• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Sabtu, 20 April 2024

Kuluwung

Catatan Perjalanan (1): Tetap Sabar dan Berakhlak dalam Perjalanan

Catatan Perjalanan (1): Tetap Sabar dan Berakhlak dalam Perjalanan
perjalanan (Ilustrasi: Freepik)
perjalanan (Ilustrasi: Freepik)

Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda:


السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ... 


Safar (bepergian) itu bagian dari azab. (HR.Bukhori Muslim) 


Apa maksudnya? Tentu saja tidak dapat diartikan bahwa seseorang yang melakukan perjalanan akan di-azab, apalagi perjalanan suci Ibadah Umroh. 


Maksudnya, dalam lanjutan hadits tersebut dijelaskan, seseorang yang melakukan perjalanan akan tersiksa (terganggu) makan, minum, dan tidurnya. 


يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ


Apalagi jika kita bayangkan konteks waktu hadits tersebut, dimana Nabi Nabi SAW dan para Sahabat melakukan perjalanan melewati padang pasir, mendaki gunung dengan unta dengan guyuran sinar matahari yang panas menyengat.


Berbagai kendala dan kesulitan yang kita temukan dan hadapi selama perjalanan Umroh kali ini, tidaklah "seberapa" dibanding perjalanan Nabi SAW dan para Sahabat kala itu. 


Maka, bersabarlah, hadapi berbagai kendala yang kita hadapi dengan senyuman dan lapang dada, tidak emosional, apalagi saling menyalahkan. 


Yakinlah bahwa setiap ada satu kesulitan, akan kita temukan banyak kemudahan. Sebagai janji Allah SWT dalam al-Qur'an Surah al-Insyiroh:
 

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا


Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.


Bersabarlah ketika kita menempuh perjalanan. Apalagi perjalanan Umroh. 


Ibnu Qudamah al-Maqdisi, seorang Ulama bijak pernah mengingatkan:

 

السفر يكشف معادن الناس ويظهر أخلاق الرجال

 

Sebuah perjalanan itu menyingkap sifat asli manusia dan menampakkan akhlak seseorang. 
 

وإنما سمى السفر سفراً، أنه يسفر عن الأخلاق ... 
 

Sesungguhnya dikatakan safar (as-safaru)–safran karena perjalanan “menampakkan perilaku (akhlak) seseorang (dalam perjalanan. 


ومن كان في السفر آذى هو مظنة الضجر حِسنَ الخلق، كان في الحضر أحسن خلقاً .وقد قيل : إذا أثنى على الرجل معاملوه في الحضر ورفقاؤه في السفر فلا تشكوا في صلاحه 

 

Barangsiapa ketika sedang melakukan perjalanan mengalami kesusahan dan keletihan (namun) ia tetap berakhlak baik, maka ketika dia sedang tidak melakukan perjalanan, (dipastikan) ia juga berakhak baik. Sehingga dikatakan, jika seseorang dipuji perilakunya ketika tidak melalukan perjalanan dan dipuji perlikunya oleh para teman seperjalanan, maka janganlah dilalukan kebaikannya. 


Maka, tidaklah mengherankan jika--dalam suatu riwayat diceritakan, ketika seseorang "merekomendasikan" temannya kepada  sahabat Umar Ibn Khattab RA, beliau akan menyelidik bertanya:  


 هل سافرت معه ؟  وإن قال لا , فقال لا علم لك به...

 

"apakah engkau pernah melakukan perjalanan bersamanya? Jika jawabannya belum pernah, maka Sahabat Umar akan mengatakan: "engkau belum tahu banyak tentang orang itu". 


Sebuah perjalanan sejatinya adalah ujian dan pembuktian. Kita seorang penyabar dan berakhlak baik, atau sebaliknya. 


Wallahu'alam.. 
Dubai, 08 Sya'ban 1445 H
21 Februari 2024
 

Tatang Astarudin, Pimpinan Ponpes Mahasiswa Universal Kota Bandung
 


Kuluwung Terbaru