• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 23 Juni 2024

Opini

Ditengah Gelombang Literasi Zaman, Mau Dibawa Kemana Dunia Perbukuan?

Ditengah Gelombang Literasi Zaman, Mau Dibawa Kemana Dunia Perbukuan?
Ditengah Gelombang Literasi Zaman, Mau Dibawa Kemana Dunia Perbukuan?
Ditengah Gelombang Literasi Zaman, Mau Dibawa Kemana Dunia Perbukuan?


Ada maqolah keren begini, Lau kana nurul 'ilmi yudraku bil-muna, maa kana yabqa fil-bariyati jahilun, "Seandainya ilmu itu bisa diraih hanya dengan berangan-angan maka tak satu pun orang bodoh di dunia." 


Ilmu merupakan mata pencaharian bagi semua umat manusia di bumi ini. Perjalanan demi menuntut ilmu itu amatlah panjang, lama dan mahal, butuh kesabaran, keikhlasan, ketakwaan dan pengorbanan serta kesungguhan untuk mendapatkannya. 


Sebagai santri, saya meyakini menjadi penulis itu sebuah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih semua orang. Menulis dapat merangsang pemikiran, meluapkan gagasan dan menyampaikan pesan. 


Terkait pemberitaan tutupnya toko buku besar ternama (GA) merupakan tragedi di dunia literasi. Situasi buram dunia perbukuan itu akan terus berlanjut, apabila diperparah dengan absennya para penulis buku yang juga menutup diri untuk tidak menulis lagi.


Maraknya marketplace toko buku online di bidang usaha penjualan buku telah menyita perhatian publik masyarakat dewasa ini. Kehadiran marketplace tersebut tidak hanya meningkatkan akses informasi bagi masyarakat di Indonesia yang gemar berburu buku namun dalam proses jual-beli produk buku telah menjadi ekosistem perekonomian di dunia perbukuan digital. 


Sementara egoisme para pelaku pembajak buku kian merajalela. Sebagaimana Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) yang selama ini berjuang mati-matian mengkritisi aktivitas pembajakan buku. Buku termasuk karya intelektual yang mendapatkan perlindungan melalui UU Nomor 28/2014 tentang Hak Cipta.


Ikapi berharap semua pihak kembali fokus pada persoalan pemberantasan buku bajakan. Sudah terlalu lama dunia kreatif ini menderita karena ulah para penjahat pembajak buku. Pemerintah harus turun tangan karena upaya pemberantasan pembajakan ini melibatkan banyak sektor. Ditambah lagi, sebagian besar persoalan berada pada ranah regulasi serta kewenangan dan tanggung jawab pemerintah. 


Bagi para praktisi media dan teoritisi komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium informasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristik tersebut untuk mengoptimalkan fungsi dan peran jurnalis yang santri, (berlatar-belakang orang-orang pesantren), atau santri yang menjadi penulis buku maupun jurnalis di tengah siklus informasi masyarakat digital pada dewasa ini. 


Penulis menemukan sebuah anjuran dari Al-Qur'an tentang menulis di buku Tafsir Al-Misbah-nya Pak Quraish Shihab. Menurut beliau dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, bahwa kata (القلم) al-qalam terambil dari kata kerja (قلم) qalama yang berarti memotong ujung sesuatu. 


Beliau mencontohkan pengertian ini seperti memotong ujung kuku yang disebut (تقليم) taqlim, tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai (مقاليم)  maqālīm, anak panah yang runcing ujungnya dan bisa digunakan untuk mengundi, dinamai pula qalam, seperti dalam QS. Al-Imran [3]:44.


Maka, alat yang digunakan untuk menulis dinamai dengan qalam karena pada mulanya alat tersebut dibuat dari suatu bahan yang dipotong dan di peruncing ujungnya. 


Pak Quraish shihab melanjutkan bahwa kata qalam disini dapat berarti hasil dari penggunaan alat tersebut, yakni tulisan. Ini karena bahasa sering kali menggunakan kata yang berarti “alat” atau “penyebab” untuk menunjukkan “akibat” atau “hasil” dari penyebab atau penggunaan alat tersebut. 


Makna di atas dikuatkan oleh firman Allah dalam QS. Al-Qalam ayat 1, yakni firman-Nya: Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa surah al-Qalam turun setelah akhir ayat kelima surah al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya kedua kata qalam tersebut berkaitan erat, bahkan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikian.


Rasulullah Saw bersabda,


قَيِّدُوْا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ


Ikatlah ilmu dengan tulisan (HR. At-Thabrani dan Hakim dari Abdullah bin Amr)


Dalam redaksi lain tulisan adalah pengikat ilmu


الْعِلْمُ صَيْدٌ وَ الْكِتَابَةُ قَيْدُهُ , قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْجِبَالِ الْوَاثِقَةِ


Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu, ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh. 


Sebagai seorang santri, penulis tentu meyakini bahwa tulisan-tulisan yang ditorehkan menjadi produk karya buku fisik, atau narasi-narasi yang tersebar diberbagai rubrik media online merupakan dari hasil pengamatan, penelitian dan pengalaman empiris kaum santri yang terlibat dalam mendayagunakan teknologi digital di era literasi digital dengan menuangkan gagasan-gagasan pemikirannya melalui tulisan dan memproduksi buku fisik. 


Kaum santri yang terlanjur dicap sebagai "kaum sarungan"- golongan tradisional juga harus mampu menyelami pergaulan di era digital dan tidak hanya dapat menguasai kultur masyarakat tradisional. 


Mereka mau tidak mau mengembara mencari berbagai sumbu ilmu pengetahuan, termasuk berperan aktif dalam mengembangkan karya tulisnya dan lebih peduli terhadap situasi dunia perbukuan pada dewasa ini, dimana tutupnya sejumlah toko buku di beberapa wilayah Indonesia adalah padamnya dunia pendidikan, karena buku adalah salah satu sumbu ilmu pengetahuan dan karya intelektual.


Para santri akan larut dalam kebudayaan baru, dalam hal ini inovasi mutakhir yang dicipta oleh santri di era kemudahan digitalisasi dalam mengembangkan potensi geliat literasi. Kalau bahasa penulis, santri itu ngga boleh "kuper" (kurang peran) dalam pergaulan di era digital. 


Pertumbuhan pasar daring yang seharusnya menjadi berkah bagi industri penerbitan, justru menjadi ladang subur pembajakan yang bahkan mencapai skala industri. Perkembangan teknologi sesungguhnya membuka peluang bagi industri dunia perbukuan untuk menemukan cara baru dalam berjualan. 


Penerbit bisa langsung menjual produk mereka melalui toko-toko daring (webstore) milik sendiri maupun lewat akun-akun mereka di lokapasar (marketplace) seperti; Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, JD.ID, dan sejenisnya. 


Membangkitkan minat baca buku bukan berarti membiarkan masyarakat hari ini bebas mendapatkan buku aau produk sejenis tanpa rambu-rambu, apalagi ditunggangi oleh pihak yang mengambil untuk dari kegiatan itu. Dengan kaum santri konsisten menulis buku, telah membuktikan adanya sebuah proses berkarya yang saling memperkaya antara khasanah tradisi  menulis (literasi) di kalangan santri dan merespons dinamika perbukuan zaman yang kapan pun saja berubah arahnya. 


Santri dan khasanah tradisi literasi sejak dahulu telah terikat dalam sebuah identitas ke-santri-an dan adanya fenomena kaum santri memproduksi karya-karya tulisan, sebagaimana karya sastra buku Hati Suhita, yang kemudian diangkat menjadi film, buku fiksi yang ditulis oleh Ning Khilma Anis dimana beliau juga berlatarbelakang orang-orang pesantren. 


Kaum santri di Indonesia dengan ragam disiplin ilmu yang meliputinya adalah keniscayaan yang melahirkan keragaman pemikiran. Sudah saatnya santri yang mendominasi zaman, ditengah gelombang deras literasi dan pergaulan di ruang-ruang digital. 


Abdul Majid Ramdhani, Penulis Santri Milenial
 


Opini Terbaru