasa (berbuka), memperbolehkan bertayamum bagi orang yang tidak memiliki air untuk berwudhu, mempersilahkan seorang yang dalam perjalanan untuk menjama’ dan mengqashar shalat-shalatnya, demikianlah rahmat yang Allah berikan kepada umat Muhammad SAW. Dan diantara karunia Allah Swt kepada umat Muhammad Saw adalah meskipun shalat tersebut secara jumlah terkurangi dari lima puluh menjadi lima kali namun secara pahala maka ia sama dengan lima puluh kali.


Penulis adalah Guru mapel PAI SMPN 2 Kadungora-Garut


Opini Terbaru