• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 26 Februari 2024

Opini

KOLOM BUYA HUSEIN

Ahlul Halli Wal Aqdi untuk Memilih Pengganti Kepemimpinan Publik

Ahlul Halli Wal Aqdi untuk Memilih Pengganti Kepemimpinan Publik
Ahlul Halli Wal Aqdi untuk Memilih Pengganti Kepemimpinan Publik
Ahlul Halli Wal Aqdi untuk Memilih Pengganti Kepemimpinan Publik

Saat kuliah di PTIQ, tahun 1973 aku mendapat pengetahuan tentang sejarah peradaban Islam dari seorang dosen. Sayang aku sudah lupa namanya. Beliau menyampaikan informasi menarik sekali.


Manakala Umar bin Khattab hendak pulang, beliau menginisiasi pertemuan para sahabat. Tujuannya membentuk komite yang akan memilih seorang penggantinya. Komite itu dikenal dengan istilah "Ahlul Halli wal Aqdi". Secara literal ia bermakna Orang-orang yang mampu menyelesaikan dan menyatukan problem kehidupan bersama. Atau katakanlah " Dewan Musyawarah". Atau "Tim Formatur".


Umar kemudian menunjuk enam orang. Mereka adalah 1) Utsman bin Affan, 2) Ali bin Abi Thalib, 3) Thalhah bin Ubaidillah, 4) Zubair bin Awwam, 5) Sa'ad bin Abi Waqqash, dan 6) Abdurrahman bin Auf. Keenam orang itu bertugas bermusyawarah untuk menunjuk satu di antara mereka sebagai pengganti (khalifah) Umar.


Nah di antara mereka ada yang mengusulkan Abdullah bin Umar ikut dicalonkan. Umar langsung menolak. Katanya : "Janganlah. Nanti menjadi kebiasaan mengangkat keluarga sendiri untuk menduduki jabatan khalifah," kata Umar.


Itu satu informasi. Informasi lain menyebutkan. Pembentukan "Ahlul Halli wal Aqdi" Atau "Tim Formatur" tersebut, diusulkan Umar. Sebelumnya ada di antara para sahabat mengusulkan agar putra Umar bin Khattab itu yang bernama Abdullah, sebagai "khalifah", pengganti dirinya. Dengan kata lain, tidak dengan sistem " Dinasti".


Konon saat itu Umar berada di pembaringan. Sambil berbaring beliau merespon : "Janganlah. Nanti menjadi kebiasaan mengangkat keluarga sendiri untuk menduduki jabatan khalifah," kata Umar.


Umar bin Khattab memang sangat cerdas, kritis, visioner dan memahami bahwa Nabi menyampaikan ayat Al Qur'an agar segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan publik/politik hendaklah didiskusikan bersama, dimusyawarahkan bersama.


فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ


"Maka berkat rahmat (kasih sayang) Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran: 159).


Ketentuan Al Qur'an Ini sungguh sangat bijaksana, sangat indah dan luar biasa.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Opini Terbaru