• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Ngalogat

BULAN GUS DUR

Sosok Ibu di Mata Gus Dur

Sosok Ibu di Mata Gus Dur
Hj Solichah dan Gus Dur. (Foto: Istimewa/Desain: M Iqbal)
Hj Solichah dan Gus Dur. (Foto: Istimewa/Desain: M Iqbal)

Oleh Abdullah Alawi
Di dalam catatan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berjudul Seribu Jilid Makna Jejak Ibu, ia menceritakan relasi antara dirinya dengan sang ibu, yakni Nyai Hj Solichah. Ibu Gus Dur ini merupakan putri pendiri NU, KH Bisri Sansoeri, sementara suaminya adalah KH Wahid Hasyim yang merupakan putra dari pendiri NU juga, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. 

Begitu mendalamnya kekaguman Gus Dur pada sang ibu, sampai-sampai ia menyebutnya bagaikan seribu jilid (buku). Itu pun tak akan cukup untuk menjejaki makna perjuangan dan pengabdiannya.

Dalam usia relatif muda, Nyai Solichah ditinggal wafat KH Wahid Hasyim. Di samping mengurusi keluarga, ia kemudian aktif di partai politik. Posisinya ini menjadikannya sebagai pihak yang sering mempertemukan berbagai pihak, mulai pejabat dengan kiai, begitu juga sebaliknya.

Baca juga: Kenangan Tak Terlupakan Gus Dur dengan Ajengan Musa Sukanagara    

Gus Dur mulai menceritakan ibunya dari depolitisasi NU, yaitu sekitar tahun 80-an, di masa akhir kepemimpinan KH Idham Chalid. Kemudian Gus Dur tampil sebagai ketua Umum PBNU  yang baru pada muktamar XXVII di Situbondo 1984. Sejak itulah NU kembali ke khitahnya, sebagai  jam’iyyah, bukan partai politik (1952-1970) atau terlibat menjadi bagian di dalam partai politik Partai Persatuan Pembangunan (1970-1984). 

Meskipun ibunya saat itu merupakan politisi PPP, tapi ia setuju dengan ide Gus Dur itu. “Ibu tidak pernah menghalangi, tapi juga tidak pasrah sikapnya. Ibu saya itu tidak pernah memaksa anak harus begini begitu, dan mempermasalahkan suara-suara tertentu NU tentang saya. Cuma, kalau beliau tanya, pasti minta garis-garis besarnya saja sudah cukup.”  

Baca juga: Gus Dur dan Jurgen Klopp

Menurut Gus Dur, karena berbagai aktivitas, ia dan ibunya jarang bertemu. Namun, sekalinya bertemu, menurut Gus Dur menjadi pertemuan yang berkualitas.  

“Jadi, menurut saya, tidak penting adanya pembagian jam pertemuan orang tua kepada  anaknya. Tapi yang paling penting, anak itu merasa bahwa orang tua itu memikirkan kebutuhannya. Jadi dalam kesulitan apa pun anak boleh datang kepada orang tuanya. Anak saya juga jarang ketemu dengan saya, tapi saya urusi betul apa pun kesulitan keempat anak saya ini. Tidak ada anak-anak ibu yang sampai “lepas”. Itu tidak ada,” kata Gus Dur. 

“Ibu saya tidak pernah bicara, tapi bertindak. Beliau bisa berperan dalam banyak kegiatan, serta mendirikan dan aktif di berbagai yayasan social, termasukk Yayasan Bunga Kamboja (YBK).  Aktivitasnya itu telah berbicara dengan makna demikian dalam, sama saja bicara kepada saya seribu jilid. Beliau lebih suka program yang kecil-kecil daripada yang muluk-muluk.   Hal yang diambil pelajaran dari ibunya adalah rasa tanggung jawab. 

Penulis adalah Pemred jabar.nu.or.id
Artikel ini pernah dimuat dalam NU Online


Editor:

Ngalogat Terbaru