Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Jadi Tuan Rumah Rakenas PBNU, Berikut Profil Singkat Ponpes Cipasung

Jadi Tuan Rumah Rakenas PBNU, Berikut Profil Singkat Ponpes Cipasung
Sumber Foto: IG @ppcipasung.
Sumber Foto: IG @ppcipasung.

Jakarta, NU Online Jabar
Rapat gabungan syuriah-tanfidziyah yang dilakukan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Rabu (9/3) lalu di kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Bogor  menetapkan Pondok Pesantren Cipasung Kabupaten Tasikmalaya dipilih menjadi tuan rumah pagelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Pengukuhan pengurus lembaga serta Badan Khusus PBNU yang dimulai dari Kamis-Jumat (24-25/3). Pesantren tersebut terletak di Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.


Dalam sejarah NU, Pesantren Cipasung ini tercatat pernah menjadi tuan rumah Muktamar ke-29 NU, sebuah forum musyawarah tertinggi NU. Kegiatan ini berlangsung pada 1-5 Desember 1994.


Salah seorang penulis buku Ajengan Cipasung: Biografi KH Moh Ilyas Ruhiat (2021), Iip D Yahya, menyebutkan dalam bukunya bahwa Pondok Pesantren Cipasung ini didirikan oleh KH Ruhiat secara resmi pada tahun 1932, setahun setelah ia menghuni kampung tersebut. Ia tinggal bersama beberapa santri yang dititipkan gurunya, Ajengan Cilenga.


Kiai yang dikenal dengan sebutan Ajengan Ruhiat tersebut, memimpin pesantren ini sejak pendiriannya hingga wafatnya pada 28 November 1977. Tongkat estafet kepemimpinan pesantren ini dipasrahkan ke putranya, yakni KH Moh Ilyas Ruhiat (1934-2007) atau yang akrab dikenal dengan sebutan Ajengan Cipasung, seperti yang dilansir dari nu.or.id


Ajengan Cipasung ini memimpin pesantren peninggalan ayahnya selama 30 tahun, yakni dari tahun 1977 hingga 2007. Ia wafat pada 18 Desember 2007.


Ia juga pernah memimpin organisasi masyarakat Islam terbesar, NU. Ia terpilih sebagai Rais Aam PBNU pada Musyawarah Nasional (Munas) Lampung tahun 1992 meneruskan KH Achmad Shiddiq. Ia terpilih Kembali sebagai Rais Aam pada Muktamar Ke-29 NU yang digelar di pesantren yang diasuhnya, Cipasung, pada tahun 1994.


Pada Muktamar ke-30 NU Tahun 1999 di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, tongkat estafet kepemimpinan NU dilanjutkan oleh KH MA Sahal Mahfudz, Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah.


Sepeninggal Kiai Ilyas Ruhiat, Pesantren Cipasung dipimpin oleh KH Dudung Abdul Halim hingga tahun 2012. Sejak 2012 sampai saat ini, Pesantren Cipasung dipimpin oleh KH Abun Bunyamin Ruhiat, salah seorang Rais Syuriyah PBNU.


Para santri di Pesantren Cipasung tidak saja belajar mengaji mengenai pengetahuan keagamaan saja. Mereka yang berjumlah ribuan itu juga dibekali dengan pendidikan formal, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar (ibtidaiyah), pendidikan menengah pertama (tsanawiyah), pendidikan menengah atas (aliyah), hingga perguruan tinggi dengan beragam jurusan, mulai dari bidang keagamaan, ekonomi, hingga teknologi.


Editor: Muhammad Rizqy Fauzi​​​​​​​

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×