Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Nasib Hubungan Interpersonal Masyarakat Sunda Bagian 1: Kegalauan Kultural 

Nasib Hubungan Interpersonal Masyarakat Sunda Bagian 1: Kegalauan Kultural 
Nasib Hubungan Interpersonal Masyarakat Sunda Bagian 1: Kegalauan Kultural (Ilustrasi/Freepik.com)
Nasib Hubungan Interpersonal Masyarakat Sunda Bagian 1: Kegalauan Kultural (Ilustrasi/Freepik.com)

Oleh Herdi As’ari
Hubungan interpersonal merupakan hubungan istimewa di dalam pergaulan manusia. Hubungan ini menyaratkan pertautan hati antar individu; melahirkan relasi sosial yang solid dan mendalam.

 

Masyarakat Sunda –selain sebagai entitas kesukuan– juga merupakan tata nilai laku yang hidup dari generasi ke generasi. Nilai laku tersebut mencerminkan jatidiri dan karakter yang khas orang Sunda. Diturunkan melalui ragam sarana dan media, semisal kesenian, cara berpakaian, filsafat, dan hukum adat.

 

Dari sisi filosofis-simbolis, masyarakat Sunda telah memiliki kekayaan nilai hidup yang lengkap sebagaimana yang dinisbatkan kepada Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi sendiri dalam mitologi masyarakat Sunda merupakan sesosok manusia ideal yang mencerminkan karakter pituin orang Sunda.

 

Dalam kearifannya, Siliwangi telah memberikan rambu-rambu dalam tata-kelola pemerintahan, hubungan dengan alam, dan cara bergaul dengan sesama. Tengok misalnya, etos dalam bekerja guyup sabilulungan yang berarti semangat gotong-royong; welas asih sebagai basis hubungan interpersonal; dan soméah hade ka sémah menjadi wujud etika dalam menghormati dan menghargai tamu atau orang baru.

 

Kegalauan kultural
Namun adakalanya, untuk menurunkan atau mempertahankan suatu kebudayaan tertentu, bukanlah perkara mudah. Sunda sebagai sistem tata nilai pergaulan, sering dianggap usang dan ketinggalan zaman. Tata nilai baru (dari budaya lain) dianggap lebih mewakili eksistensi diri sekaligus bergengsi. Akibatnya, tata nilai lama yang telah membentuk identitas bangsa sekalipun, terkubur sejak dini.

 

Bahasa Sunda sebagai salah satu Bahasa Ibu, tak lagi diminati. Begitupun aneka permainan tradisional, sastra, dan kesenian-kesenian daerah tak lagi mendapat apresiasi.

 

Jawa Barat atau Tatar Sunda secara geografis berdekatan dengan Ibu Kota yang notabene menjadi miniatur Indonesia. Seluruh hajat negara terakomodasi di Jakarta. Hal demikian, berimplikasi pada mobilisasi manusia yang berlainan sistem kepercayaan, kepentingan politik, termasuk kebudayaan, saling berinteraksi di dua wilayah tersebut.

 

Keluar-masuk masyarakat urban memungkinkan terjadinya ketegangan pengaruh kebudayaan, meskipun dalam beberapa kasus terjadi pula akulturasi kebudayaan. Lain dari itu, pengaruh teknologi (technology effect) yang tak diimbangi dengan kesiapan pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatannya, kemudian muncul menjadi masalah baru.

 

Pada awal dekade 90-an, orang bisa menonton televisi secara bersama-sama di suatu tempat, sehingga terjadi kehangatan dalam bertetangga. Namun berbeda dengan sekarang, televisi itu sudah tersedia di setiap ruangan rumah mereka dengan berbagai ukuran. Lahirlah cikal-bakal perilaku individualistik.

 

Perilaku individualistis kian tebal tatkala gadget menjadi kebutuhan ‘dasar’ masyarakat milenial. Orang dapat dengan mudah mengakses segudang informasi selama 24 jam tanpa aturan. Selain itu, ia juga dapat berkomunikasi dengan siapa saja tanpa terjeda oleh sekat ruang dan waktu. Relasi virtual menjadi kian intens, sedangkan relasi sosial semakin melemah.

 

Ketidaktahuan dan sikap acuh generasi sekarang terhadap local knowledge maupun local wisdom berakibat pada tercerabutnya semangat kebangsaan, serta hilangnya jatidiri dari dalam diri mereka. Masyarakat hari ini –tak terkecuali masyarakar Sunda– menggantungkan kebahagiaannya pada aspek materil saja. Padahal, sejak dahulu masyarakat Sunda terkenal dengan budaya ketimurannya yang mampu mengharmoniskan unsur lahiriyah dan batiniyah secara baik: Siger tengah.

 

Persoalan-persoalan di muka tersebut, melahirkan masalah kultural yang kompleks. Masyarakat, terutama generasi muda hari ini merasa asing dengan budayanya sendiri. Mereka kehilangan nilai primordial terpenting dalam hidupnya –galau tak karuan.

 

Penulis adalah pemerhati sosial-budaya dari Tasikmalaya

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×