Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Innalillahi, Ulama Besar Hadhramaut Al-Habib Abu Bakar Al-Adni Al-Masyhur Wafat

Innalillahi, Ulama Besar Hadhramaut Al-Habib Abu Bakar Al-Adni Al-Masyhur Wafat
Al-Habib Abu Bakar Al-Adni Al-Masyhur, Ulama Besar Hadhramaut Wafat. (Foto: NUJO/M. Iqbal).
Al-Habib Abu Bakar Al-Adni Al-Masyhur, Ulama Besar Hadhramaut Wafat. (Foto: NUJO/M. Iqbal).

Saat ini Kota Tarim dibanjiri jutaan manusia para pecinta Al-Allamah Al-Murobbi Al-Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur. Pada Jumat (29/07) ini akan dikebumikan. Setelah tersebarnya berita wafatnya di rumah sakit Kota Yordania, Amman pada hari Rabu(27/7), wafatnya beliau menjadi trending topik di jagat raya medsos.


Ulama Nusantara ikut berbela sungkawa atas wafatnya beliau. Ucapan demi ucapan terus meramaikan medsos, player demi player pun bertebaran. Salah satunya ucapan bela sungkawa pada akun Fanpage Habib Husein Ja'far Al Hadar, Dai Millenial, Habib yang dakwahnya menyejukan, menyatakan bahwa Al-Habib Abu Bakar Al-Adni adalah sosok Ulama panutan umat. 


"Tengah malam, mendengar kabar yg menghujam batin. Innalillah! Al-Habib Abu bakar 'Adni Al-Masyhur, ulama besar Hadhramaut. Suka cita bagi Beliau karena pecinta telah menemui Yang Maha Dicinta. Tapi duka cita bagi kita, para pecintanya karena ditinggalkan oleh yang dicintainya. Teladan demi teladan terus pergi, dan kita masih dlm keadaan yg begini-begini saja. Kita terus kehilangan teladan hidup, sedangkan kita juga masih gagap memungut keteladanan dari Al-Qur’an & Sunnah. Ya Rabb! Lahul-Fatehah," Tulis pengampu Channel Jeda Nulis. 


Patut diketahui Sosok Al-Allamah seorang Sufi (الصوفي) Al-Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur merupakan cendekiawan muslim yang berasal dari Hadhramaut Yaman. 


Menurut beberapa informasi di media sosial, penyebab meninggalnya Al-Habib Abu Bakar Al-Adani bin Ali Al-Masyhur karena perjuangan panjang melawan penyakit yang  dideritanya. Ulama Hadrolmaut Yaman yang masyhur bukan hanya di majelis-majelis ilmu bahkan hingga Universitas ternama di penjuru dunia. Abu Bakar Al-Adani, meninggal dunia pada usia 75 tahun. 


Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu Umat manusia. Meninggalnya ulama juga merupakan musibah yang tak tergantikan, dan sebuah lubang yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. 


Ulama yang wafat, hanya bisa digantikan dengan kelahiran ulama baru. Yang dengan kealiman serta akhlak muridnya akan dapat melanjutkan estafet keulamaan. 


مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ, وَنَجْمٌ طُمِسَ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ


Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama (HR Imam al-Thabrani) 


Hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa Ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Perkara inilah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW


‎خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ


“Ambillah (Pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu boleh pergi (hilang)?” Rasulullah ‎SAW menjawab, “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama)” (HR Ad-Darimi, At-Thabrani No 7831 dari Abu Umamah).


Beliau dikenal sebagai mufakkir atau pemikir dikarenakan kecerdasan intelektualnya mengenai peradaban zaman yang melampaui pemikir lainnya. Keuletannya dalam mencari ilmu nampak dari karya-karyanya, terutama dalam Fiqh Tahawwullat.


Kiprahnya dalam berdakwah telah masyhur di berbagai penjuru negeri, baik Timur Tengah, Eropa hingga Asia. Banyak santri didiknya berasal dari Indonesia. Beliau dilahirkan di lembah Ahwar Provinsi Aden pada tahun 1366 H/1947 M.


Sejak belia, beliau dididik ilmu syariat agama oleh kedua orang tuanya. Tak heran jika dirinya mampu menghafal seluruh isi Al-Qur'an di masa muda. Beliau sudah bertalaqqi (tatap muka) ke berbagai guru ternama di zamannya, baik di Aden maupun di Hadramaut. Bahkan, sejak usia 14 tahun, dirinya telah mendapatkan mandat dari sang ayah untuk menyampaikan khotbah Jum'at di masjid-masjid sekitar.


Keberhasilan Habib Abu Bakar tak luput dari peranan kedua orang tuanya. Merekalah yang telah membangun karakter Habib Abu Bakar hingga menjadi figur ternama seperti sekarang.


Dalam tuturnya dia mengakui, "Keseluruhan hidupku tak terlepas dari peran orang tuaku, ayah dan ibuku. Ayahku sosok yang sangat disiplin mengatur waktu. Baginya, pendidikan dan akhlak adalah prioritas utama. Seringkali aku menangis setiap mendengarkan lantunan Al-Qur'an yang ayah baca pada sepertiga malam."


Beranjak ke usia remaja, Habib Abu Bakar meneruskan pendidikan formalnya di Universitas Aden, dengan mengambil prodi Bahasa Arab. Tak lama setelah kelulusannya, negeri Yaman tak bersahabat, sebab banyak terjadi kekacauan dan fitnah yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Menyikapi hal ini, akhirnya beliau beserta keluarga memutuskan untuk hijrah ke negeri Hijaz.


Sesampainya di negeri Hijaz, terbesit dalam hati dan pikirannya untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Al-Azhar. Namun setelah Habib Abu Bakar mengungkapkan hasratnya kepada orang tua, dirinya malah mendapat penolakan, dan mereka menyarankan agar melazimi belajar kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Hingga menjadi murid yang istimewa karena kecerdasan dan kewaroanya. 


Sejak saat itu, Habib Abu Bakar merasakan irtibath (hubungan) yang kuat dengan sang murabbi. Ia memperoleh curahan ilmu lahir sekaligus ilmu batin. Baginya Habib Abdul Qadir Assegaf adalah figur ulama yang patut dijadikan sebagai suri tauladan di akhir zaman.


Setelah menjadi tokoh ternama di jazirah Arab, Habib Abu Bakar kembali ke negeri kelahirannya Hadramaut. Beliau menetap di daerah yang bernama Husaisah, kota mati yang menjadi tempat disemayamkannya kakek moyang para habaib di Hadramaut, ialah Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib.


Habib Abu Bakar mendirikan Rubath (Pondok Pesantren) Al-Muhajir yang kemudian berkembang pesat dan diubah menjadi Universitas Al-Wasathiyah pada tahun 2010. Sebab didirikannya lembaga tersebut semata-mata demi memenuhi perintah Nabi Saw. yang disampaikan kepadanya melalui mimpi.


Popularitas Habib Abu Bakar dan ilmu Fiqh Tahawwulat merupakan hal yang tak asing di kalangan para cendekiawan Islam di Timur Tengah. Fiqh Tahawwulat ialah keyakinan bahwa mengetahui tanda-tanda hari kiamat merupakan rukun agama (ruknu ad-din) ke-4.


Dalam hal ini, beliau bertolak belakang dengan opini mayoritas ulama yang mengatakan rukun agama ada tiga (Iman, Islam dan Ihsan). Meski begitu, ideologi dan ijtihad Habib Abu Bakar tidak menjadikannya keluar dari agama Islam, karena tidak setiap perbedaan dalam syariat menunjukan adanya kekufuran.


Lantas, hal apa yang mendasari Habib Abu Bakar sehingga berpendapat dan mengambil kesimpulan bahwa rukun agama ada 4, dan yang ke-4 ialah mengetahui tanda-tanda kiamat.


Jawabnya ialah karena beliau mengambil dalil dari hadits Jibril, yaitu hadits pertama yang termaktub pada Hadits Arbain Nawawi. Singkatnya, seusai malaikat Jibril bertanya perihal Iman, Islam, dan Ihsan kepada Nabi, Jibril kembali bertanya mengenai kapan hari kiamat. Lalu Nabi menjawab, "Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya!" kemudian Jibril melanjutkan pertanyaannya, "Lantas apakah tanda-tanda dari kiamat itu sendiri?" sontak Nabi pun langsung menjelaskan tanda-tanda kiamat.


Manfaat lahirnya istilah Fiqh Tahawwulat ialah membuktikan kebenaran hadits Nabi perihal munculnya tanda-tanda kiamat di akhir zaman. Fiqh Tahawwulat tidak terlahir begitu saja, namun terlahir setelah mengkaji dan menelaah tasfir ayat-ayat Al-Qur'an, Sunnah Nabi, serta Atsar para sahabat Nabi Muhammad SAW. 


Hadir pada prosesi sholat jenazah Al-Habib Umar bin Hafidz, Syekh Aun Al-Qudumi, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi dan banyak para Habaib dari berbagai Negara lainnya. 


Semoga Allah SWT terima amal dan ibadahnya, ditempatkan di surga tertinggi,serta dijadikan wafatnya menyebabkan turunnya banyak rahmat dan hidayah untuk kita semua. Aamiin​​​​​​​


Penulis : Abdul Mun'im Hasan
​​​​​​​Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×