Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Seni untuk Mendidik Akhlak dengan Metode Pendekatan Bahasa

Seni untuk Mendidik Akhlak dengan Metode Pendekatan Bahasa
(Ilustrasi: Freepik.com).
(Ilustrasi: Freepik.com).

Oleh: Hari Susanto
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari rutinitasnya yang cukup padat, mulai dari bangun tidur sampai hendak tidur lagi kita telah banyak mengeluarkan kata-kata atau berkomunikasi dalam arti berbahasa. Entah itu bahasa yang baik (sopan), bahasa yang sedang-sedang saja (bahasa sehari-hari), ataupun bahasa yang kurang baik (kasar), semuanya akan melahirkan sebuah karakter tersendiri bagi pribadi masing-masing yang menuturkannya.

 

Berbicara perihal bahasa adalah hal yang begitu kuat kaitannya dengan akhlak (tingkah laku). Seseorang dikatakan baik apabila ia memiliki tutur bahasa yang baik pula (sopan) terhadap lawan bicaranya, begitupun sebaliknya. Karenanya bahasa merupakan salahsatu faktor yang mempengaruhi baik buruknya tingkah laku seseorang dalam pergaulannya sehari-hari.

 

Bahasa merupakan sarana utama penyampaian informasi dari seorang penutur kepada lawan tutur sehingga akan melahirkan sebuah komunikasi baik secara langsung maupun tak langsung. Sedang, menurut KBBI bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

 

Tentunya bahasa akan mempunyai kekuatan yang amat besar bagi si penutur dalam berkomunikasi dengan lawan tuturnya. Kata-kata yang baik dan tertata akan melahirkan suatu hal yang aestetik atau keindahan bagi para pendengarnya. Sebaliknya, kata-kata atau ucapan yang buruk sudah barang tentu akan mengakibatkan ketidaknyamanan oleh para pendengarnya.

 

Menurut Effendy, dalam bukunya yang berjudul Kesantunan Melayu, “bahasa akan mendatangkan banyak manfaat bila digunakan dengan penuh sopan dan santun. Karena bahasa yang santun akan menyebabkan pembicaraan atau perbincangan atau apapun juga yang menggunakan bahasa dapat disampaikan secara baik dan benar dan diminati oleh pendengarnya.”

 

Pepatah mengatakan, "mulutmu adalah harimaumu." Ungkapan tersebut adalah sebuah peringatan agar manusia senantiasa menjaga dengan baik ucapannya (bahasa). Ketika seseorang tidak berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu, maka hal tersebut akan kembali pada siapa yang mengucapkannya, baik atau buruknya, pahit ataupun manisnya semua yang diucapkan seseorang sejatinya akan kembali pada dirinya sendiri.

 

Subcomandante Marcos dalam deskripsi bukunya yang berjudul Kata Adalah Senjata mengatakan, “Adalah kata-kata yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita. Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat lain. Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian. Berbicara, kita mengobati rasa sakit. Berbicara, kita membangun persahabatan dengan yang lain. Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam. Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita. Inilah senjata kita saudara-saudaraku.

 

Dengan demikian, manusia sebagai makhluk sosial yang tak lepas dari ruang komunikasi hendaknya selalu berupaya untuk selalu berbicara yang baik-baik saja kepada manusia lainnya demi menjaga keharmonisan dan kelestarian budi pekerti yang luhur.

 

Sedangkan, dalam khazanah ilmu-ilmu keislaman khususnya yang dipelajari di berbagai lingkungan pesantren, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berpesan, "Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada berilmu. Kalau hanya berilmu iblispun lebih tinggi ilmunya daripada manusia". Tak heran memang para santri begitu antusias dalam melestarikan budaya ta'dzim ke para kiyai dalam aktifitas mereka sehari-hari, selain daripada menghormati para guru (ahli ilmu),  mereka juga mengharap keberkahan hidup dari Allah SWT. melalui ta'dzimnya tersebut. Nabi Muhammad SAW. bersabda:

 

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ مَيْمُونٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي قَالَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ .
قَالَ أَبِي وَكَانَ حَدَّثَنَا بِهِ وَكِيعٌ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذٍ ثُمَّ رَجَعَ

 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abdurrahman dari Sufyan dari Habib dari Maimun dari Abu Dzar ia berkata, Abdurrahman berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah Saw: “Berilah aku wasiat!” Beliau menjawab, “Bertakwalah pada Allah di manapun kamu berada, iringilah setiap amal buruk dengan amal baik hingga ia dapat menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” Bapakku berkata, “Waki' menceritakannya kepada kami dari Maimun bin Abu Syabib, dari Mu'adz. Kemudian ia meralatnya kembali.” (Sunan Ahmad No. Hadits 20435, Bab Hadits Abu Dzar Al-Ghifari).

 

Beliau juga bersabda:

 

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ

 

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari). 

 

Tentunya kita dapatlah memahami bahwa akhlak sangat dijunjung tinggi oleh Islam dengan hadirnya pimpinan umat, sumber tauladan yang baik, ialah Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, kita sebagai umat beliau sudah semestinya meniru akhlak terpuji daripada yang telah beliau contohkan terutama dalam akhlak berkomunikasi atau berbahasa, sehingga hal tersebut bisa dijadikan alternatif sebagai pendidikan karakter yang mampu mewujudkan kepribadian yang luhur untuk diri kita sendiri melalui bahasa dan tutur kata yang baik (sopan). 

Wallahu A'lam.

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik