• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

KOLOM TEH NENG

Islam di Kenya (2) Mombasa, Kota dengan Jejak Islam Tertua

Islam di Kenya (2) Mombasa, Kota dengan Jejak Islam Tertua
Bangunan Mandhry Mosque, mesjid tertua dr abad ke-16 yang kami temui di Old Town, Mombasa (Foto: NYKL)
Bangunan Mandhry Mosque, mesjid tertua dr abad ke-16 yang kami temui di Old Town, Mombasa (Foto: NYKL)

“I want to see mosques in Mombasa,” ucap saya pada kolega saya, Musa, seorang peserta Muslim dari Kenya, dalam sebuah obrolan santai sambil menikmati kudapan dan merasakan semilir angin pantai di kafe hotel tempat kegiatan kami, Annual Reflection Meeting 2023, berlangsung.
 

“There is a lot of mosques here, a thousand,” kata Musa. Saya terbelalak mendengar penjelasannya, terlebih ketika ia menunjukkan data jumlah mesjid di wilayah kota-kota pantai atau yang sering disebut coastal cities. Kebetulan Musa bekerja sebagai Dewan Mesjid yang bertugas mendata jumlah mesjid yang dimiliki individu atau komunitas Muslim. 


Dari data yang  ditunjukkan Musa, Mombasa adalah kota pantai dengan jumlah mesjid terbanyak ketiga, setelah Lamu sebanyak 1000 mesjid dan Kwale sebanyak 800 mesjid. Jumlah mesjid di Mombasa sebanyak 650 buah. Total jumlah mesjid yang berada di wilayah-wilayah pantai itu sejumlah 3650 buah, yang tersebar di enam county (setingkat provinsi) di Kenya. Dengan jumlah masjid sebanyak itu, bangunan masjid dapat dengan mudah ditemukan. Di Kenya, kota-kota pantai menjadi pusat penyebaran Islam di masa lalu, sehingga penduduk muslim di kota-kota tersebut jumlahnya cukup besar. 
 

Mombasa adalah kota yang memiliki jejak sejarah yang menarik. Memandang kota ini, dengan bangunan-bangunan tua di dalamnya, seperti melihat penjalanan panjang sebuah peradaban di negara Afrika tersebut. Konon, kota ini telah berdiri sejak 900 M. Sejak lama, ia telah menjadi pusat pedagangan antar-bangsa, yang dikenal dunia, melalui pelabuhan-pelabuhannya. 


Al-Idrisi, seorang ahli Geografi dari Arab pernah menuliskan kota ini di bukunya pada tahun 1151. Sarjana Muslim terkenal lainnya, seorang traveller, Ibnu Batutah juga pernah menyinggahi kota ini dan menceritakannya dalam bukunya “The Travels”. Ia menggambarkan penduduk Mombasa sebagai penganut Syafi’i yang taat, saleh, dan terpercaya, serta memiliki mesjid dari kayu yang dibuat dengan sangat mahir. Mesjid batu tertua di kota itu, Mnara, dibangun tahun 1300. Mesjid lainnya, Mandhary Mosque yang dibangun tahun 1570 memiliki menara dengan arsitektur yang khas, arsitektur Swahili dengan nuansa Arab. 


Untuk menuju Mombasa, dari kota Nairobi dapat dicapai melalui darat dengan menggunakan bis atau mobil pribadi dengan waktu tempuh sekitar 8 jam, dengan kereta fast train sekitar 4-5 jam, atau dengan pesawat bisa ditempuh sekitar 45 menit. Sebenarnya, jika menyukai perjalanan, menggunakan kereta lebih menyenangkan, karena dapat menikmati pemandangan daratan yang indah, terutama karena jalur kereta melewati National Park-nya Kenya. Dari jendela kereta, jika beruntung, di kejauhan kita dapat melihat gajah, harimau, jerapah, gerombolan kuda, kerbau, dan binatang-binatang lainnya berkeliaran di alam terbuka, yang merupakan wilayah National Park. 


Berada di tepian Samudra Hindia, Mombasa adalah kota pantai yang indah. Kota terbesar kedua setelah Nairobi. Pada masa penjajahan Inggris, Mombasa pernah menjadi ibukota, sebelum berpindah ke Nairobi. Karenanya sejumlah bangunan pemerintahan, termasuk house of the state ada di Mombasa. 


Sebagai kota pelabuhan yang besar, yang menarik dari Mombasa adalah jejak Islamnya yang sangat kental. Diperkirakan Islam telah masuk ke kota itu sejak abad 8 M melalui para pedagang Arab. Islam pernah mendominasi wilayah itu, kemudian Portugis merebutnya. Para penguasa Arab, Turki, Portugis, dan Persia silih berganti menguasai kota itu. 


Sebenarnya, saat ini, Islam bukanlah mayoritas di kota Mombasa, jumlahnya sekitar 41% atau sekitar 451.000 orang. Akan tetapi, karena jejak historisnya yang kental dengan Islam, membuat suasana Islam dapat dengan mudah dirasakan. Dengan kata lain, Islam memiliki pengaruh yang kuat di kota itu. 


Konon, nama Mombasa sendiri berasal dari bahasa Arab “Manbasa.” Di kota itu, kita dapat menemukan banyak komunitas Arab. Kami sempat berkunjung ke sebuah wilayah bernama Kota Tua (Old Town) yang mayoritas penduduknya adalah komunitas Arab. Mengunjungi daerah itu serasa berada di Timur Tengah. Selain dari wajah mereka, benda-benda yang dipajang, hingga makanan-makanan yang disajikan di restoran pun khas Timur Tengah. Saat kami berpapasan, mereka pun menyapa kami, “Assalamualaikum."


Neneng Yanti Khozanatulahpan, pengurus PW Fatayat NU Jabar, staf pengajar ISBI Bandung.


Editor:

Ngalogat Terbaru