Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Totalitas Kiai A Bunyamin Ruhiat di Nahdlatul Ulama

Totalitas Kiai A Bunyamin Ruhiat di Nahdlatul Ulama
Pimpinan Ponpes Cipasung, KH A Bunyamin Ruhiat.
Pimpinan Ponpes Cipasung, KH A Bunyamin Ruhiat.

Khidmah KH A Bunyamin Ruhiat di Nahdlatul Ulama tidak perlu diragukan lagi. Saya beberapa kali menyaksikan totalitas beliau di NU secara langsung. Suatu ketika beliau dirawat karena penyakit jantung,  kurang lebih seminggu di Rumah sakit di Tasikmalaya. Beliau memaksakan untuk hadir di acara PBNU di Jakarta walau keadaan belum fit sepenuhnya. 


Saya dan Kang Emon (khadim senior) mendampingi beliau berangkat dari Tasikmalaya. Tiba di Jakarta sekira bakda Isya dan jalanan macet. Kalau melalui jalur mobil, perlu dua jam lamanya untuk bisa mencapai  lokasi. Sementara jika jalan kaki, hanya 10 menit saja. Lantas beliau mengajak saya untuk turun dari mobil.


"Mon, Bapa mah bade mapah kana trotoar sareng Dezan. Emon mah ngondisikeun mobil bae."


"Bapak kiat kitu?"


"Kuat Bapa mah, bilih telat acara NU. Zan, candak koper sareng obat Bapa."


Saya segera berkemas membawa koper dan obat. Lalu kami berjalan di tengah kemacetan jalanan ibu kota. Kami  berjalan di trotoar. Sesekali kami berhenti karena beliau kecapekan. Sesekali beliau memegang dadanya. 


"Zan, liren heula, Bapa karasa deui. Kadieukeun obat." 


Kami berdua berhenti. Saya tentu saja deg-degan takut penyakit beliau kambuh. 


"Bapak masih kiat?" tanya saya.


"Bapa mah kiat. Hayu eta di payun acarana".


Lantas beliau melanjutkan perjalanan sambil memegang dadanya. Akhirnya kami tiba di lokasi dan langsung mendapat perhatian sahabat-sahabat Banser.


"Itu Kiai Abun Cipasung," teriak seorang Komandan Banser.


Kiai Abun yang tadinya jalan sempoyongan, menjadi tegak kembali karena diapit oleh Banser. Rasa sakit tak dihiraukannya sehingga bisa datang di acara tepat waktu.


Kalau ditanya kepada santri Cipasung, apakah pernah didoktrin oleh beliau untuk menjadi NU? Jawabannya pasti tidak. Kami tidak pernah didoktrin dengan adanya materi khusus mengenai NU dan yang lainnya. 


Tapi kami melihat sendiri bahwa akhlak dan perilaku Kiai kami yang sangat bersahaja sehingga membuat kami tertarik kepada NU. NU pelan tapi pasti menjadi bagian dari keseharian kami. 


Berkah dari totalitas beliau di NU, banyak kiai dan ulama datang ke pesantren kami untuk bersilaturahmi. Kami terkadang diajak untuk membantu menyiapkan berbagai acara, baik 
untuk tingkat pengurus cabang, wilayah, bahkan tingkat PBNU. Keterlibatan kami dalam berbagai acara itu, membuat kami jatuh cinta pada beliau dan NU. 


NU adalah ajaran cinta kasih. Kami mengenal NU di Cipasung. Semoga sampai wafat kami akan berjalan pada jalur ini. Tidak pernah keluar dari jalur guru, nyantel terus seperti gerbong kereta dengan lokomotifnya. 


Kami berharap bisa selalu bersama beliau sampai di akhirat kelak. Amin ya Robbal 'Alamin.


Dezan Kurniawan, salah seorang santri Cipasung.

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×