• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Haji, Tarekat dan Gerakan Kemerdekaan di Abad 19 dan 20

Haji, Tarekat dan Gerakan Kemerdekaan di Abad 19 dan 20
Ilustrasi. (Foto/Istimewa)
Ilustrasi. (Foto/Istimewa)

Allah, Allah, Allah! Tiadalah hendak dikabarkan bagaimana kesusahannya dan bagaimana besar gelombangnya, melainkan Allah yang amat mengetahuinya. Rasanya hendak masuk ke dalam perut ibu kembali; gelombang dari kiri lepas ke kanan dan dari kanan lepas ke kiri. Dan segala barang-barang, peti-peti dan tikar berpelantingan... Tiadalah di dalam fikiran selain mati. Maka hilang-hilanglah kapal sebesar itu dihempaskan gelombang.


Tulisan di atas adalah bagian dari tulisan Abdullah Kadir Munsyi, beliau bercerita tentang berbahaya dan mencekamnya perjalanan naik haji dengan kapal layar. Abdullah adalah tokoh sastra Melayu modern, naik haji tahun 1854.


Sebelum ada kapal api, perjalanan haji dilakukan dengan kapal layar yang sangat tergantung musim. Mereka banyak yang menumpang kapal dagang, dan ini berarti terpaksa harus sering pindah kapal dan singgah di pelabuhan, di antaranya: Pelabuhan Aceh, India, Hadramaut (Yaman) atau ada yang langsung ke Jeddah. Perjalanan ini bisa memakan waktu setengah bulan atau lebih sekali jalan.


Di perjalanan mereka harus berhadapan dengan bahaya. Ada yang kapalnya karam, tenggelam, dirampok bajak laut, terdampar dipulau asing. Ketika sampaipun di tanah Hijaz kadangkala berhadapan dengan perampok, wabah penyakit dan kesulitan lainnya. Perjalan Haji saat itu adalah perjalanan sangat berat, belum lagi kondisi Nusantara dalam kondisi dijajah Belanda.


Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, jumlah jamaah haji dari Nusantara berkisar antara 10 dan 20 persen dari seluruh Haji asing. Dasawarsa 1920-an sekitar 40 persen haji berasal dari Nusantara. Dan jumlah pemukim asing di Mekkah, orang 'jawah' (Asia Tenggara) merupakan salah satu kelompok terbesar. 


Mekkah menjadi pusat berkumpulnya pelajar dari seluruh dunia, kiblat, pusat kosmis, pusat keilmuan dan legitimasi politik. Bahkan sebelum abad ke-19 dan ke-20, raja-raja Jawa seperti Banten dan Mataram tahun 1630-an mengirim utusan ke Mekkah. Beberapa tahun kemudian tahun 1674, putra Sultan Ageng Tirtayasa, Abdul Qohar (Sultan Haji) naik haji.


Di antara ulama terdahulu yang yang naik haji sekaligus mencari ilmu di antaranya: Syeikh Yusuf Makasar berangkat tahun 1644 dan kembali ke Nusantara 1670. Beliau belajar kepada banyak ulama besar terutama ulama Tasawuf seperti Syeikh Ibrahim Al-Kurani. Beliau pulang ke Nusantara menyebarkan Tarekat Khalwatiyah dan menjadi penasihat Sultan Ageng Tirtayasa dan ikut melawan Belanda sampai akhirnya ditangkap dan dibuang ke Seylon (Sri Langka).


Ulama lainnya yang menetap di Mekkah adalah Abd Al-Ra'uf Singkel guru Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan penyebar Tarekat Syattariyah, Syeikh Abd Al-Samad Falimbani. Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Mahfudz Termas dan Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tercatat menjadi pengajar di Mekkah dan melahirkan banyak murid yang menjadi penggerak Islam di Asia dan Nusantara.


Di tanah Arab, para haji dari Nusantara bertemu saudara seiman dari seluruh dunia, banyak belajar pada guru-guru yang sama, dan dengan demikian mereka mengetahui perkembangan dan gerakan di negara-negara Muslim lainnya. Dari Zawiyah tarekat para Syekh mengajarkan ilmu agama dan bagaimana menjadi inspirasi bagi perlawanan terhadap penindasan Penjajah demi menuju Kemerdekaan.


Pelajar Nusantara dari berbagai daerah: Jawa, Aceh, Minangkabau, Kalimantan, Sulawesi, Nusa tenggara, Maluku, Semenanjung Malaya, mereka bergaul, saling tukar informasi dan pengetahuan. Mekkah menjadi tempat pemersatu  pelajar Nusantara dan Dunia. Mekkah menjadi pemantik Kemerdekaan di setiap penjuru negara Muslim yang dijajah.


Bahasa Melayu, sebelum Sumpah Pemuda sudah digunakan oleh pelajar Nusantara di Mekkah. Mekkah saat itu bukan hanya sebagai tujuan hajian semata, Mekkah menjadi pusat pertukaran informasi keadaan di setiap negara Muslim. Dan menjadi pemicu semangat Kemerdekaan. Seperti tulisan saya sebelumnya yang mengisahkan Peran Hadratusyekh Hasyim Asyari, bagaimana beliau membangun hubungan dan korespondensi dengan tokoh ulama dunia sepulangnya dari Mekkah.


Belanda mencatat banyak orang Muslim Nusantara yang ke Mekkah  sekitar tahun 1853 sampai 1858, ternyata banyak jamaah yang tidak kembali ke Nusantara lebih dari setengahnya, mungkin banyak faktor yang menyebabkan mereka tidak kembali pada tahun itu. Kemungkinan, banyak dari mereka menetap dan belajar di Mekkah, selain dari faktor lain seperti meninggal.


Berangkat dan Kepulangan Haji yang dicatat Belanda antara Tahun 1853-1858.


Tahun 1853 : Berangkat  1129, pulang 405. 
Tahun 1854: Berangkat 1448, pulang 527. 
Tahun 1855: Berangkat 1668, pulang 808. 
Tahun 1856: Berangkat 2641, pulang 713. 
Tahun 1857: Berangkat 2381, pulang 1431. 
Tahun 1858: berangkat 3718, pulang 1710.


Mungkin, naik haji sekarang telah menyempit fungsinya, yaitu hanya menunaikan Rukun Islam yang ke-5, atau ibadah saja dan diantaranya ada yang menjadi simbol status sosial. Bagi setiap pribadi itu penting, tetapi tidak lagi bagi motor penggerak proses islamisasi Indonesia. 


Jaman telah berubah, informasi mudah diakses lewat internet. Rasa simpati dan bersilaturahmi bisa terbangun lewat media, lokal atau internasional. Namun, pastinya berhubungan langsung atau bertatap muka langsung, pasti memberikan kesan yang lebih kuat.
Apalagi dipusat kota Islam, Mekkah dan Madinah. 


​​​​​​​Nasihin, Sekretaris Lesbumi PWNU Jawa Barat

Referensi: 
Martin Van Bruinessen, 1995. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat


Ngalogat Terbaru